SEMARANG, Harianmuria.com – Suhu udara di Kota Semarang mencapai 31,7 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir. Hal ini membuat pengelola Semarang Zoo mengambil langkah khusus untuk melindungi satwa dari dampak cuaca panas.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni mengurangi jadwal animal show, terutama pada siang hari. Kebijakan tersebut diterapkan untuk membatasi aktivitas satwa sekaligus mencegah risiko heat stroke akibat paparan suhu tinggi.
Direktur Taman Satwa Semarang, Bimo Wahyu Widodo, mengatakan kondisi setiap satwa terus dipantau dengan melihat perubahan perilaku maupun aktivitas di dalam kandang.
“Untuk jadwal animal show juga dikurangi untuk mencegah aktivitas berlebih satwa pada siang hari dan mencegah terjadinya heat stroke,” kata Bimo, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurutnya, setiap jenis satwa memiliki kemampuan berbeda dalam beradaptasi terhadap kenaikan suhu. Sehingga, penanganan juga disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing satwa.
Bimo memastikan hingga saat ini belum ditemukan penurunan nafsu makan pada satwa di Semarang Zoo. Namun, sejumlah langkah antisipasi telah dilakukan, salah satunya dengan memastikan ketersediaan air minum yang tetap segar.
“Air minum kepada satwa diganti setiap tiga jam agar air minum tidak panas karena terkena sinar matahari,” ujarnya.
Upaya menjaga suhu tubuh satwa juga dilakukan melalui pemberian pakan yang disesuaikan dengan jenisnya. Satwa primata mendapatkan es buah, sementara satwa karnivora diberi daging beku. Sedangkan satwa herbivora, es batu dimasukkan ke dalam wadah minum.
Suplementasi vitamin juga tetap diberikan setiap pekan untuk membantu menjaga kondisi kesehatan satwa. Perlakuan khusus juga diterapkan pada satwa yang lebih rentan terhadap panas.
Untuk kandang gajah, pihaknya menambah perlengkapan sprinkler atau shower yang dinyalakan pada siang hari. Area kandang juga disemprot air secara berkala untuk membantu menurunkan suhu.
Sementara burung secara berkala dimandikan atau disemprot air untuk mengurangi dampak panas di dalam kandang.
Bimo mengatakan petugas juga melakukan deteksi dini terhadap gejala heat stroke. Perubahan perilaku menjadi salah satu indikator yang diperhatikan.
“Kalau satwa terlihat lebih sering diam atau menunjukkan frekuensi napas yang lebih cepat, petugas akan segera memberikan tindakan,” jelasnya.
Selain penanganan langsung terhadap satwa, Semarang Zoo juga melakukan pembenahan lingkungan. Penataan vegetasi terus dilakukan dengan merapikan pohon dan menanam pohon baru di sejumlah area satwa.
Pengelola juga menyiapkan konsep kandang yang lebih adaptif terhadap perubahan cuaca. Nantinya, setiap satwa direncanakan memiliki kandang tidur tertutup sebagai tempat berlindung dari panas maupun hujan.
“Kandang tidur tertutup diharapkan bisa menjadi tempat satwa berlindung ketika kondisi panas ataupun hujan, sehingga satwa tidak terpapar langsung dengan cuaca di lingkungan,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz/Lingkar Network
Editor: Utia Lil











