BLORA, Harianmuria.com – Pemerintah pusat sedang merekrut Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang ditempatkan di daerah. Manajer mendapatkan tugas untuk mampu mengembangkan potensi desa, membuka peluang usaha, hingga memperluas pemasaran produk masyarakat.
Salah satu Manajer Kopdes Merah Putih Desa Sarirejo, Kecamatan Bogorejo, Kabupaten Blora, Dwi Febri Irawan, mengaku tugas manajer memiliki peran penting dalam menggerakkan bisnis koperasi ditingkat desa.
Dwi mengatakan potensi ekonomi desa perlu dipetakan dan dikembangkan menjadi unit usaha yang menguntungkan anggota.
“Manajer harus menjadi penggerak bisnis. Bukan hanya mengurus administrasi koperasi, tetapi mampu membaca potensi desa dan mengembangkannya menjadi peluang usaha,” kata Febri, Senin, 5 Oktober 2026.
Menurutnya, potensi tersebut bisa berasal dari sektor pertanian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Koperasi dapat mengembangkannya melalui berbagai usaha, mulai dari penyediaan sarana produksi pertanian, pemasaran hasil panen, distribusi kebutuhan pokok, hingga pengolahan pascapanen.
Febri mencontohkan, Kopdes Merah Putih Desa Sarirejo mulai terlibat dalam rantai pasok kebutuhan pangan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.
Pada tahap awal, koperasi memasok satu ton beras dari Bulog dan 30 dus minyak goreng merek Fortune untuk kebutuhan SPPG Sarirejo.
“Pertama, Kopdes mengambil beras dari Bulog sebanyak satu ton dan minyak goreng Fortune sebanyak 30 dus untuk disalurkan ke SPPG Sarirejo. Kebutuhan minyak goreng Fortune sekitar empat sampai lima karton per hari,” ujarnya.
Untuk pasokan berikutnya, koperasi juga mendapatkan barang dari pihak lain, termasuk Agrinas. Distribusi dilakukan sesuai mekanisme kerja sama dan pelaporan yang telah ditetapkan.
Menurut Febri, keterlibatan tersebut menunjukkan koperasi memiliki peluang menjadi penghubung antara pemasok dan kebutuhan ekonomi di desa.
Namun, peluang usaha Kopdes tidak hanya terbatas pada distribusi barang. Koperasi juga bisa membantu petani dan pelaku UMKM memasarkan produknya.
“Kalau masyarakat mampu memproduksi tetapi kesulitan memasarkan, koperasi bisa menjadi penghubung dengan pasar. Dengan begitu, posisi tawar anggota juga bisa lebih kuat,” jelasnya.
Dia mencontohkan, koperasi di desa yang memiliki banyak petani dapat membantu menyediakan pupuk, mengonsolidasikan kebutuhan produksi, menampung hasil panen, hingga mencari pembeli.
Dengan cara itu, koperasi tidak hanya terlibat dalam proses produksi, tetapi juga pemasaran. Nilai tambah dari kegiatan ekonomi diharapkan dapat lebih banyak berputar di desa.
Lebih lanjut, Febri mengatakan kemampuan membaca peluang usaha harus diimbangi dengan kecakapan mengelola keuangan. Manajer perlu memahami penyusunan anggaran, arus kas, pencatatan transaksi, pengendalian biaya, hingga kelayakan usaha.
Kemampuan membangun kemitraan juga diperlukan. Kopdes perlu menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, BUMN, BUMD, perbankan, distributor, dan pembeli hasil produksi atau offtaker.
“Manajer harus mampu membangun jaringan. Koperasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa kemitraan,” katanya.
Selain itu, pengelolaan koperasi perlu didukung kemampuan digital, terutama untuk pencatatan keuangan, pengelolaan persediaan barang, pembayaran, pemasaran, dan pelaporan.
Dari sisi sumber daya manusia, Febri menilai manajer Kopdes tidak cukup hanya mengandalkan latar belakang pendidikan. Kemampuan manajemen, bisnis, kepemimpinan, komunikasi, serta pemahaman prinsip koperasi juga diperlukan.
Febri sendiri telah mengikuti pelatihan dan pendidikan manajer Kopdes selama sekitar satu setengah bulan di Jakarta, mulai 15 Juni hingga 31 Agustus.
“Yang paling penting adalah kombinasi antara kemampuan bisnis dan pemahaman terhadap prinsip koperasi, serta integritas dalam mengelola usaha dan keuangan,” ujarnya.
Ia berharap Kopdes Merah Putih dapat berkembang menjadi lembaga ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi anggota dan masyarakat, bukan sekadar menjalankan fungsi administratif.
Menurutnya, potensi desa perlu dihimpun melalui koperasi, dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, kemudian dipasarkan agar menghasilkan transaksi dan manfaat ekonomi bagi anggota.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











