BLORA, Harianmuria.com – Terminal Bus Tipe B Gagak Rimang Blora mulai sepi penumpang. Sebagian besar penumpang angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) kini memilih naik dan turun bus di kawasan eks Stasiun Kereta Api Blora.
Kondisi ini membuat aktivitas angkutan AKDP di terminal yang dikelola Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tersebut terbilang minim. Padahal, tersedia ratusan kursi penumpang dari sejumlah bus yang beroperasi.
Kepala Balai Pengelola Sarana dan Prasarana Perhubungan (BPSPP) Wilayah II Pati, UPT Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Jawa Tengah, Bangun Adi, mengatakan jumlah penumpang AKDP yang naik dan turun di Terminal Gagak Rimang hanya berkisar tiga hingga delapan orang per hari.
Menurutnya, para penumpang lebih memilih menunggu bus di kawasan Blora Kota, khususnya eks Stasiun Lama. Kebiasaan tersebut membuat para sopir bus ikut memilih lokasi itu sebagai tempat menunggu penumpang.
“Para penumpang AKDP lebih memilih naik dan turun di Blora Kota atau Stasiun Lama. Kami sudah menyampaikan kepada pengusaha AKDP, namun para pengemudi bus AKDP lebih memilih di Stasiun Lama karena penumpang ada di sana,” ungkap Bangun, Selasa, 29 September 2026.
Saat ini hanya ada dua trayek AKDP yang masih masuk ke Terminal Gagak Rimang, yakni Blora-Rembang dan Blora-Purwodadi-Solo. Namun, layanan trayek Blora-Purwodadi-Solo sudah jarang beroperasi.
Berdasarkan data hingga 28 September 2026, tercatat 989 bus AKDP masuk ke terminal. Jumlah tersebut menyediakan 99.057 kursi penumpang. Namun, penumpang yang terlayani hanya 2.586 orang atau sekitar 2,6 persen dari total kapasitas kursi yang tersedia
“Untuk yang Blora-Purwodadi-Solo sudah jarang,” bebernya.
Kondisi berbeda terjadi pada angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP). Jumlah bus AKAP yang masuk ke Terminal Gagak Rimang tercatat lebih banyak dibandingkan AKDP.
Sepanjang 2026, sebanyak 3.698 bus AKAP tercatat mampir ke terminal dengan kapasitas 133.312 kursi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.519 penumpang tercatat menggunakan layanan AKAP atau sekitar 5,64 persen dari total kapasitas kursi.
Bangun mengatakan, jumlah penumpang AKAP masih bisa mencapai 50 orang per hari. Mayoritas merupakan penumpang yang hendak bepergian ke luar daerah.
Menurutnya, kondisi tersebut terjadi karena bus AKAP tidak menunggu penumpang atau ngetem di kawasan eks Stasiun Lama. Dengan demikian, penumpang masih mengandalkan Terminal Gagak Rimang sebagai tempat keberangkatan.
Sebaliknya, keberadaan angkutan pedesaan (angkudes) yang tidak terintegrasi dengan terminal turut menjadi persoalan. Sebab, angkudes juga lebih memilih mangkal di kawasan eks Stasiun Lama.
“Angkudes di Blora juga sama, lebih suka di Stasiun Lama. Jarang masuk ke terminal,” katanya.
Ia berharap masyarakat Blora dapat kembali naik maupun turun melalui terminal, sehingga Terminal Gagak Rimang dapat kembali ramai.
“Dari naik turun penumpang dan keluar masuk bus, ekonomi di sekitar terminal dapat kembali bergerak,” harapnya.
Sementara itu, salah satu sopir bus AKDP di Blora, Agil, mengungkapkan kebiasaan sopir menunggu penumpang di eks Stasiun Lama sudah berlangsung lama karena lokasi tersebut lebih dikenal masyarakat.
Menurutnya, banyak warga yang masih menganggap kawasan stasiun lama sebagai tempat utama untuk menunggu bus. Kondisi itu membuat sopir berupaya memenuhi kursi kosong sebelum melanjutkan perjalanan ke kota tujuan.
“Banyak penumpang yang lebih nyaman menunggu di stasiun. Angkudes juga banyak yang menurunkan penumpang di stasiun. Selama ini penumpang saya juga lebih suka turun di stasiun daripada di terminal,” bebernya.
Agil menambahkan, eks Stasiun Lama dinilai lebih strategis karena masih terjangkau angkutan pedesaan maupun keluarga yang hendak menjemput penumpang.
Sebaliknya, jarak Terminal Gagak Rimang yang relatif jauh dari pusat kota serta minimnya angkutan lanjutan membuat sebagian penumpang kebingungan saat tiba di terminal.
“Angkutan dalam kota itu banyak yang di stasiun. Kalau di terminal jaraknya jauh dan tidak ada angkudes. Jadi penumpang juga bingung,” pungkasnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Ulfa











