SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menyalurkan bantuan droping air bersih ke wilayah terdampak kekeringan hingga akhir bulan September ini.
Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen atau Gus Yasin mangatakan dampak kemarau hingga September 2026 meluas sehingga pemerintah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Nasional Bencana (BNPB) untuk modifikasi cuaca.
“Kami hari ini bersama-sama dengan stakeholder yang ada di Jawa Tengah untuk menyalurkan air bersih. Sekarang juga kekeringan sudah mulai meluas termasuk yang ada di Banyumas itu perluasanya luar biasa. Maka dari itu kita mengajukan ke BNPB terkait dengan modifikasi cuaca,” ujar Wagub Jateng pada Senin, 28 September 2026.
Pemprov Jateng juga secara aktif bekerja sama dan mengusulkan dukungan kepada pemerintah pusat untuk pembangunan infrastruktur strategis seperti bendungan, embung, dan tanggul guna mengatasi dampak kekeringan serta mengendalikan air secara jangka panjang.
“Kami juga mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk percepatan-percepatan pembangunan membikin tanggul atau bendungan-bendungan supaya nanti kalau ada kemarau panjang ya paling tidak bisa kita antisipasi,”katanya.
Selain percepatan pembangunan infrastuktur dan modifikasi cuaca, Wagub Jateng juga mengajak masyarakat untuk melakukan Salat Istisqa yakni salat sunnah muakkadah untuk memohon kepada Allah SWT agar menurunkan air hujan saat terjadi kemarau panjang atau kekeringan.
“Selain itu kami juga mengajak kepada masyarakat untuk kita melakukan sholat Istisqa untuk meminta kepada tuhan supaya air hujan iyu segera diturunkan,” ungkapnya.
Menurutnya, kekeringan turut mempengaruhi stok pangan di Jawa Tengah. Namun ia mengaku dengan sebagian wilayah yang masih dialiri oleh air hujan membuat aktivitas tanam di sejumlah wilayah masih berlangsung.
“Pasti berdampak pada stok pangan. Tapi sebagian masih ada hujan kalau tidak ada hujan sama sekali mereka kan tidak bisa tanam. Kalau untuk komonitas yang paling terdampak hari ini ya kacang-kacangan palawija karena biasanya dikemarau ini palawija,” katanya.
Namun, dirinya memastikan akan tetap ada Surat pengajuan klaim Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) atau asuransi gagal panen diajukan oleh kelompok tani atau petani kepada perusahaan penanggung melalui Dinas Pertanian setempat.
“Asuransi kita ada, untuk gagal panen dari hama hingga bencana kami sediakan,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanggulangan Bencana BPBD Jateng, Alexander Armin Nugroho, mengungkapkan berdasarkan data pada 5 Juni-21 September, kekeringan telah berdampak pada puluhan kabupaten dan kota di Jateng.
“Dampak kekeringan 32 kabupaten/kota, 254 kecamatan, dan 777 desa. Total penerima manfaat distribusi air bersih mencapai 1.340.451 KK/1.867.351 jiwa,” jelasnya.
Ia mengatakan, air bersih yang tersedia 68,9 liter dan yang sudah terdistribusi 62 ribu liter. Sementara sisa air bersih tercatat 35 ribu liter. Distribusi air bersih paling tinggi pada Agustus, yakni 30 ribu liter, sedangkan September 19 ribu liter.
“29 kabupaten/kota juga telah menetapkan status siaga darurat kekeringan 2026,” jelasnya.
Sejumlah wilayah yang telah menetapkan status siaga darurat kekeringan, diantaranya Kabupaten dan Kota Semarang, Klaten, Kudus, Grobogan, Jepara, Cilacap, Banjarnegara, Wonogiri, Banyumas, Kendal, Wonosobo, Kota Solo, Blora, Sukoharjo, Kota Magelang, Tegal, Demak, Brebes, Kebumen, Purbalingga, Pemalang, Batang, Rembang, Pekalongan, Purworejo, Kota Tegal, Boyolali, dan Kota Salatiga.
Jurnalis; Rizky Syahrul
Editor: Ulfa











