SEMARANG, Harianmuria.com – Abrasi dan rob yang terus terjadi wilayah Kecamatan Tugu, Kota Semarang, dinilai mengancam lahan pertanian produktif, yang juga dapat berdampak pada ketahanan pangan di Ibu Kota Jawa Tengah tersebut.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadar Lusman akrab diasapa Pilus, menilai penyelamatan lahan pertanian kini jauh lebih mendesak dibanding sekadar meningkatkan produksi pangan. Menurutnya, tanpa perlindungan terhadap sawah produktif, berbagai program ketahanan pangan akan kehilangan pijakan.
Ia menyoroti kondisi di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, yang disebut mengalami perubahan bentang alam akibat abrasi dan rob. Kawasan yang dulunya merupakan hamparan sawah kini sebagian telah berubah menjadi kawasan mangrove karena terus terendam air pasang.
“Kami sudah mendorong melalui pokok-pokok pikiran DPRD, tetapi itu belum cukup. Harus ada langkah konkret dari dinas dan Pemkot, agar air pasang tidak terus masuk ke area persawahan. Sekarang kondisinya sudah berubah, yang dulu sawah kini menjadi mangrove,” kata Pilus, Rabu, 29 Juli 2026.
Pilus mengingatkan, apabila persoalan tersebut tidak segera ditangani, dalam dua hingga tiga tahun ke depan sebagian besar sawah di kawasan itu berpotensi tidak lagi dapat ditanami.
Sehingga menurunya dampaknya bukan hanya menurunkan produksi pangan, tetapi juga memicu petani melepas lahannya karena sudah tidak lagi produktif.
“Kalau petani sudah tidak bisa menggarap sawahnya, mereka tentu akan memilih menjual lahan. Ketika dibeli pengembang atau pengusaha, ancaman alih fungsi lahan menjadi semakin besar,” ujarnya.
Ia menegaskan, pemerintah perlu memprioritaskan penyelamatan lahan pertanian dengan mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi petani, mulai dari abrasi, rob hingga sistem irigasi.
Menurutnya, Semarang masih memiliki kawasan sawah lestari yang harus dipertahankan sebagai penyangga ketahanan pangan daerah.
Pilus juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media, untuk ikut mengawal keberlangsungan lahan pertanian agar tidak terus menyusut meski regulasi perlindungan lahan sudah tersedia.
“Jangan hanya berbicara soal ketahanan pangan, tetapi lahannya justru dibiarkan rusak. Sawah produktif yang masih tersisa harus benar-benar dijaga,” tegasnya.
Pilus juga menyinggung penggunaan varietas padi biosalin yang mampu tumbuh di lahan terpapar air payau. Namun, menurutnya, beras biosalin hingga kini belum menjadi pilihan masyarakat karena dinilai memiliki karakter rasa yang berbeda dibanding beras pada umumnya.
“Mungkin karena kita belum terbiasa menggunakan atau makan beras dari padi biosalin jadi belum cocok, sehingga minat masyarakat kurang,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang, Safrinal Sofaniadi, mengatakan pemerintah terus memperkuat upaya pengendalian abrasi melalui penanaman mangrove dan cemara laut di kawasan pesisir.
“Penanaman mangrove dan cemara laut terus kami intensifkan sebagai bagian dari upaya mengurangi abrasi. Harapannya kawasan tambak maupun sawah tidak semakin terdampak,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz
Editor: Tia











