PATI, Harianmuria.com – Misteri batu berukuran sekitar satu meter dengan diameter 35 centimeter di tengah hamparan sawah Desa Sinomwidodo, Kecamatan Tambakromo, mulai terjawab.
Warga selama ini mengenalnya sebagai “batu kutukan”, namun dari penelitian arkeologi mengarah pada dugaan bahwa batu tersebut merupakan Lingga, simbol sakral dalam tradisi Hindu yang menjadi lambang Dewa Siwa dan kesuburan.
Keberadaan batu itu menarik perhatian karena tidak ditemukan Yoni yang menjadi satu kesatuan situs tersebut.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai asal-usul serta sejarah sebenarnya dari situs yang hingga kini masih tertancap di area persawahan.
Sesepuh Desa Sinomwidodo, Rastowo mengatakan batu tersebut telah menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat sejak dirinya masih kecil.
Selama puluhan tahun, warga mempercayai batu itu berasal dari manusia yang dikutuk hingga berubah menjadi batu.
Namun sekitar lima tahun lalu, tim arkeolog dari Semarang melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa batu tersebut merupakan Lingga, bukan batu kutukan seperti yang selama ini dipercaya masyarakat.
“Setelah diteliti arkeolog, ternyata ini adalah Lingga. Hanya saja pasangannya berupa Yoni tidak ditemukan. Kami tidak tahu apakah belum pernah digali atau justru sudah diambil orang sejak lama,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Rastowo, meski mitos mulai terkikis, sebagian masyarakat masih datang ke lokasi untuk berdoa, terutama menjelang hajatan seperti pernikahan maupun khitanan.
Masyarakat meyakini batu tersebut membawa simbol kesuburan dan keberkahan.
Ia berharap hasil penelitian ilmiah dapat mengubah pandangan masyarakat sehingga keberadaan batu tersebut dipahami sebagai peninggalan sejarah, bukan sekadar cerita mistis.
Sementara itu, Kepala Desa Sinomwidodo, Rakimin berharap pemerintah melalui instansi terkait segera melakukan penelitian lanjutan agar status batu tersebut memiliki kepastian ilmiah.
“Kalau memang ini peninggalan zaman kerajaan, tentu kami senang kalau ada penelitian lebih lanjut sehingga sejarahnya menjadi jelas,” paparnya.
Rakimin berujar, kalau nantinya akan dijadikan benda cagar budaya atau dipindahkan ke museum, pihaknya harus membicarakan terlebih dahulu dengan para tokoh dan sesepuh desa.
“Kami tidak bisa melepas sebelum koordinasi dengan tokoh-tokoh yang lain juga,” bebernya.
Hingga berita ini ditulis, batu yang diduga sebagai Lingga tersebut masih berdiri di tengah sawah Sinomwidodo.
Jurnalis: Fahtur Rohman
Editor: Sekar











