REMBANG, Harianmuria.com – Menteri Pendidikan Dasar dan Menangah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti melakukan kunjungan ke Kabupaten Rembang. Kunjungan ini dalam rangka turut memeriahkan HUT Forum Anak Beasiswa (FABs) ke-9 di Rembang, Sabtu, 4 Juli 2026.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Rmebang dalam memajukan daerah melalui sektor pendidikan. Diantaranya dengan menyediakan berbagai program beasiswa seperti Gaspol (Gerakan Anak Sekolah Pol 12 Tahun) dan Satu Desa Satu Sarjana.
Menurutnya, kedua program tersebut merupakan terobosan nyata dalam membuka akses pendidikan tinggi bagi pelajar berprestasi dari keluarga kurang mampu.
Ia menyampaikan, masih banyak anak Indonesia yang memiliki kemampuan akademik baik, namun belum dapat menikmati pendidikan berkualitas karena keterbatasan ekonomi. Sehingga kehadiran program beasiswa dari pemerintah daerah dinilai menjadi solusi penting untuk memperluas kesempatan belajar.
“Program Gaspol dan Satu Desa Satu Sarjana merupakan langkah yang sangat konkret. Pemerintah daerah memberikan dukungan melalui fasilitas dan beasiswa sehingga anak-anak berprestasi yang terkendala biaya tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi,” ujarnya.
Menurutnya, komitmen Pemerintah Kabupaten Rembang tersebut selaras dengan visi pemerintah pusat dalam mencetak sumber daya manusia yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Bupati Rembang Harno memanfaatkan kesempatan bertemu langsung dengan Mendikdasmen untuk menyampaikan sejumlah aspirasi masyarakat di bidang pendidikan.
“Kesempatan itu kami gunakan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat Rembang, terutama terkait revitalisasi sekolah. Selain itu, masih banyak guru tidak tetap (GTT) yang membutuhkan solusi. Dua hal itu menjadi pokok aspirasi yang kami sampaikan,” kata Harno.
Di sisi lain, Wakil Bupati Rembang Hanies Cholil Barro mengungkapkan program Satu Desa Satu Sarjana masih menghadapi tantangan dalam pelaksanaannya. Menurutnya, sejumlah desa belum mampu memenuhi kuota penerima beasiswa karena keterbatasan calon yang memenuhi persyaratan.
“Memang ada beberapa desa yang belum bisa memenuhi target. Ada yang seharusnya dua penerima, tetapi baru satu yang lolos. Bahkan penerima itu juga bukan berasal dari keluarga kurang mampu, karena sekarang penentuannya menggunakan standar desil,” jelas Hanies.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Tia











