DEMAK, Harianmuria.com – Tradisi Grebeg Suro mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Pondok Pesantren Girikusumo, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak.
Grebeg Suro ini dikemas dengan rangkaian kegiatan, dari kirab pusaka, mujahadah 40 kendi yang dibawa pasukan patang puluh, serta sedekah gunungan hasil bumi dan tumpeng yang diperebutkan masyarakat.
Wakil Kepala Pondok Pesantren Girikusumo, Muhammad Hanif Maimun, mengatakan Grebeg Suro merupakan tradisi yang rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pelestarian nilai-nilai keislaman dan budaya yang diwariskan para pendahulu.
“Setiap tahun kami mengadakan kirab pusaka, mujahadah banyu kendi, dan sedekah berupa gunungan hasil bumi serta palawija. Kegiatan ini menjadi bagian dari tradisi yang terus kami lestarikan,” ujarnya, Senin, 15 Juni 2026.
Dalam kirab tersebut, terdapat empat kotak kayu yang dibawa para ahli waris Ponpes Girikusumo. Kotak-kotak tersebut berisi empat pusaka peninggalan para pengasuh terdahulu, yakni KH Muhammad Hadi bin KH Muhammad Tohir, KH Muhammad Zahid bin KH Muhammad Hadi, KH Zaenuri bin KH Muhammad Hadi, dan KH Muhammad Zuhri bin KH Muhammad Zahid.
Hanif menjelaskan, 40 kendi itu memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan perjalanan spiritual dalam Islam. Angka 40 merupakan simbol tirakat atau laku spiritual yang lazim dilakukan selama 40 hari dalam tradisi thariqah.
“Angka 40 kami ambil secara simbolis. Dalam dunia thariqah maupun tradisi Islam, tirakat biasanya dilakukan selama 40 hari. Karena itu, 40 kendi ini menjadi simbol ikhtiar spiritual dan doa bersama,” katanya.
Menurutnya, pelaksanaan Grebeg Suro dari tahun ke tahun tidak mengalami perubahan yang signifikan. Pondok Pesantren Girikusumo tetap mempertahankan pakem yang telah diwariskan para pendahulu, meski terdapat sejumlah penyempurnaan pada aspek teknis pelaksanaan.
Lebih lanjut, Hanif menuturkan bahwa Grebeg Suro tidak hanya menjadi momentum menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga sarana menanamkan nilai-nilai keislaman, penghormatan kepada leluhur, serta rasa nasionalisme kepada generasi muda.
“Kami ingin mengajak masyarakat, khususnya santri, untuk tetap memegang teguh nilai-nilai Islam tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Selain itu, melalui gunungan hasil bumi, kami juga mengajarkan pentingnya rasa syukur kepada Allah SWT,” jelasnya.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk menyaksikan kirab serta rangkaian tradisi tersebut, termasuk saat perebutan gunungan hasil bumi dan tumpeng. Warga meyakini hasil bumi maupun air kendi yang dibagikan membawa keberkahan.
Salah satu warga, Ruwaidah, mengaku hampir setiap tahun mengikuti kegiatan Grebeg Suro. Ia datang untuk mengikuti rangkaian acara sekaligus berharap mendapatkan keberkahan.
“Saya selalu datang kalau ada Grebeg Suro. Tadi dapat nasi dan air kendi. Semoga membawa berkah, diberikan kesehatan dan panjang umur,” katanya.
Jurnalis: M. Burhanuddin Aslam
Editor: Ulfa











