REMBANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Rembang menggenjot penilaian ketangguhan desa dalam upaya mempercepat pembentukan desa tangguh bencana (Destana. Dari total 199 desa yang masuk kategori rawan bencana, baru 33 desa yang telah terbentuk.
Pelaksana Harian (Plh) Bupati Rembang, Hanies Cholil Barro’, mengatakan penilaian dilakukan melalui program Desa Tanggap Bencana dan Penilaian Ketangguhan Desa (PKD).
“Hari ini dilakukan penilaian. Dari 199 desa rawan bencana, baru 33 yang sudah terbentuk. Sisanya kita dorong melalui penilaian ini,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.
Hasil penilaian ketangguhan desa tersebut akan diketahui dalam waktu dekat.
“Hari ini masih proses. Kemungkinan minggu depan sudah keluar hasilnya,” imbuhnya.
Dalam penilaian itu, desa akan dikelompokkan ke dalam tiga level ketangguhan, dari kategori rendah hingga utama. Indikator penilaian mencakup kesiapsiagaan infrastruktur, regulasi di tingkat desa, hingga alokasi anggaran untuk penanggulangan bencana.
“Kalau masih rendah, harus segera dibentuk dan ditingkatkan. Ini soal kesiapsiagaan,” tegasnya.
Hanies menambahkan, target pemerintah daerah dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) adalah seluruh desa rawan bencana dapat terbentuk menjadi desa tangguh dalam kurun waktu 3 sampai 6 tahun ke depan.
“Kita mulai tahun ini, bertahap. Yang belum harus segera menyusul,” katanya.
Ia juga menekankan bahwa penanggulangan bencana tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah kabupaten, melainkan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
“Mulai dari pemerintah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, pusat, sampai masyarakat dan dunia usaha, semua punya tanggung jawab,” jelasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Rembang, M. Luthfi Hakim, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam kesiapsiagaan bencana.
“Kita tidak bisa sendiri. Harus ada kolaborasi, koordinasi, dan sinergitas,” ujarnya.
Menurutnya, seluruh elemen, mulai dari relawan, masyarakat, akademisi hingga media, perlu dilibatkan dalam sistem penanggulangan bencana.
“Yang penting saat kejadian, masyarakat tidak panik. Kita tahu harus berbuat apa, lalu dikoordinasikan,” tambahnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa potensi bencana tersebar di seluruh wilayah Rembang.
“Di 14 kecamatan semuanya ada desa rawan. Totalnya 199 desa sesuai kajian risiko bencana,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











