GROBOGAN, Harianmuria.com – Kue keranjang menjadi salah satu jenis makanan yang wajib ada dalam perayaan tahun baru Imlek. Tak heran pengusaha kue keranjang mulai banjir pesanan menjelang hari besar masyarakat Tionghoa tersebut, termasuk di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan.
Dapur produksi kue keranjang di Kecamatan Wirosari, nyaris tak pernah berhenti beroperasi menjelang perayaan Imlek 2026. Permintaan yang melonjak tajam membuat pengrajin kewalahan memenuhi pesanan yang datang dari dalam daerah maupun berbagai kota besar di luar provinsi.
Salah satu pengrajin legendaris, Kristina Rahayu, mencatat produksi kue keranjang melonjak signifikan pada musim Imlek tahun ini. Dalam beberapa pekan terakhir, total produksinya menembus dua ton.
Usaha rumahan yang dikelolanya merupakan warisan keluarga yang telah bertahan lebih dari tiga generasi.
“Usaha ini sudah berjalan sekitar 30 tahun lebih, sekarang sudah generasi ketiga,” ujar Kristina saat ditemui di rumah produksinya, Sabtu, 7 Februari 2026.
Ini Dia 5 Makna Filosofis Kue Keranjang, Nomor 3 Wajib Kalian Tau!
Selain tetap mempertahan resep tradisional, Kristina juga menawarkan inovasi rasa untuk memikat selera pasar.
Jika sebelumnya kue keranjang identik dengan rasa cokelat dan frambos, kini tersedia varian pandan, vanila, gula aren, hingga durian. Dari berbagai pilihan tersebut, rasa cokelat dan pandan menjadi favorit pelanggan.
Untuk varian cokelat dan pandan, harga dipatok Rp56.000 per kilogram, sementara varian durian dijual Rp65.000 per kilogram karena tingginya harga bahan baku. Adapun untuk pembelian grosir, paket 5 kilogram dibanderol Rp260.000 dan paket 10 kilogram seharga Rp520.000.
Jangkauan pemasaran kue keranjang Wirosari pun terus meluas. Selain memenuhi permintaan warga Purwodadi dan sekitarnya, pesanan rutin datang dari Semarang, Kudus, Jepara, dan Purwokerto.
Bahkan, kue keranjang buatannya telah merambah pasar Jawa Barat dan Jawa Timur seperti Bandung, Bekasi, dan Surabaya. Jumlah pembelian bervariasi, mulai dari pelanggan perorangan yang membeli 3 kilogram hingga distributor yang memesan hingga 100 kilogram.
Di balik lonjakan omzet, Kristina mengaku margin keuntungan bersih yang diambil relatif tipis, sekitar 10 persen. Keuntungan tersebut sebagian besar diputar kembali sebagai modal produksi dan untuk membayar upah delapan karyawan yang membantunya selama musim ramai.
Momentum Imlek, menurutnya, bukan hanya mendongkrak penjualan, tetapi juga menjadi sumber penghasilan penting bagi warga sekitar yang bekerja di tempat usahanya. Ia berharap permintaan tetap stabil agar roda produksi terus berputar.
“Semoga lancar, dan bisa memberikan penghasilan tambahan para karyawan,” kata Kristina.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











