REMBANG, Harianmuria.com – Curah hujan tinggi sejak 8 Januari 2026 memicu rentetan bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Kabupaten Rembang. Longsor, rumah roboh, pohon tumbang, hingga limpasan air terjadi pada 8–11 Januari.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, Sri Jarwati, mengatakan Rembang memang masuk dalam kategori potensi hujan lebat hingga sangat lebat pada Januari 2026. Oleh karena itu timnya meningkatkan kesiapsiagaan bencana.
Sri menyebutkan sejumlah bencana hidrometeorologi di wilayahnya terjadi pada pekan pertama Januari.
Salah satunya tebing longsor di Desa Sendangcoyo, Kecamatan Lasem yang menggerus bagian rumah warga dan jalan poros desa. Kerugian ditaksir mencapai Rp116 juta.
BPBD telah berkoordinasi dengan pemerintah desa serta menyalurkan bantuan logistik, sandang, dan pangan kepada warga terdampak.
Longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Sanetan, Kecamatan Sluke. Tebing rumah milik salah satu warga dengan panjang sekitar 15 meter dan lebar 4 meter ambruk akibat hujan deras, menyebabkan kerugian sekitar Rp30 juta.
Di Desa Labuan Kidul, Kecamatan Sluke, sebuah rumah roboh akibat curah hujan tinggi yang diperparah kondisi bangunan yang sudah lapuk. Rumah berukuran 4×6 meter tersebut mengalami kerusakan total dengan estimasi kerugian Rp15 juta. Saat ini korban mengungsi ke rumah saudaranya.
Warga bersama tim BPBD telah melakukan kerja bakti membersihkan puing, serta merencanakan pembangunan rumah sementara.
Tak hanya permukiman, bangunan di bantaran sungai juga terdampak. Sebuah gudang tembakau permanen dilaporkan longsor karena berada di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) rawan. BPBD Rembang telah berkoordinasi dengan kepala desa, pemilik bangunan, serta Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) mengingat lokasi tersebut sejatinya tidak diperuntukkan bagi bangunan permanen.
Selanjutnya, kejadian pohon tumbang terjadi di Desa Kepoagung, Kecamatan Pamotan, serta Desa Balongmulyo, Kecamatan Kragan. Tim BPBD bersama relawan masyarakat bergerak cepat membersihkan pohon yang sempat menghalangi akses jalan.
Di sektor pendidikan, longsor juga mengancam Madrasah Nuraniah di Desa Glebeg lantaran tebing di dekat sungai ambles dan longsor. Pemerintah desa berencana melakukan perbaikan menggunakan dana APBDes setelah tim BPBD melakukan pengecekan lapangan.
Sementara itu, limpasan air akibat saluran tersumbat dilaporkan menggenangi Jalan Pantura Purworejo sehingga mengganggu arus lalu lintas.
Sri Jarwati memastikan bahwa stok logistik kedaruratan dalam kondisi aman, serta BPBD terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk antisipasi bantuan tambahan jika diperlukan.
Ia juga mengapresiasi peran aktif masyarakat dan media dalam penanggulangan bencana.
Menurutnya, hingga kini terdapat 32 Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Rembang yang telah mampu melakukan penanganan awal secara mandiri sebelum melaporkannya ke BPBD. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
BPBD Rembang mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di bantaran sungai dan wilayah perbukitan, agar selalu waspada. Warga diminta tidak ragu untuk mengungsi sementara apabila hujan lebat berlangsung lebih dari satu jam dan debit air sungai mulai meningkat, demi keselamatan bersama.
“Bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, pohon tumbang, dan angin kencang memang sedang sering terjadi. Keselamatan adalah yang utama,” pungkasnya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











