REMBANG, Harianmuria.com – Angka perceraian di Kabupaten Rembang menunjukkan tren peningkatan. Data Pengadilan Agama Rembang mencatat 1.181 kasus perceraian sepanjang tahun 2025, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah 997 kasus.
Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Rembang, Bahiroh, menyebut bahwa sebagian besar perceraian merupakan cerai gugat yang diajukan oleh pihak istri.
“Dari total 1.181 perkara perceraian di tahun 2025, 902 merupakan cerai gugat, sementara 279 kasus cerai talak diajukan oleh suami,” ujar Bahiroh, Rabu, 7 Januari 2026.
Faktor Ekonomi Jadi Pemicu Terbesar
Faktor ekonomi tetap menjadi alasan utama perceraian di Rembang. Pada 2025, tercatat 487 kasus perceraian akibat masalah ekonomi, naik dibanding 2024 yang sebanyak 456 kasus.
“Kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil menjadi pemicu terbesar. Tekanan kebutuhan hidup sering kali berujung pada konflik berkepanjangan,” jelas Bahiroh.
Selain ekonomi, perselisihan dan pertengkaran terus-menerus juga menjadi faktor dominan dengan 359 kasus pada 2025, hampir sama dengan tahun sebelumnya yang tercatat 355 kasus.
Perceraian Akibat Judi Melonjak 100 Persen
Faktor yang menjadi sorotan adalah lonjakan perceraian akibat judi. Jika pada 2024 hanya tercatat 25 kasus, maka di 2025 melonjak menjadi 51 perkara, atau meningkat lebih dari 100 persen.
“Perlu digarisbawahi, judi yang dimaksud bukan hanya judi online, tetapi seluruh bentuk perjudian,” tegas Bahiroh.
Faktor Lain yang Menyebabkan Perceraian
Selain ekonomi, perselisihan, dan judi, faktor lain yang memicu perceraian antara lain kebiasaan mabuk, salah satu pihak meninggalkan pasangan tanpa alasan jelas, keterlibatan tindak pidana, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan masalah pribadi lain yang memicu keretakan rumah tangga
Menurut Bahiroh, data ini menegaskan bahwa ketahanan ekonomi dan kualitas komunikasi keluarga masih menjadi tantangan besar bagi pasangan suami istri di Rembang.
Perlunya Edukasi dan Pendampingan Keluarga
Peningkatan kasus perceraian juga menjadi sinyal perlunya penguatan edukasi keluarga, pendampingan ekonomi, serta upaya pencegahan konflik sejak dini.
“Angka-angka ini bukan sekadar data, tetapi gambaran nyata dinamika dan persoalan keluarga di masyarakat,” pungkas Bahiroh.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki











