BLORA, Harianmuria.com – SDN Sumengko 1 di Desa Bodeh, Kecamatan Randublatung, Blora, terus bertahan meski jumlah muridnya hanya 12 siswa dari kelas 2 sampai kelas 6. Sekolah yang terletak di tengah kawasan hutan ini menjadi satu-satunya pilihan pendidikan bagi anak-anak di dusun tersebut.
Kepala SDN Sumengko 1, Deny, menjelaskan bahwa minimnya jumlah murid disebabkan karena tidak ada lagi anak usia sekolah yang tinggal di sekitar dusun.
“Jumlah murid sekarang hanya 12, jauh berkurang dari puluhan tahun lalu yang bisa mencapai 30-an siswa,” ujarnya.
Meskipun jumlahnya sedikit, aktivitas belajar mengajar berjalan dengan serius dan penuh semangat. Para murid yang hanya berjumlah satu sampai tiga per kelas tetap mendapatkan perhatian penuh dari guru, sehingga proses pembelajaran terasa seperti kelas privat.
Deny berharap jumlah murid akan bertambah tahun depan karena di PAUD setempat sudah ada tiga anak yang siap masuk SD. Hal ini menjadi kabar baik untuk keberlangsungan sekolah di wilayah tersebut.
Anak Terancam Putus Sekolah karena Regrouping
Sekolah yang terletak di daerah terpencil ini memang sulit dijangkau dan tidak memiliki banyak siswa. Namun, keberadaan SDN Sumengko 1 sangat penting bagi warga sekitar agar anak-anak tetap mendapatkan pendidikan tanpa harus menempuh perjalanan jauh melewati hutan.
Rencana regrouping sekolah menjadi kekhawatiran utama. Deny dan para guru berharap pemerintah tidak melakukan penggabungan sekolah ini dengan SD lain yang jaraknya sangat jauh, seperti SDN Sumengko 2 yang berjarak sekitar 5 kilometer melewati kawasan hutan.
“Jika diregrouping, anak-anak di sini kemungkinan besar tidak akan sekolah lagi karena jarak ke sekolah lain sangat jauh dan sulit dijangkau,” jelas Deny.
Pentingnya Eksistensi SDN Sumengko 1
Mayoritas orang tua murid adalah penggarap lahan Perhutani (pesanggem) yang setiap hari mengantar dan menjemput anak-anak ke sekolah, sehingga keberadaan sekolah di lokasi ini sangat vital.
Deny berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi geografis dan sosial di desa ini sebelum mengambil keputusan regrouping, agar anak-anak di dusun hutan tetap memiliki akses pendidikan yang layak.
“Harapannya, SDN Sumengko 1 tetap eksis agar anak-anak bisa terus mendapatkan pendidikan meski jumlah siswa sedikit,” ujar Deny.
Kepala SDN Sumengko 2 juga menyatakan hal serupa, mendukung agar tidak ada regrouping yang merugikan siswa di daerah terpencil ini.
Eksistensi SDN Sumengko 1 menjaga harapan dan masa depan anak-anak di tengah hutan Blora agar tidak kehilangan kesempatan belajar.
Jurnalis: Subekan
Editor: Basuki











