SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kota Semarang resmi meluncurkan dua unit bus listrik. Transportasi publik ini akan dioperasionalkan untuk mendukung layanan Trans Semarang menuju energi hijau.
Peluncuran bus listrik tersebut berlangsung di Balai Kota Semarang, Rabu, 23 September 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas).
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan, kehadiran bus listrik tidak sekadar menambah armada Trans Semarang, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengurangi emisi sekaligus mengenalkan penggunaan kendaraan listrik kepada masyarakat.
“Jadi ini adalah gerakan lingkungan untuk mengurangi emisi di Kota Semarang. Kita berharap bus listrik, kemudian angkutan lainnya, ada taksi listrik, lalu masyarakat akan mulai tahu dan merasa yakin kalau penggunaan mobil listrik itu tidak akan repot,” katanya.
Menurut Agustina, masih terdapat keraguan di masyarakat mengenai penggunaan kendaraan listrik. Salah satunya berkaitan dengan ketersediaan lokasi pengisian daya serta kemampuan baterai setelah digunakan dalam jangka panjang.
Karena itu, ia menerangkan Pemkot Semarang ingin menunjukkan secara langsung bahwa kendaraan listrik dapat digunakan untuk kebutuhan transportasi sehari-hari.
“Dengan kita memberi angkutan Trans Semarang satu bus listrik, maka masyarakat akan merasa, oh iya, ini waktunya mungkin menggunakan kendaraan listrik. Tentu sustainability-nya itu akan terjaga,” ujarnya.
Ia menuturkan elektrifikasi armada Trans Semarang akan dilakukan secara bertahap. Dua bus yang diluncurkan menjadi tahap awal sebelum seluruh armada yang direncanakan masuk secara bertahap.
Agustina menyebut, total terdapat 27 bus listrik yang dipersiapkan untuk Koridor 1 Trans Semarang. Armada tersebut nantinya melayani rute Terminal Mangkang-Penggaron.
Berdasarkan informasi operasional Trans Semarang, 27 unit tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara penuh pada November 2026, dengan 25 unit untuk operasional dan dua unit sebagai cadangan.
Agustina juga menyoroti keberadaan armada lama yang masih menghasilkan emisi dari knalpot. Ia bahkan menyebut asap hitam dari kendaraan tersebut sebagai “cumi-cumi darat”.
“Kita harus mengatakan perlahan-lahan selamat tinggal cumi-cumi darat,” katanya.
Ia menegaskan, pengurangan armada konvensional tidak akan dilakukan sekaligus, melainkan secara bertahap seiring datangnya armada baru.
“Saya minta masukan masyarakat yang masih mengeluarkan cumi-cumi darat, laporkan saja kepada Pemerintah Kota supaya nanti dipanggil sama Dishub dan diminta untuk segera proses, sama seperti bus yang lain-lainnya untuk mengganti bus yang baru,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Utama VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, Ardie Bakrie, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung elektrifikasi transportasi di Kota Semarang. Menurutnya, pengembangan bus listrik tersebut juga melibatkan industri nasional, termasuk Hino dan Laksana sebagai produsen karoseri.
“Ya tentu kita mempunyai komitmen untuk membangun elektrifikasi di Semarang. Tidak hanya kami dari Hino VKTR, juga Laksana sebagai karoseri yang telah memiliki TKDN 40 persen,” kata Ardie.
Sedangkan, Direktur Teknik PT Laksana Bus Manufaktur, Stefan Arman, mengapresiasi kepercayaan Pemkot Semarang terhadap industri dalam negeri.
“Kami dari Laksana pertama-tama mengucapkan terima kasih kepada jajaran Pemkot Semarang yang telah memberikan kepercayaan dan terus mengubah tata kota Semarang ini menjadi sebuah kota yang lebih sustainable,” ujarnya.
Stefan menjelaskan, bus listrik tersebut dirancang khusus untuk kebutuhan transportasi perkotaan dengan intensitas penggunaan yang tinggi. Bagian frame menggunakan material stainless steel, sementara panel interior dan eksterior menggunakan material ringan yang dirancang untuk menunjang usia pakai kendaraan.
“Ini memang semuanya dikhususkan, didesain untuk kebutuhan bus listrik, untuk bus perkotaan. Jadi, itu salah satu keunggulan dari bus yang kami sudah produksi,” jelasnya.
Dari sisi baterai, bus listrik Trans Semarang memiliki kapasitas sekitar 340 kilowatt hour (kWh). Jarak tempuh maksimalnya disebut mencapai sekitar 250 kilometer. Namun, untuk menjaga kesehatan baterai, jarak operasional yang disiapkan berada di kisaran 200 hingga 240 kilometer.
Pengisian daya dilakukan di pool operator dengan daya sekitar 150 kW. Pengisian baterai hingga penuh diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua jam.
“Kita desain bus ini memang digunakan untuk one time charging. Jadi, setelah dia selesai beroperasi di malam hari itu dilakukan charging di malam hari, pagi harusnya sudah siap beroperasi untuk penuh satu hari kerja operasional,” katanya.
Sementara untuk harga, satu unit bus listrik tersebut berada di kisaran Rp4,5 miliar. Meski harga awal kendaraan listrik relatif tinggi, Stefan mengatakan bus listrik memiliki sejumlah karakteristik yang mendukung operasional transportasi perkotaan.
Salah satunya ketika bus melewati jalan menanjak. Motor listrik memiliki torsi tinggi sehingga kendaraan dinilai lebih responsif dibandingkan bus berbahan bakar diesel.
“Bus listrik ini justru kalau medannya nanjak turun ini memiliki keuntungan. Yang pertama, dia mempunyai torque yang sangat tinggi, jadi untuk nanjak itu justru lebih responsif daripada bus diesel,” jelasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz/Lingkar Network
Editor: Utia Lil











