REMBANG, Harianmuria.com – Memasuki musim tanam pertama (MT-1) 2026, Pemerintah Kabupaten Rembang mengoptimalkan tujuh unit drone pertanian untuk mempercepat penyemprotan pestisida, pemupukan, hingga perawatan tanaman padi.
Pemkab Rembang memanfaatkan alat pertanian modern tersebut untuk menekan biaya operasional petani sekaligus menjaga produktivitas panen di tengah serangan hama dan perubahan cuaca.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan penggunaan drone menjadi terobosan baru dalam mendukung efektivitas pengelolaan lahan pertanian.
“Drone ini salah satu alat baru. Untuk pemupukan bisa, untuk pestisida bisa, untuk perawatan tanaman juga bisa,” ujarnya pada Kamis, 19 Februari 2026.
Tujuh unit drone tersebut akan melayani wilayah barat, tengah, hingga timur Kabupaten Rembang. Dengan jangkauan lebih luas dan waktu kerja lebih singkat, proses penyemprotan dinilai jauh lebih efisien dibandingkan metode manual.
“Kita sudah punya tujuh unit. Nanti segera dioptimalkan untuk melayani area wilayah barat, timur, maupun tengah,” imbuh Agus.
Selain hemat waktu dan tenaga, drone mampu menyebarkan cairan pestisida maupun pupuk secara lebih merata. Hembusan angin dari baling-baling membuat cairan menjangkau bagian bawah tanaman yang sulit tersentuh penyemprotan konvensional.
“Kalau manual tentu lebih lama. Dengan drone lebih cepat. Hama yang ada di bawah tanaman juga bisa terjangkau,” jelasnya.
Agus mengatakan teknologi drone pertanian juga dirancang aman. Ketinggian terbang dan volume semprotan dapat diatur sesuai umur dan kondisi tanaman, sehingga tidak merusak batang maupun perakaran padi.
Manajemen Unit Jasa Pelayanan (UPJA) Alsintan Kabupaten Rembang, Suheriyanto Andri Wahyudi, menuturkan drone pertanian mulai digunakan sejak 2025. Sebelum diterjunkan ke sawah, calon operator wajib mengikuti pelatihan khusus dan dinyatakan lulus.
Tarif layanan penyemprotan menggunakan drone dipatok Rp200 ribu per hektare, dengan tambahan biaya BBM untuk transportasi. Pengangkutan drone beserta perlengkapannya menggunakan kendaraan roda tiga atau Viar.
Dari tujuh unit drone pertanian milik Pemkab Rembang, empat diantaranya merupakan drone merek Ferto yang diterima melalui program Petani Milenial. Drone ini memiliki kapasitas tangki 17 liter untuk pestisida cair dan mampu membawa pupuk hingga 10 kilogram.
“Permintaan cukup tinggi, terutama bagi petani yang mengelola lahan lebih dari satu hektare. Penyemprotan dengan drone sangat membantu, khususnya saat fase padi bunting tua,” ujarnya.
Pada Februari ini, mayoritas tanaman padi MT-1 di Rembang mulai memasuki fase keluar malai. Penyemprotan difokuskan pada pemberian nutrisi seperti MKP dan KCL cair, serta fungisida dan pestisida untuk mengendalikan hama belalang dan ulat.
Optimalisasi drone pertanian ini menjadi bagian dari transformasi pertanian berbasis teknologi di Rembang. Dengan sistem kerja yang lebih cepat, presisi, dan efisien, Pemkab berharap produksi padi MT-1 2026 meningkat dan kesejahteraan petani semakin membaik.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa










