PATI, Harianmuria.com – Aktivitas nelayan di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati kembali bergeliat usai pemerintah menetapkan harga khusus solar nelayan untuk kapal berukuran 30-200 gross ton (GT) hanya Rp15.000.
Para nelayan Kapal Berkah Mina Group di Desa Pajeksan, Kecamatan Juwana mulai memperbaiki jaring tangkap, sementara kapal-kapal berukuran besar mulai disiapkan untuk kembali beroperasi.
Ketua Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera, Eko Budiyono, mengaku nelayan sempat beberapa bulan tidak melaut karena biaya operasional diniliai tinggi dengan harga BBM sebelumnya.
“Kalau kita dipaksakan dengan harga yang kemarin itu tidak akan menutupi biaya operasional selama kita melaut,” ungkapnya, Kamis, 16 Juli 2026.
Oleh karena itu kabar harga solar khusus bagi kapal 30-200 GT menjadi angin segar bagi para nelayan untuk kembali melaut.
Menurutnya, harga khusus solar menjadi solusi atas tingginya biaya operasional yang selama ini membuat banyak kapal memilih tidak melaut. Dengan harga BBM yang lebih terjangkau, nelayan kini kembali memiliki kepastian usaha.
“Kami berterima kasih kepada pemerintah telah memberikan harga khusus bbm nelayan. Untuk itu, teman-teman saat ini mempersiapkan kapal-kapalnya, melakukan perbaikan untuk berangkat di bulan ini dan bulan depan,” ujarnya.
Sekitar 350 kapal purse seine di bawah naungan Paguyuban Mitra Nelayan Sejahtera saat ini mulai melakukan perbaikan kapal dan alat tangkap.
Rencananya, seluruh kapal berangkat melaut pada bulan Agustus menuju wilayah pengelolaan perikanan 718 di Laut Aru.
Dampak positif penurunan harga BBM juga dirasakan para pengusaha kapal lantaran biaya produksi menjadi lebih ringan, sehingga operasional kapal dinilai kembali layak secara ekonomi.
Pemilik kapal, Juwari, menyatakan kebijakan pemerintah ini membuka harapan bagi ribuan anak buah kapal yang sempat menganggur sejak bulan puasa lantaran tidak adanya aktivitas melaut. Pasalnya biaya operasional yang bukan hanya dari BBM.
“Dengan harga yang sekarang ditetapkan pemerintah itu sangat membantu sekali, karena selisih harga yang dulu sama sekarang itu sangat terasa terutama untuk operasional berangkat ke laut. Katakanlah di harga Rp20.000 saja sudah berat apalagi kemarin sampai Rp30.000 sekarang di Rp15.000,” terangnya.
Dengan harga terbaru, Juwari menyebut operasional kapal kini terbilang cukup bisa dijangkau.
“Kalau sekarang itu itungannya mampu lah. Soalnya kalo kapal nggak berangkat, ABK itu nganggur. Memang ini menunggu kepastian harga,” tuturnya.
Salah satu nakhoda kapal, Arif, mengatakan hampir seluruh kapal tangkap di wilayah Juwana sempat berhenti beroperasi selama beberapa bulan. Akibatnya, banyak nelayan kehilangan penghasilan dan hanya menunggu kepastian regulasi harga BBM.
“Bulan-bulan kemari nagak berat, sekarang sudah pasti jadi insyaallah nanti bisa berangkat Agustus sampai September nanti,” ungkapnya.
Ia menyebut usai bulan Maret atau pasca Idulfitri hingga Juli 2026 banyak kapal tidak berangkat. Hanya sebagian berangkat ke Laut Aru.
“Ini mudah-mudahan bisa berangkat. Kemudian harga ikan setimpal dengan harga BBM,” ucapnya.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network











