PATI, Harianmuria.com – Hampir satu pekan, harga telur mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Pati, Hadi Santosa mengungkapkan belum akan melakukan operasi pasar guna menstabilkan kembali harga telur di pasaran. Namun karena minimnya anggaran hingga kini pihaknya hanya bisa menunggu regulasi dari pemerintah pusat.
“Dan secara nasional ternyata memang naik. Ada yang sampai Rp 32 ribu per kilogram. Sebenarnya, telur ini komoditas yang dalam pemantauan kami juga. Kalo di daerah, kita tidak punya regulasi. Kita tunggu saja kebijakan dari pemerintah nanti seperti apa,” ungkap Hadi.
Lebih lanjut, pihaknya mengaku akan bersinergi bersama dengan Dinas Pertanian untuk menyeimbangkan harga bahan pokok terutama harga bahan pangan di pasaran. Menurutnya, pemerintah pusat juga perlu melakukan pemantauan dengan menggunakan aplikasi SEHATI. Sehingga, dapat dilakukan kontrol guna mencegah terjadinya inflasi.
“Kita ikut kegiatan di Jawa Tengah koordinasi dengan dinas pertanian untuk survei harga secara terpadu. Ada namanya aplikasi sehati yang dikembangkan. Ini juga dalam rangka pengendalian inflasi. Dari situ, nanti kelihatan mana komoditas yang mengalami kenaikan. Bukan hanya barang-barang yang dikonsumsi, barang-barang penting lainnya yang mempengaruhi inflasi,” terangnya.
Disisi lain, Hadi juga berharap pemerintah pusat segera menerapkan kebijakan yang efektif untuk segera mengembalikan harga telur. Atau ada penambahan anggaran kepada Disdagperin Pati supaya dapat melakukan operasi pasar.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, harga telur di salah satu pasar tradisional di Kecamatan Margoyoso pada Senin, (29/8) mencapai Rp 33 ribu per kilogram. Harga ini naik dari pekan lalu yang awalnya mencapai Rp 30 rupiah per kilogram. (Lingkar Network | Arif Febriyanto – Harianmuria.com)











