PEKALONGAN, harianmuria.com – Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) olahan kuliner di Kabupaten Pekalongan mengeluhkan penurunan omzet yang signifikan. Penurunan omzet hingga 50 persen ini bahkan lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19.
Salah satu tokoh senior di kluster kuliner UMKM Kabupaten Pekalongan, Fahmi, mengungkapkan bahwa meskipun ada peningkatan penjualan selama bulan Ramadan dibandingkan hari biasa, angka tersebut tetap jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Penjualan di bulan Ramadan memang meningkat dibanding hari biasa. Namun jika dibandingkan dengan tahun lalu, terjadi penurunan signifikan sekitar 50 persen,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (21/3/2025).
Ketika ditanya apakah penurunan ini terkait dengan banyaknya PHK di pabrik-pabrik, Fahmi menilai bahwa hal tersebut bisa menjadi salah satu faktor penyebab. Namun, menurutnya, faktor utama adalah lesunya ekonomi secara nasional yang menyebabkan banyak orang beralih ke sektor usaha kecil, terutama di bidang kuliner.
“Bisa jadi (karena PHK), karena banyak orang Pekalongan yang bekerja di pabrik, dan saat ini sedang tidak bekerja akibat banyaknya PHK. Namun yang lebih berpengaruh menurut saya adalah lesunya ekonomi nasional,” ungkap Fahmi.
“Akhirnya banyak yang mencoba membuka usaha makanan, tapi sedikit yang membeli. Karena usaha dengan modal kecil yang paling mudah dijalankan adalah di sektor makanan,” sambungnya.
Fahmi berharap sektor industri dapat kembali bangkit agar roda perekonomian berjalan normal lagi. Ia menyebut kondisi penurunan omzet saat ini bahkan lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19.
“Harapan saya ke depan sektor industri pabrik bisa berjalan lagi, supaya ekonomi kembali normal dan geliat usaha lebih baik. Saat ini, penjualan turun lebih parah dibanding masa Covid-19,” katanya.
Ia menambahkan, bisnis kuliner dengan konsep autentik masih memiliki pelanggan tetap, terutama dari kalangan pegawai. Namun, bagi pelaku usaha yang menyasar pasar umum, persaingan makin ketat dan risikonya lebih tinggi.
“Kalau saya menggarap makanan autentik, jadi masih ada peminatnya dari kalangan pegawai. Tapi kasihan teman-teman yang bermain di pasar standar karena saingannya banyak, risikonya juga lebih besar,” pungkasnya.
(FAHRI AKBAR – Harianmuria.com)











