KENDAL, Harianmuria.com – Masyarakat Kaliwungu, Kabupaten Kendal melestarikan tradisi syawalan sebagai bagian dari budaya leluhur yang sarat mana.
Tradisi syawalan juga menjadi penghormatan kepada para ulama yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Kaliwungu.
Syawalan tahun ini, warga sekaligus menggelar kegiatan peringatan haul ulama besar seperti KH Asy’ari atau Kiai Guru, Sunan Katong, Wali Musyafa, Wali Rukyat, Kiai Mojo, dan masih banyak lagi lainnya.
Seminggu setelah Idulfitri, ribuan peziarah mendatangi makam di Bukit Jabal Protomulyo untuk berdoa, mengaji, dan bersilaturahmi.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, yang ikut hadir sekaligus membuka tradisi syawalan menyampaikan bahwa tradisi syawalan merupakan tradisi leluhur yang harus terus dilestarikan turun temurun.
Menurut Bupati, dalam tradisi syawalan ini para peziarah mendoakan para ulama terdahulu yang sudah berjuang untuk syiar agama Islam. Hal ini menjadi momentum untuk meningkatkan hubungan antara masyarakat dan umaroh dengan para ulama.
“Tradisi syawalan menjadi momentum bagi masyarakat untuk mendoakan para ulama terdahulu terutama Almarhum Kiai Guru Asy’ari yang telah berjuang untuk syiar agama. Beliau adalah pendiri Masjid Agung Kaliwungu, hingga saat ini terus menjadi simbol perjuangan dakwah,” tutur Bupati Kendal.
Pada Kesempatan tersebut Bupati Kendal juga meminta doa kepada masyarakat, agar program-program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Kendal bisa berjalan dengan baik dan lancar.
Ia berpesan agar masyarakat senantiasa menghormati para ulama terdahulu maupun ulama yang masih hidup, agar bisa mengambil ilmu yang diberikan, serta terus bisa melestarikan tradisi Syawalan.
Sementara itu, pengurus Masjid Al Muttaqin Kaliwungu yang juga menjabat Ketua MUI Kendal, KH Asroi Tohir, menyampaikan bahwa syawalan bukan sekadar ajang silaturahmi antarwarga.
“Syawalan memiliki nilai historis dan merupakan warisan budaya yang terus dijaga secara turun-temurun,” katanya.
KH Asroi juga mendorong Pemerintah Kabupaten Kendal untuk turut berperan dalam menjaga keberlangsungan tradisi ini. Salah satunya melalui kajian historis yang lebih mendalam agar syawalan tetap lestari dan semakin dipahami maknanya oleh masyarakat di masa mendatang.
“Jangan sampai generasi penerus nantinya kehilangan jejak histori, karena adanya syawalan ini yang paling pokok adalah mengenal para tokoh terdahulu yang sangat luar biasa dalam segala bidang, terutama keilmuan pengembangan agama Islam sejak 360 tahun lalu. Sehingga perlu adanya adanya dukungan dari pemerintah melalui dukungan kajian-kajian histori, agar tradisi Syawalan bisa tercatat dan terus dilestarikan,” terangnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











