GROBOGAN, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten Grobogan memastikan kondisi siswa SD Negeri 2 Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo –korban keracunan makan bergizi gratis (MBG)– berangsur membaik meski masih ada yang menjalani rawat inap.
Sejumlah anak masih menjalani rawat inap di RSUD Soejati Purwodadi, Kabupaten Grobogan, pasca insiden keracunan MBG pada Jumat, 30 Januari 2026.
Ada dua dari lima siswa SDN 2 Pulongrambe yang menjalani rawat jalan di Puskesmas Tawangharjo sudah diperbolehkan kembali beraktivitas dan masuk sekolah.
Sedangkan tiga siswa lainnya masih menjalani perawatan dan observasi di RSUD Dokter Soejati pada Senin, 2 Februari 2026.
Menyikapi insiden keracunan MBG, Sekretaris Daerah Kabupaten Grobogan Anang Armunanto mengatakan pemerintah fokus penanganan dan pemulihan para korban.
“Kejadian ini tentu tidak diinginkan tetapi ketika terjadi tugas utama kita adalah merawat anak yang kena dampak. Yang dua kabarnya sudah bisa masuk sekolah. Kemudian yang tiga masih dirawat di RSUD dr Soejati,” terangnya.
Sementara untuk dapat mengindentifikasi penyebab keracunan, masih menunggu hasil penyelidikan dari laboratorium kesehatan.
“Kalau kepastiannya kita tunggu hasil penyelidikan laboratorium kesehatan,” ujarnya.
Anang berharap kondisi ketiga anak yang masih dirawat dapat terus membaik dan segera dipulangkan dalam waktu dekat.
Hingga Senin, 2 Februari 2026, secara umum kondisi seluruh korban dilaporkan stabil dan dalam masa pemulihan.
Menindaklanjuti sejumlah kasus keracunan dalam menu MBG, Pemerintah Kabupaten Grobogan akan segera melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap seluruh SPPG.
Sebelumnya lima siswa SD Negeri 2 Pulongrambe, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, diduga mengalami keracunan setelah mengkonsumsi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat, 30 Januari 2026.
Para siswa tersebut sempat mengeluhkan sakit perut disertai muntah-muntah dan langsung dilarikan ke puskesmas hingga RSUD Soedjati Purwodadi untuk mendapatkan penanganan medis.
Kepala SDN 2 Pulongrambe, Sutanto, mengatakan pihak sekolah pertama kali menerima laporan dari guru sekitar pukul 10.00 WIB. Keluhan muncul tak lama setelah para siswa mengkonsumsi MBG yang dibagikan pada pagi hari.
“Pagi ini siswa menerima MBG seperti biasa. Sekitar pukul 09.40 WIB menjelang jam 10.00, ada guru yang melapor bahwa beberapa anak mengeluh perutnya sakit dan muntah-muntah,” ujar Sutanto.
Ia menjelaskan, awalnya terdapat tiga siswa yang mengalami muntah setelah mengkonsumsi susu yang menjadi bagian dari menu MBG. Melihat kondisi tersebut, pihak sekolah segera mengambil langkah cepat dengan menghubungi ambulans desa.
“Awalnya tiga anak muntah, lalu bertambah. Total ada lima siswa, masing-masing dari kelas 4 sebanyak tiga anak, kemudian kelas 5 dan kelas 6 masing-masing satu anak. Mereka dibawa ke puskesmas dan rumah sakit,” jelasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Ulfa











