BLORA, Harianmuria.com – Di balik tragedi hanyutnya delapan santriwati Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Muhammadiyah Boarding School (MBS) Al Maa’uun Blora di Sungai Lusi, terselip kisah heroik seorang pemuda bernama Aditya Edo (25). Berkat keberaniannya, tiga santriwati berhasil diselamatkan dari derasnya arus sungai.
Rumah Edo hanya berjarak sekitar 25 meter dari lokasi kejadian. Keberanian dan refleks cepatnya menjadi penentu keselamatan para korban di tengah situasi yang sangat berbahaya.
Dibangunkan oleh Teriakan Minta Tolong
Insiden nahas itu terjadi pada Kamis pagi, 11 Desember 2025, sekitar pukul 06.30 WIB. Saat kejadian, Edo masih tertidur di rumahnya hingga adiknya, Ida, membangunkannya karena mendengar teriakan minta tolong dari arah sungai.
“Awalnya adik saya, Ida, bangunin, katanya ada yang teriak minta tolong. Saya langsung bangun dan lari ke sungai,” ujar Edo, Minggu, 14 Desember 2025.
Baca juga: 5 Anak di Blora Hilang Tenggelam di Sungai Lusi, Tim Gabungan Lakukan Pencarian
Hadapi Arus Deras, Edo Terjun ke Sungai
Sesampainya di lokasi, Edo melihat dua santriwati tengah berjuang bertahan hidup dengan berpegangan pada sebatang bambu di tengah arus sungai. Ia segera mengulurkan bambu lain untuk membantu mereka.
“Yang satu pegangan di sisi kiri, satu di sisi kanan. Saya ulurkan bambu, tapi patah kena arus. Salah satu korban hanyut, saya terjun, menyelam, dan dorong ke pinggir,” tuturnya.
Kedua santriwati tersebut terseret arus hingga sekitar 200 meter sebelum akhirnya berhasil dievakuasi ke daratan. Edo menyebut kondisi sungai sangat berbahaya dengan kedalaman mencapai dua meter dan arus yang kuat.
Selamatkan Korban Ketiga dengan Tali Tampar
Setelah dua korban berhasil diselamatkan warga, Edo kembali mendengar teriakan dari arah hulu sungai. Ternyata masih ada satu santriwati lain yang bertahan dengan berpegangan pada bambu.
“Di atas masih ada satu korban teriak-teriak. Ada warga lain juga yang turun bantu. Saya naik lagi ke tepi,” ucapnya.
Bersama empat warga, Edo menyeberangi sungai menggunakan seutas tali untuk menjangkau korban ketiga.
“Tiga-tiganya waktu itu pegangan bambu. Kami pakai tampar buat nyebrang, terus saya tarik korban itu,” jelas Edo.
5 Santriwati Meninggal Dunia
Seperti diberitakan sebelumnya, delapan santri Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an MBS Al Maa’uun Blora hanyut saat beraktivitas di bantaran Sungai Lusi. Dari jumlah tersebut, tiga santriwati selamat, sementara lima santri lainnya meninggal dunia.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di tengah curah hujan tinggi yang berpotensi memicu arus deras.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki











