BLORA, Harianmuria.com – Kondisi jalan penghubung Dukuh Balong, Desa Sambongwangan, Kecamatan Randublatung, menuju Desa Kepoh, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, dikeluhkan warga karena mengalami kerusakan parah sepanjang sekitar 12 kilometer.
Meski beberapa tahun lalu sempat mendapat anggaran revitalisasi berupa pengecoran di sejumlah titik, hingga kini sebagian besar ruas jalan masih belum layak dilalui. Warga menyebut sekitar 90 persen jalan dalam kondisi rusak, berlubang, berbatu, serta dipenuhi kubangan saat musim hujan.
Seorang pengguna jalan, Wahyu, mengaku kecewa karena perbaikan jalan dinilai berjalan lambat dibanding wilayah lain di Kabupaten Blora.
“Jalan selatan juga sudah banyak yang dicor, disini sampai sekarang tidak selesai-selesai. Ini kak jalan kabupaten,” ujarnya, Selasa, 26 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi jalan semakin menyulitkan masyarakat ketika hujan turun. Jalan berubah menjadi berlumpur dan licin sehingga membahayakan pengguna kendaraan.
“Setiap hari lewat jalan ini menuju ke Randublatung Antar anak sekolah, siapa yang gak jengkel,” imbuhnya.
Wahyu berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora segera turun tangan melakukan perbaikan permanen sesuai janji yang pernah disampaikan.
“Dulu Bupati juga sempat ke sini, tapi sampai sekarang ya belum ada (perbaikan),” katanya.
“Iya, saya tahu efisiensi. Tapi jalan yang lain saja dibantu, di sini tidak. Kalau tidak viral ya tidak dibantu,” tandasnya.
Keluhan serupa disampaikan warga Desa Kepoh lainnya, Mbah Jo. Ia mengatakan kerusakan jalan kerap menyebabkan pengendara terjatuh, terutama bagi pengguna jalan yang tidak memahami kondisi medan.
“Mereka yang bukan orang sini tidak kenal medan, jadi banyak yang jatuh,” ujarnya.
Minimnya penerangan jalan pada malam hari juga dinilai memperburuk situasi dan membuat aktivitas warga menjadi terbatas.
“Kasihan itu kalau malam-malam ada yang sakit harus ke rumah sakit, sudah gelap, jalan rusak, orang disini banyak yang mengeluh,” katanya.
Ia berharap pemerintah setidaknya melakukan pemerataan dan pengerasan jalan agar lebih aman dilintasi warga.
“Minimal rata tidak jeglong-jeglong, meski bukan aspal ataupun cor,” pungkasnya.
Perbaikan Jalan Terdampak Efisiensi Anggaran
Sementara itu, Kepala Desa Kepoh, Yulianto, membenarkan kondisi kerusakan jalan tersebut. Ia menegaskan ruas jalan itu merupakan kewenangan Pemerintah Kabupaten Blora sehingga pemerintah desa tidak memiliki kemampuan anggaran untuk melakukan perbaikan besar.
“Biasanya setiap tahun kami juga bisa tambal sulam dengan grosok di titik yang kami anggap sangat tidak layak. Namun, tahun ini benar-benar tiarap karena pemangkasan anggaran yang luar biasa,” jelasnya.
Menurut Yulianto, pemerintah desa kerap menerima keluhan warga terkait kondisi jalan tersebut. Namun keterbatasan anggaran membuat penanganan belum bisa maksimal.
“Kami juga sudah jawab apa adanya terkait adanya efisiensi, namun, namanya juga orang banyak ada yang paham dan mengerti tetapi ada juga yang tidak paham,” sambungnya.
Ia menyebut dari total panjang jalan sekitar 12 kilometer, baru sekitar 1,5 kilometer yang telah dicor. Sisanya masih dalam kondisi rusak.
“Begitulah kondisinya, kami sendiri tidak bisa berbuat banyak,” pungkasnya.
Diketahui, kebijakan efisiensi anggaran tahun ini berdampak pada pembangunan infrastruktur di Kabupaten Blora. Anggaran infrastruktur disebut mengalami pemangkasan hingga Rp279 miliar dibanding tahun sebelumnya. Tahun lalu, alokasi pembangunan jalan di Blora mencapai sekitar Rp300 miliar.
Jurnalis: Hanafi
Editor: Rosyid










