BLORA, Harianmuria.com – Hasil uji laboratorium terkait dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, akhirnya keluar. Pemeriksaan menemukan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur serta Bacillus cereus pada dua menu makanan yang dikonsumsi para pelajar.
Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Blora, Nur Betsia Bertawati, mengatakan pemeriksaan dilakukan terhadap sampel air dan makanan setelah ratusan penerima MBG mengalami keluhan pada Selasa, 8 September 2026 lalu.
“Pemeriksaan laboratorium dilakukan di dua tempat. Yang pertama di Labkesda Kabupaten Blora, itu yang diperiksa adalah air sumur dan air minumnya,” kata Nur, Selasa, 22 September 2026.
Berdasarkan pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Blora, air sumur yang digunakan dalam penyediaan makanan ditemukan mengandung E. coli di atas ambang batas yang diperbolehkan.
“Ini bisa menyebabkan keracunan makanan,” ujarnya.
Sementara itu, sampel makanan diperiksa di Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Dari pemeriksaan tersebut, Bacillus cereus ditemukan pada dua menu, yakni kuah sop dan ayam woku kemangi.
Nur menjelaskan keberadaan bakteri tersebut berkaitan dengan gejala yang dialami para siswa dan penerima MBG lainnya. Keluhan yang muncul antara lain mual, muntah, dan diare.
“Di mana bakteri tersebut bisa menyebabkan keracunan makanan dengan gejala yang sama dengan yang dialami anak-anak yang kemarin di SMA Tunjungan. Di antaranya muntah, diare, mual,” jelasnya.
Meski ditemukan bakteri pada air dan sebagian makanan, sejumlah sampel menu lainnya dinyatakan tidak bermasalah. Sampel nasi putih, tempe, apel, rebusan brokoli, dan jagung manis dinyatakan aman atau tidak mengandung bakteri yang diperiksa.
Dinkes juga menyebut kontaminasi makanan bisa terjadi pada berbagai tahapan sebelum makanan sampai ke penerima. Proses tersebut mencakup penyimpanan, pengolahan, pengepakan hingga distribusi.
“Penyimpanan, pengolahan, pengepakan, kemudian pendistribusian itu sangat berpengaruh,” terangnya.
Dalam insiden yang terjadi pada 8 September 2026 tersebut, total 334 orang dilaporkan mengalami gejala keracunan. Dari jumlah itu, 198 orang mendapat penanganan rawat jalan, 10 orang menjalani rawat inap, sementara 126 orang mengalami gejala tetapi tidak memeriksakan diri.
Para penerima MBG yang terdampak berasal dari sejumlah sekolah dan mendapatkan makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2. Mereka meliputi siswa SMA Tunjungan, SDIT Permata Mulia, dan SMPIT Permata Banjari.
Hasil pemeriksaan laboratorium itu telah disampaikan Dinkes Blora kepada Satgas Kabupaten serta pihak SPPG untuk menjadi bahan tindak lanjut.
“Untuk selanjutnya mereka yang menentukan,” pungkas Nur.
Kasus di SMAN 1 Tunjungan menjadi insiden dugaan keracunan MBG ketiga yang tercatat di Kabupaten Blora.
Sebelumnya, kejadian serupa dilaporkan di SMPN 1 Blora pada 25 November 2025 dengan 198 siswa terdampak dan di SD Sendangrejo, Kecamatan Ngawen, pada 20 Juli 2026 dengan 19 kasus terlapor.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











