4. Dingklil Oglak Aglik
Selain bermain congklak, anak-anak zaman dahulu seringkali menghabiskan waktunya memainkan permainan dingklik oglak aglik. Istilah itu diambil dari cara menirukan bangku (dhingklik) yang keadaannya mudah goyah dan hampir roboh (oglak aglik).
Permainan ini hanya bisa dilakukan oleh minimal 3 anak dalam satu kelompok, lebih bagusnya lagi jika anggotanya memiliki postur tumbuh hampir sama atau seumuran. Sebab permainan ini yang dibutuhkan adalah kekompakan dan keseimbangan agar dhingklik yang dibuat tidak hancur.
Adapun cara memainkannya, yaitu semua pemain harus berdiri saling berhadapan dan melingkar dengan menggandeng tangan sampingnya. Lalu orang pertama (A) akan masuk diantara dua orang yang lain (B dan C) sampai semuanya dalam posisi saling membelakangi.
Kemudian satu persatu meletakkan salah satu kakinya menggantung di atas tangan yang masih saling menggandeng. Setelah semua kaki saling bertumpukan di tengah, para pemain akan bertepuk tangan dan memutar sambil menyanyikan lagu dhingklik oglak oglik, yen kecelik adang gogik, yu yu mbakyu mangga dhateng pasar blanja, leh olehe napa, jenang jagung enthok-enthok jenang jagung, enthok-enthok jenang jagung, enthok-enthok jenang jagung.

5. Jamuran
Biasanya di sore banyak anak berkumpul ke lapangan untuk bermain bersama. Dari semua jenis permainan tradisional, jamuran menjadi salah satu yang sering dimainkan. Sedangkan cara bermainnya misalnya ada 15 anak yang mengikuti permainan akan saling pingsut atau suit jari sampai ditemukan pemain yang kalah.
Kemudian para pemenang akan memutari yang kalah sambil bergandengan tangan membentuk lingkaran dan menyanyikan sebuah lagu.
Jamuran ya gege thok, jamur apa, yo gege thok, jamur gajih mbejijih sa ara-ara, sira mbadhe jamur apa?
Setelah lagu selesai dinyanyikan, pemain yang ditengah akan menyebutkan salah satu nama jamur. Lalu dia akan menggelitik semua teman yang mengelilinganya. Jika ada yang tidak tahan dan tertawa, orang itulah yang akan menggantikan posisinya di tengah atau pengganti pancer.

Dan masih banyak lagi permainan tradisional yang kini seolah hanya tinggal namanya saja. Diantaranya seperti ular naga panjang, bakiak, egrang, engklek, setenan, dan masih banyak lagi. (Harianmuria.com)








