SEMARANG, Harianmuria.com – Sebanyak 64 koleksi sejarah kini dipamerkan di Gedung Lawang Sewu, Semarang, untuk mengajak masyarakat membaca kembali perlawanan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pameran bertajuk “Dari Semarang Kita Mulai” ini berlangsung pada 14–16 Oktober 2026. Koleksi yang ditampilkan terdiri atas sembilan arsip koran, 47 arsip foto beserta narasi, serta delapan artefak bersejarah mengenai Pertempuran Lima Hari di Semarang.
Materi tersebut berasal dari berbagai sumber, termasuk koleksi Pemerintah Kota Semarang dan koleksi pribadi. Kehadiran foto-foto baru menjadi salah satu bagian penting dalam pameran yang digelar Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang itu.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, foto dan benda bersejarah dapat membantu masyarakat memahami peristiwa masa lalu secara lebih utuh. Setiap dokumentasi menyimpan potongan cerita yang dapat melengkapi pemahaman mengenai perjuangan di Kota Semarang.
“Dari pameran ini, semakin melengkapi kepingan sejarah, kita bisa melihat dari sebuah gambar mengenai pertempuran kala itu sesungguhnya,” kata Agustina, Rabu, 14 Oktober 2026.
Salah satu foto yang menarik perhatiannya menggambarkan seorang ibu yang berusaha melindungi tiga anaknya saat menghadapi ancaman pasukan penjajah.
Potret tersebut memperlihatkan bahwa perjuangan tidak hanya berlangsung di medan pertempuran, tetapi juga hadir dalam upaya warga melindungi keluarga dan mempertahankan kehidupan.
“Foto itu berbicara mengenai bagaimana seorang mempertahankan kemerdekaan karena dia berani menatap segerombolan pasukan, itu bagi saya menarik,” tuturnya.
Foto tersebut menurutnya memberi perspektif berbeda dalam membaca Pertempuran Lima Hari di Semarang. Di balik kisah perlawanan bersenjata, ada keberanian masyarakat biasa yang menghadapi situasi berbahaya tanpa selalu tercatat sebagai tokoh utama dalam sejarah.
Agustina menuturkan upaya melengkapi dokumentasi menjadi penting untuk memperkaya narasi sejarah Pertempuran Lima Hari. Sejumlah foto yang dipamerkan merupakan koleksi yang diperoleh pada 2025 dan 2026, sementara sebagian materi lainnya berasal dari arsip yang telah dihimpun sebelumnya.
Salah satu sumber koleksi adalah Rumah Pohan. Foto dari koleksi pribadi tersebut direproduksi untuk kepentingan pameran, sedangkan foto aslinya tetap disimpan oleh pemiliknya.
Selain dokumentasi foto, pameran menghadirkan sejumlah tokoh pejuang yang terlibat maupun menjadi saksi hidup pertempuran.
Kehadiran mereka dinilai memberikan perspektif tambahan mengenai peristiwa sejarah yang tidak cukup dipahami hanya melalui catatan tertulis.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Semarang, Nur Huda Iskandar, menjelaskan pameran juga menampilkan berbagai benda yang berkaitan dengan masa perjuangan. Koleksi tersebut meliputi pistol, bayonet, radio, mesin ketik, koran, hingga pakaian pejuang.
“Selain foto, juga ada artefak, berupa koran, baju dari pejuang, senjata kita coba pamerkan,” kata Nur Huda.
Benda-benda tersebut diperoleh dari berbagai sumber, termasuk instansi pemerintah dan kolektor.
Nur Huda berharap pameran ini dapat mendekatkan generasi muda dengan sejarah lokal sekaligus menanamkan pemahaman mengenai nilai perjuangan. Menurutnya, Pertempuran Lima Hari merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan yang relevan untuk dipelajari lintas generasi.
“Jadi, harapan kami dengan adanya pameran ini tentu saja mengingatkan kepada generasi-generasi yang sekarang ini bahwa pertempuran yang ada merupakan simbol perlawanan terhadap ketidakadilan,” tegasnya.
Jurnalis: Syahril Muadz/Lingkar Network
Editor: Utia Lil











