SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai demam disertai menggigil, serta tidak menganggapnya sebagai keluhan biasa akibat perubahan cuaca.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M Abdul Hakam, mengingatkan gejala tersebut tidak bisa langsung dikaitkan dengan perubahan cuaca. Menurutnya, demam dan menggigil umumnya merupakan respons tubuh ketika menghadapi infeksi.
Penyebabnya beragam, mulai dari infeksi virus seperti influenza hingga penyakit lain yang memerlukan kewaspadaan, termasuk DBD, leptospirosis, dan infeksi bakteri tertentu.
“Demam disertai menggigil tidak bisa langsung kita simpulkan hanya disebabkan oleh perubahan cuaca. Yang terpenting adalah mengenali gejalanya dan memastikan penyebabnya melalui pemeriksaan tenaga kesehatan,” tegasnya, Senin, 12 Oktober 2026.
Hakam meminta warga tidak menunda pemeriksaan apabila demam menetap, menggigil berulang, atau kondisi tubuh semakin memburuk. Terlebih jika disertai sesak napas, penurunan kesadaran, muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, maupun perdarahan.
“Pesan kami, masyarakat tidak perlu panik, tetapi jangan menganggap setiap demam dan menggigil sebagai akibat cuaca biasa. Deteksi dini dan penanganan yang tepat adalah kunci untuk mencegah kondisi yang lebih serius,” katanya.
Ia mengatakan perubahan suhu, kelembapan, dan curah hujan dapat memengaruhi pola kejadian penyakit. Sejumlah penyakit yang perlu diwaspadai di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), influenza, diare, hingga demam berdarah dengue (DBD).
“Perubahan cuaca yang cukup ekstrem, kadang panas kemudian turun hujan, disertai perubahan suhu dan kelembapan, dapat meningkatkan risiko munculnya beberapa penyakit di masyarakat,” ujarnya.
Namun, Hakam menegaskan peningkatan risiko penyakit tidak serta-merta menunjukkan adanya lonjakan jumlah pasien. Dinkes Kota Semarang masih memantau perkembangan kasus melalui data kunjungan di 40 puskesmas.
“Untuk memastikan ada atau tidaknya kenaikan, kami melihat data kunjungan dan tren kasus di fasilitas pelayanan kesehatan secara berkala,” jelasnya.
Selain meminta masyarakat mengenali gejala penyakit, Dinkes Kota Semarang mendorong upaya pencegahan dilakukan sejak dini. Warga diimbau menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, serta menggunakan masker ketika sedang sakit.
Khusus untuk mengantisipasi DBD, masyarakat diminta rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk melalui gerakan 3M Plus. Genangan air yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk harus dicegah.
Hakam menegaskan, penanganan penyakit tidak cukup hanya mengandalkan pengobatan ketika warga sudah jatuh sakit. Pemantauan kasus, pencegahan, dan deteksi dini menjadi bagian penting untuk melindungi masyarakat selama masa pancaroba.
“Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan hanya ketika masyarakat yang sakit dapat diobati, tetapi ketika semakin banyak masyarakat dapat kita lindungi agar tidak jatuh sakit,” tuturnya.
Jurnalis: Syahril Muadz/Lingkar Network
Editor: Utia Lil











