KENDAL, Harianmuria.com – Kabupaten Kendal akan memiliki pabrik farmasi yang dibangun di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu. Bangunan akan dibangun di lahan sekitar 7.000 meter persegi dan masih berkemungkinan bertambah.
Peletakan batu pertama pembangunan pabrik milik PT Ausilabs Pharma Indonesia dilakukan pada Rabu, 7 Oktober 2026.
Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari, mengatakan pemerintah menyambut baik investasi yang masuk di wilayahnya.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kendal maupun pribadi, kami mengucapkan selamat datang di Kabupaten Kendal. Masuknya investasi baru menjadi bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Kami menyambut baik dan mendukung pembangunan pabrik Ausilabs Pharma Indonesia di Kendal,” ujarnya.
Bupati Tika memaparkan bahwa Kabupaten Kendal merupakan salah satu daerah penyangga ekonomi di Jawa Tengah yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan. Pertumbuhan ekonomi dan investasi yang terus bergerak positif menjadi modal penting dalam memperkuat daya saing daerah.
“Capaian tersebut menunjukkan bahwa pembangunan Kendal terus bergerak ke arah yang positif. Hal ini tidak terlepas dari sinergi seluruh pihak dalam mendorong investasi, aktivitas industri, serta pertumbuhan berbagai sektor ekonomi di Kabupaten Kendal,” tuturnya.
Pemkab Kendal berkomitmen memberikan kemudahan bagi dunia usaha melalui pelayanan birokrasi yang cepat, transparan, dan responsif.
“Kami akan memastikan kemudahan berbisnis melalui pelayanan birokrasi yang cepat dan transparan, agar kolaborasi berjalan beriringan demi kemajuan bersama,” sambungnya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap keberadaan PT Ausilabs Pharma Indonesia tidak hanya menambah aktivitas industri, tetapi juga membuka lapangan kerja baru dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Kendal.
Komisaris PT Ausilabs Pharma Indonesia, Jebul Suroso, mengatakan pembangunan pabrik farmasi merupakan hasil kemitraan dari Singapura, India, dan Indonesia.
Menurutnya, pembangunan industri farmasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah dalam memperkuat sektor ekonomi melalui program industrialisasi. Langkah tersebut dinilai sejalan dengan besarnya jaringan usaha Muhammadiyah di bidang kesehatan dan pendidikan tinggi kesehatan.
“Maka paling pas kita mengelola usaha dan industri di bidang farmasi. Tadi belanja obat kita di Jawa Tengah, belanja rumah sakit ada Rp4 triliun dalam waktu satu tahun. Artinya kebutuhan obat dan alkes sangat tinggi, maka di situlah Muhammadiyah hadir,” ujarnya.
Kolaborasi dengan investor dari Singapura dan India tersebut diharapkan tidak sekadar menghasilkan produk farmasi, tetapi juga membuka peluang terjadinya alih teknologi dan transformasi teknologi di bidang pengobatan.
Untuk tahap awal, pembangunan pabrik berada di atas lahan sekitar 7.000 meter persegi. Ke depan, kawasan tersebut akan terus dikembangkan mengikuti kebutuhan industri.
“Ke depan juga kita menjadikan ini sebagai ekosistem, bukan hanya di obat tetapi juga di alat kesehatan,” katanya.
Sementara Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Tafsir, menyampaikan bahwa dengan dimulainya pembangunan pabrik tersebut menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang sosial dan kemasyarakatan, tetapi juga terus mendorong penguatan ekonomi, baik di sektor hulu maupun hilir.
Tafsir menyebut Muhammadiyah saat ini memiliki 56 rumah sakit di Jawa Tengah, lima di antaranya berada di Kabupaten Kendal. Dari jaringan rumah sakit tersebut, terdapat perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp4 triliun.
“Untuk di sini produksinya masih obat, dan dengan adanya ini kita tidak perlu impor,” terangnya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











