PATI, Harianmuria.com – Pandemi Covid-19 nampak sudah semakin melandai, namun hal itu belum dirasakan oleh Soegiharto, pengusaha bus dan travel pariwisata. Sejauh ini pihaknya belum bisa menjalankan usahanya seperti sediakala. Dia mengungkapkan bahwa sampai saat ini belum ada perkembangan yang signifikan di lini pariwisata.
“Tidak ada perkembangan sama sekali, wisatawan masih malas bepergian karena keluar masuk kota dan pulau banyak sekali syarat yang harus dipenuhi. Jadi sampai sekarang tidak ada pelanggan yang datang,” ungkapnya saat dihubungi, Senin (24/1)
Pemilik PO Soegiharto Hidayah Transport ini pun mengaku bahwa tidak bisa beroperasi selama pandemi Covid-19. Selama dua tahun dia hanya bisa memarkirkan 12 bus miliknya tanpa melakukan kegiatan operasional apapun. Ia mulai gulung tikar karena ia tidak dapat beroperasi, sedangkan setiap bulan masih ada tanggungan untuk membayar leasing. Utangnya mulai menggunung mencapai Rp 7 miliar.
Soegiharto pun dengan sangat terpaksa harus menjual 11 busnya ke leasing. Dia hanya ingin hidup dengan tenang dan nggak dihantui oleh para penagih utang.
“Habis sudah bis saya, dulu 12 unit sekarang cuma tinggal 1 saja. Saya tidak kuat lagi bayar hutang. Terpaksa semua saya kembali ke leasing agar tidak dicari-cari penagih. Saya pengen hidup tenang. Utang saya itu sampai 7 miliar,” jelasnya dengan nada sedih.
Semua karyawannya, lanjutnya, juga terpaksa harus diberhentikan. Hal ini lantaran tak kuat lagi untuk membayar gaji dan biaya operasional.
Lebih lanjut dia merasa sangat kecewa dengan pemerintah. Menurutnya, pemerintah tidak ada kepedulian untuk membantu pengusaha travel. Padahal dia sudah membuat surat permohonan kepada OJK, Gubernur, Badan Perlindungan Konsumen, namun semua usahanya nihil. Dia menganggap lembaga-lembaga itu tidak menjalankan fungsinya dengan baik untuk membantu rakyat. Saat ini dia sudah melepas banner sebagai media pemasaran.
“Saya sudah kirim surat ke OJK, Gubernur dan Badan Perlindungan Konsumen, tapi mereka seakan menutup mata. Apa fungsi banyak lembaga tapi tidak ada kemampuan untuk memberikan pertolongan kepada rakyatnya yang terdampak pandemi. Sekarang benner sebagai media pemasaran sudah saya copot, sudah tidak ada yang dipasarkan untuk wisata tinggal jadi pengangguran. Biar diurus pemerintah, lha wong pas pengusaha sekarat kayak gini minta tolong pemerintah mereka tidak ada yang peduli,” pungkasnya dengan sedikit emosi. ( Lingkar Network I Harianmuria.com )











