KENDAL, Harianmuria.com – Kasus tuberkulosis di Desa Penyangkringan, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal seperti fenomena gunung es. Pasalnya, kasus yang ditemukan masih lebih sedikit dibandingkan jumlah kasus yang sebenarnya ada di masyarakat.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal berupaya menemukan kasus tuberkulosis di masyarakat dengan memberikan pelayanan cek kesehatan gratis (CKG). Dinkes juga melibatkan puskesmas untuk melacak kasus hingga ke desa.
Salah satunya kegiatan tracing Tuberculosis (TBC) Terintegrasi CKG yang diselenggarakan Puskesmas Weleri I di Aula Balai Desa Penyangkringan pada Senin, 31 Agustus 2026.
Dokter Fungsional Puskesmas Weleri I, Ida Fitriana, mengatakan kasus TBC di Kendal, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Weleri I, masih menghadapi tantangan dalam hal penemuan kasus.
Penemuan kasus TBC, menurutnya, seperti fenomena gunung es karena kasus yang ditemukan masih lebih sedikit dari jumlah kasus yang ada di masyarakat.
“Kasus TBC ini masih seperti fenomena gunung es. Mungkin kasusnya banyak, tetapi yang ditemukan masih sedikit. Capaian angka penemuan kasusnya juga masih kurang,” ungkapnya.
Oleh karena itu penting untuk melacak kasus tuberkulosis di masyarakat. Menurut dr Ida, petugas tidak hanya menunggu masyarakat datang ke fasilitas kesehatan ketika mengalami keluhan, tetapi juga secara aktif melakukan penelusuran terhadap orang-orang yang memiliki risiko kontak dengan pasien TBC.
“Ini untuk skrining dan mencari kasus suspek TBC, sekaligus mendekatkan layanan kesehatan hingga tingkat desa. Tujuan khususnya agar kita bisa mendeteksi lebih dini pasien yang terduga terindikasi penyakit TBC,” jelasnya.
Tracing atau pelacakan kasus juga dinilai menjadi salah satu langkah untuk memutus mata rantai penularan TBC. Pemeriksaan dilakukan dengan mengacu pada kontak dari pasien yang sebelumnya telah dinyatakan positif TBC.
“Di Desa Penyangkringan ini kita menyasar 100 orang. Kita mengacu kepada kontak yang sudah positif, kemudian kita tracing keluarga dalam radius 200 meter,” terangnya.
Hasil pemeriksaan akan menjadi dasar untuk menentukan tindak lanjut. Apabila dari pemeriksaan fisik, rontgen, maupun pemeriksaan dahak ditemukan indikasi positif TBC, pasien akan diarahkan untuk mendapatkan penanganan di puskesmas.
“Kalau hasil pemeriksaan, rontgen dan dahaknya positif, kita rujuk ke puskesmas untuk dilakukan pengobatan. Pengobatannya gratis. Kalau ada komplikasi penyakit lain yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, bisa kita rujuk ke fasilitas kesehatan lain, termasuk rumah sakit,” paparnya.
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala yang mengarah pada TBC. Salah satu tanda yang perlu diwaspadai adalah batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu.
“Ciri-cirinya antara lain batuk lama sekitar lebih dari dua minggu, panas naik turun, berat badan turun dan nafsu makan turun drastis,” jelasnya.
Masyarakat disarankan segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC. Pemeriksaan lebih dini penting agar mendapatkan penanganan dan pengobatan yang tepat.
“Monggo, kalau ada gejala TBC silakan bisa ke puskesmas. TBC itu bisa diobati. Tetapi kalau memang TBC dan tidak diobati, penularannya sangat cepat sekali,” pesannya.
Salah satu warga Desa Penyangkringan, Dewi, mengatakan layanan pemeriksaan kesehatan sangat membantu masyarakat untuk mengetahui kondisi tubuh.
“Apalagi saya kan pedagang dan banyak kontak dengan orang. Jadi ini sangat bagus sekali untuk memeriksakan kesehatan dan mengetahui kondisi kesehatan saya,” ungkapnya.
Dewi berharap kegiatan pemeriksaan kesehatan secara langsung di desa dapat dilakukan secara berkala sehingga masyarakat semakin mudah mengakses layanan kesehatan dan lebih peduli terhadap kondisi kesehatannya.
Jurnalis: Anik Kustiani
Editor: Ulfa











