SEMARANG, Harianmuria.com – Berbagai produk unggulan daerah mejeng di Pameran UMKM peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Tengah di Kompleks Kantor Gubernur, Kamis, 20 Agustus 2026.
Salah satu yang cukup menarik perhatian yakni produk yang dipajang oleh stan Dekranasda Kabupaten Semarang dengan berabagi kerajinan berbahan baku limbah.
Produk UMKM Tanganku itu menawarkan kerajinan batik ecoprint, tas dan suvenir, aksesori, hingga alas kaki.
Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jateng, Nawal Arafah Yasin, dan Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen tampak mengunjungi stan UMKM tersebut pada Kamis, 20 Agustus 2026.
Pemilik sekaligus desainer Tanganku, Kokos Trisada, mengungkapkan roduk berbahan limbah itu telah dipasarkan ke sejumlah negara. Bahkan, penjualan suvenir Tanganku pada periode ramai wisatawan di Bali dapat menghasilkan omzet lebih dari 1.500 dolar AS atau sekitar Rp26,7 juta.
“Tadi Pak Wagub dan Ibu membeli tas, souvenir, itu semua sudah ekspor. Kalau souvenir ini Australia, Jepang, Taiwan, China, Samoa, Amerika, sama Singapura,” terangnya.
Dia menjelaskan, bahan baku produk Tanganku berasal dari limbah yang dikumpulkan di sekitar Kabupaten Semarang. Bahan itu kemudian dikembangkan oleh tim menjadi suvenir yang menyasar wisatawan, termasuk wisatawan yang berkunjung ke Bali dan Danau Toba.
Tanganku memiliki dua lokasi di Bali yang menjadi basis penjualan produk kepada wisatawan mancanegara. Pada periode ramai kunjungan wisatawan, omzet produk suvenir disebut dapat mencapai lebih dari 1.500 dolar AS.
“Kalau dari nilai dolarnya itu fluktuatif. Ini kebetulan Juli sampai Oktober di Bali agak ramai. Jadi kalau untuk souvenirnya aja di luar sandal ya ini bisa tembus di atas 1.500 dolar (AS),” ungkap Kokos.
Konsep penjualan yang dikembangkan adalah ekspor tenteng, yakni produk yang mudah dibawa wisatawan saat kembali ke negara asal. Konsep ini dinilai relevan dengan kondisi bagasi pesawat yang semakin terbatas.
Potensi tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Dekranasda Jateng, Nawal Arafah Yasin. Menurutnya, produk UMKM Jawa Tengah memiliki kekuatan yang dapat menjadi daya tarik di pasar global, terutama karena ditopang kekayaan budaya dan keragaman wastra dari berbagai daerah.
“Yang paling menarik ini adalah potensi di Jawa Tengah, bagaimana produk-produk ini basisnya adalah kekuatan kebudayaannya. Sehingga itu yang bisa kita jual. Jadi, wastra-wastranya sangat beragam,” kata dia, seusai berkeliling pameran.
Nawal mencontohkan, keberagaman produk wastra Jawa Tengah, mulai dari ecoprint, jumputan, hingga batik dengan karakteristik yang berbeda di setiap daerah. Misalnya, batik asal Pekalongan memiliki ciri khas dan filosofi berbeda dengan asal Batang.
“Kemudian di Jepara kita juga lihat tadi ada tenunnya. Jadi, dari 35 stan kabupaten/kota ini, kita melihat banyak sekali wastra yang memiliki ciri khas yang luar biasa,” ujar Nawal.
Jurnalis: Lingkarjateng Group Network











