BLORA, Harianmuria.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora memperoleh dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) senilai Rp1 miliar dari Bank Jateng. Dana tersebut akan diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan peternakan ayam kampung.
Informasi mengenai bantuan tersebut disampaikan Bupati Blora, Arief Rohman, seusai menghadiri Tasyakuran Sedekah Bumi Blora di Alun-alun Blora, Selasa, 18 Agustus 2026.
Arief mengatakan Pemkab Blora masih menyusun pola distribusi program agar bantuan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya keluarga kurang mampu.
“Saat ini masih di desain model distribusinya. Kita fokus ke ayam kampung, nanti didistribusikan kepada keluarga kurang mampu,” katanya.
Menurut Arief, pilihan pengembangan ayam kampung didasarkan pada kondisi populasi komoditas tersebut di Blora yang dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal. Padahal, daerah tersebut memiliki berbagai sumber daya yang mendukung pengembangan peternakan.
“Selama ini, pasar ayam kampung yang ada di Kabupaten Blora, masih didominasi ayam dari Provinsi Jawa Timur,” katanya.
Melalui program yang didukung CSR Bank Jateng tersebut, Arief menargetkan terjadi peningkatan populasi ayam kampung sejak tahun pertama. Jika produksi lokal tumbuh, kebutuhan pasar diharapkan tidak lagi terlalu bergantung pada pasokan dari daerah lain.
“Ini yang perlu dikuatkan kembali, sehingga populasi di Blora cukup memenuhi kebutuhan pasar lokal,” tambahnya.
Pengembangan ayam kampung tersebut bukan program yang berdiri sendiri. Sebelumnya, Pemkab Blora telah menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan konsep ketahanan pangan berbasis peternakan masyarakat.
Kolaborasi tersebut dibahas pada 26 Juli 2026 dengan menjadikan ayam kampung sebagai salah satu peluang ekonomi sekaligus komoditas unggulan daerah.
Perwakilan Fakultas Peternakan UGM, Heru Sasongko, mengatakan pengembangan peternakan ayam kampung membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Peningkatan jumlah ternak saja dinilai belum cukup tanpa dukungan ekosistem usaha dari hulu hingga hilir.
“Kalau ingin berhasil, yang dibangun bukan hanya kandangnya, tetapi ekosistem perayaman-nya,” katanya.
Ekosistem tersebut mencakup pembibitan, budidaya, pengolahan hasil hingga pemasaran. Dengan pola tersebut, pengembangan ayam kampung diharapkan tidak hanya menjadi program peningkatan populasi, tetapi juga membuka peluang usaha dan pendapatan bagi masyarakat.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











