REMBANG, Harianmuria.com – DPRD Kabupaten Rembang meminta pengawasan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperketat usai kasus dugaan keracunan di SMP Negeri 5 Rembang.
Anggota DPRD Rembang, Puji Santosa, mengatakan pihaknya memperoleh informasi pada Jumat, 7 Agustus 2026 terkait sejumlah siswa diduga mengalami gangguan pencernaan pada Kamis malam yang diduga akibat MBG.
Sejumlah siswa kemudian tidak masuk sekolah dan menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD dr. R. Soetrasno Rembang dan rumah sakit lainnya.
“Kita mendapatkan informasi di hari Jumat karena kejadiannya diperkirakan hari Kamis setelah mereka diberi MBG di sekolah. Malamnya kena dampak, dugaannya karena permasalahan di pencernaan,” ujar Puji, Rabu, 12 Agustus 2026.
Usai menerima laporan tersebut, pihaknya ikut mengawal kondisi para siswa serta berkomunikasi dengan pihak pelaksana MBG.
SPPG Mondoteko 3 Stop Sementara Buntut Dugaan Kasus Diare Massal SMPN 5 Rembang
Puji meminta agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut dihentikan sementara.
“Kami sudah meminta kepada koordinator SPPG untuk menutup SPPG tersebut, karena konsekuensinya zero keracunan,” tegasnya.
Berdasarkan pemantauan terakhir, SPPG telah di tutup sementara dan kondisi para pasien berangsur membaik. Bahkan, pasien yang sebelumnya masih menjalani rawat inap di RSUD telah diperbolehkan pulang.
“Alhamdulillah sampai hari Senin (10 Agustus 2026) pasien tinggal satu, sore itu sudah bisa pulang. Hari ini sudah bersih, tidak ada pasien atas dugaan keracunan MBG tersebut,” katanya.
Meski demikian, Puji menekankan bahwa gangguan pencernaan yang dialami siswa belum dapat dipastikan secara medis sebagai akibat keracunan MBG. Menurutnya, diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebabnya.
“Indikasinya ada permasalahan di pencernaan, tapi tidak bisa menyimpulkan bahwa itu dari keracunan MBG. Kalau itu disimpulkan sebagai keracunan, maka harus ada uji lab dan sebagainya, perlu waktu,” jelasnya.
Dinkes Sorot Hygiene-Sanitasi SPPG Usai Investigasi Dugaan Diare Massal SMPN 5 Rembang
Puji menyayangkan kejadian serupa kembali terjadi di SMP Negeri 5 Rembang. Sekolah tersebut juga pernah mengalami persoalan terkait makanan dalam pelaksanaan MBG.
Ia meminta Badan Gizi Nasional (BGN) melalui perwakilannya dan Satuan Pelaksana Program Indonesia (SPPI) di Rembang meningkatkan pengawasan terhadap seluruh SPPG yang beroperasi.
“Kami berharap semua bisa sehat dan sembuh seperti sediakala dan bisa menjalankan aktivitas sehari-hari, bisa sekolah dengan lancar. Kami minta kepada BGN Rembang, perwakilannya SPPI, untuk terus melakukan kehati-hatian agar semua SPPG yang beroperasi di Rembang bisa memberikan makanan yang layak, berkualitas dan bebas keracunan. Harus disiplin semuanya,” ujarnya.
Puji menekankan bahwa pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi perlu dilakukan bersama oleh masyarakat.
“Program ini merupakan tindak lanjut dari janji Presiden Prabowo. Untuk MBG ini harus bisa dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, jangan sampai ada permasalahan. Kalau bisa harapannya zero keracunan,” katanya.
Pengawasan perlu melibatkan berbagai pihak, mulai dari masyarakat, guru, orang tua atau wali murid, DPRD, pemerintah hingga media.
“Jadi kita bersama-sama, bahkan oleh media, kita sama-sama untuk mengawasi,” pungkasnya.
Sementara itu, Kasie Informasi RSUD dr. R. Soetrasno Rembang, M. Nur Achdi Yustanto, membenarkan bahwa pasien dengan keluhan gangguan sistem pencernaan yang berasal dari latar belakang sekolah yang sama telah diperbolehkan pulang.
“Dapat kami sampaikan bahwa semua pasien rawat inap, baik anak-anak maupun dewasa, dengan keluhan gangguan sistem pencernaan yang terindikasi berasal dari latar belakang sekolah yang sama, alhamdulillah hari ini telah diizinkan pulang oleh dokter yang merawat. Insyaallah sudah dalam kondisi membaik,” katanya.
Jurnalis: Vicky Rio
Editor: Ulfa











