• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

7 Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jawa Tengah

Sekar Sari by Sekar Sari
5 Oktober 2022
in Artikel
176 1
Tradisi Sekaten, salah satu peringatan Maulid Nabi di Jawa Tengah. (Instagram @Endangtonari86/Harianmuria.com)

Tradisi Sekaten, salah satu peringatan Maulid Nabi di Jawa Tengah. (Instagram @Endangtonari86/Harianmuria.com)

1.4k
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Harianmuria.com – Maulid Nabi merupakan sebuah peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang digelar setiap 12 Rabiul Awal. Dalam menyambut bulan kelahiran Nabi, umat muslim seringkali mengadakan berbagai perayaan yang turun-temurun hingga membentuk sebuah tradisi.

Sebagaimana yang ada di Indonesia, banyak acara digelar demi menyambut bulan Maulid ini. Ada yang menyebut peringatan Maulid Nabi di Indonesia pertama kalinya dibawa oleh Wali Songo pada tahun 1404 Masehi.

Pada dasarnya kebanyakan dari tradisi penyambutan maupun perayaan Maulid Nabi di berbagai daerah di Indonesia memiliki tujuan yang sama. Yakni sebagai tanda syukur atas kelahiran Rasulullah SAW, mempererat persaudaraan sesame muslim, sekaligus mengangkat budaya masing-masing daerah.

Seperti tradisi-tradisi yang ada di bawah ini, masing-masing daerah memiliki corak dan keunikannya masing-masing. Apa sajakah itu? Simak penjelasannya berikut ini.

1. Tradisi Barik’an

Tradisi Barik’an merupakan acara kenduri yang masih ada dan lestari di Kabupaten Pati. Kenduri sendiri merupakan sebuah budaya masyarakat dengan membawa nasi beserta lauk ke dalam sebuah wadah yang dibawa dari rumah.

Lalu di suatu masjid atau mushala, doa akan dipanjatkan oleh seorang Kiyai atau Ustadz. Baru setelah doa panjatkan, dilanjutkan dengan tukar menukar makanan yang dibawa dan dimakan bersama-sama.

Di setiap wilayah menyebut cara kenduri ini memamg berbeda-beda. Namun tujuan dari diakannya kenduri pada peringatan Maulid Nabi ini tetaplah sama. Bahkan dari tradisi ini, kerukunan dan tali silaturahmi antar umat muslim kian terjalin baik.

2. Tradisi Meron

Tradisi meron yang diselenggarakan di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Pati dalam memperingati Maulid Nabi SAW. Biasanya proses tradisi ini berlangsung hanya setengah hari saja.

Pagelaran tradisi meron ini kerap berlangsung meriah, sebab berbagai rangkaian acara disiapkan oleh pihak penyelenggara. Salah satunya yaitu arak-arakan berbentuk gunungan nasi tumpeng dengan tambahan hasil bumi seperti kacang, terong, buah-buahan,  padi, cabai dan hasil bumi lainnya.

Selain itu, ada juga  pawai bersama dengan mengenakan pakaian khas darah oleh anak-anak, pakaian keraton yang dikenakan remaja putri, dan pakaian petani yang digunakan oleh remaja putra.

Selain dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi SAW, tradisi ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan hasil pertanian yang melimpah selama setahun ini.

Tradisi Meron Sukolilo Pati sebagai bentuk pagelaran memperingati Maulid Nabi. (YouTube/Harianmuria.com)
Tradisi Meron Sukolilo Pati sebagai bentuk pagelaran memperingati Maulid Nabi. (YouTube/Harianmuria.com)

3. Ritual Maulid Nabi di desa Pakem

Di Desa Pakem Pati, terdapat sebuah ritual khusus pada peringatan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berbagai kegiatan disusun oleh pihak penyelenggara, salah satunya yakni dimulai dari kelilih dukuh dengan membawa tombak, keris, dan ancak.

Setelah arak-arakan selesai, dilanjut dengan sholawatan di depan mushala Baitul Muttaqin, mauidhoh hasanah, mahalul qiyam, doa, rebutan ancak, menyanyikan mars yalal wathon, mars banser, dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia.

Tidak jauh beda dengan tradisi lainnya, di desa Pakem ini justru membuat perayaan Nabi  ini menjadi sebuah simbol toleransi. Sebab dalam perayaannya, di desa Pakem ini tidak hanya umat muslim yang merayakan tapi juga non muslim.

4. Grebeg Maulud di Kraton Yogyakarta

Tradisi Grebeg Maulud ini merupakan rangkaian upacara untuk memperingati kelahiran Nabi SAW yang diselenggarakan di Kraton Yogyakarta. Sejarah mencatat, Grebeg Maulud dulunya diadakan pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono I dengan tujuan untuk menyebarkan agama Islam.

Tradisi yang dilakukan secara turun-temurun ini sudah dijadikan sebagai destinasi wisata budaya yang banyak ditunggu-tunggu oleh wisatawan lokal maupun manca negara.

Adapun tujuan lain adanya perayaan Grebeg adalah sebagai ucapan syukur terhadap kemakmuran yang diberikan kepada masyarakat. Ini dilambangkan dengan mempersembahkan gunungan secara berpasangan.

Gunungan ini disusun dari hasil bumi yang dirangkai pada kerangka berbentuk menggunung dan kemudian dibawa berkeliling. Biasanya masyarakat akan berebut isi dari gunungan tersebut karena dipercaya mengandung keberkahan.

Adapun tradisi Grebeg Maulud ini akan dilanjut dengan dibunyikannya dua perangkat gamelan sekaten milik Keraton selama 7 hari. Acara puncaknya adalah pembacaan Risalah Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Pengulu Keraton.

7 Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jawa Tengah | Harianmuria
Tradisi Grebeg Maulud di Keraton Yogyakarta (YouTube/Harianmuria.com)

5. Tradisi Weh-Wehan

Tradisi Weh-Wehan merupakan salah satu tradisi turun temurun yang dilakukan oleh masyarakat kabupaten Kendal saat memperingati Maulid Nabi SAW. Tradisi ini masih eksis hingga kini, bahkan masyarakat memiliki antusias yang tinggi.

Biasanya menjelang Maulid, masyarakat akan di sibukkan dengan mempersiapkan makanan seperti ketan abang ijo, serabi, klepon, jajanan, hingga minuman yang  nantinya akan diberikan kepada masyarakat secara gratis.

6. Tradisi Ampyang Maulid

Tradisi Ampyang Maulid merupakan salah satu tradisi perayaan maulid Nabi SAW. yang dilakukan oleh masyarakat desa Loram Kulon dan Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tradisi ini difungsikan sebagai media introspeksi diri masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kemudian berperilaku yang mencerminkan sifat-sifat yang dimiliki Nabi Muhammad SAW.

Biasanya tradisi ini dilaksakanan dengan arak-arakan tandu berisikan nasi bungkus ampyang. Didalamnya berisi nasi, lengkap dengan kerupuk dan sayur yang dibungkus daun jati. Selain nasi terdapat juga  buah-buahan dan hasil sayuran yang dirangkai mirip gunungan setinggi 1,5 meter.

Setelah  tatanan dalam gunungan jadi, lalu kirab ampyang kemudian diarak dalam tradisi yang bernama kirab dan didoakan oleh tokoh pemuka dan sesepuh agama Islam di Loram Kulon. Setelahnya, barulah ampyang dibagikan pada warga.

7 Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Jawa Tengah | Harianmuria
Tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Wetan dan Kulon (YouTube/Harianmuria.com)

7. Tradisi Sekaten

Tradisi Sekaten merupakan salah satu tradisi yang digelar di Kota Solo sejak abad ke-15 yang dilakukan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.  Selain itu, tradisi ini disebut masih berkaitan dengan sejarah penyebaran agama Islam yang ada di Pulau Jawa yang dilakukan oleh Wali Songo.

Selain itu, pelaksanaan tradisi Sekaten di Solo biasanya digelar dengan serangkaian acara seperti pasar malam di alun-alun kidul selama sebulan penuh. Salah satu pertanada pagelaran Sekaten dimulai yaitu ketika gamelan yang akan diarak ke masjid sudah dibunyikan.

Biasanya, acara ini akan berlangsung pada tanggal 5 hingga 12 Rabiul Awal yang mana pada tanggal ini gamelan akan ditabuh atau dibunyikan secara terus menerus. Setelah itu acara akan dilanjutkan dengan Tumplak Wajik dan Grebeg Maulud.

Demikian itulah beberapa ulasan tradisi budaya yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia terutama daerah Jawa dalam rangka memperingati Maulid Nabi SAW dengan ciri khas dan keunikan masing-masing. (Kontributor Uin – Harianmuria.com)

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Barik'anGrebeg MauludMaulid NabiMeronSekatenTradisi Ampyang MaulidTradisi Maulid Nabi
SummarizeShare98SendShare
Previous Post

Manfaatkan Lahan Kosong, KKN IK IAIN Kudus di Batealit Tanam Seribu Pohon

Next Post

Jelang Hari Santri Nasional, PCNU Pati Adakan Serangkaian Lomba

Sekar Sari

Sekar Sari

Berita Terkait

Tradisi Meron di Sukolilo, Komisi D DPRD Pati Serukan Semangat Nguri-uri Budaya

Tradisi Meron di Sukolilo, Komisi D DPRD Pati Serukan Semangat Nguri-uri Budaya

by ulfa puspa
27 Agustus 2026
540

PATI, Harianmuria.com – Tradisi meron menjadi sarana masyarakat Kecamatan Sukolilo melestarikan budaya dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Ketua Komisi C DPRD Pati, Teguh Bandang Waluyo, mengatakan tradisi meron...

Perkuat Keselarasan Pembangunan, Ketua DPRD Pati Dukung Agenda Coffee Morning

Peringatan Maulid Nabi, DPRD Pati Ajak Jajaran Pemerintah Teladani Kepemimpinan Rasulullah

by ulfa puspa
25 Agustus 2026
524

PATI, Harianmuria.com — Ketua DPRD Kabupaten Pati, Ali Badrudin, mengajak jajaran pemerintah dan masyarakat memanfaatkan peringatan maulid Nabi Muhammad untuk introspeksi, memperkuat keimanan. "Mari kita jadikan momentum ini...

Peringatan Maulid Nabi di Rembang, Pemkab Ajak Warga Perkuat Akhlak dan Persatuan

Peringatan Maulid Nabi di Rembang, Pemkab Ajak Warga Perkuat Akhlak dan Persatuan

by ulfa puspa
25 Agustus 2026
563

REMBANG, Harianmuria.com - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026 menjadi momentum bagi masyarakat Kabupaten Rembang untuk kembali meneladani akhlak, perjuangan, dan kepemimpinan Rasulullah SAW. Pesan Bupati Rembang...

Perkuat Promosi Budaya, Tradisi Weh-wehan Kendal Didaftarkan Masuk Kalender Event Nasional

Perkuat Promosi Budaya, Tradisi Weh-wehan Kendal Didaftarkan Masuk Kalender Event Nasional

by ulfa puspa
25 Agustus 2026
581

KENDAL, Lingkarjateng.id - Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kendal mendaftarkan tradisi weh-wehan ke kalender event nasional Karisma Event Nusantara (KEN).  Karisma Event Nusantara merupakan program strategisKementerian...

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
528
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
526
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
530
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
546

TRENDING HARI INI

  • SPPG di Kendal Wajib Ambil Telur dari Peternak Lokal dengan Harga Rp26 Ribu

    Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    208 shares
    Share 83 Tweet 52
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    100 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • Gubernur Jateng Tanggapi Kabar Bupati Klaten Terjaring OTT KPK

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Pekan Batik Nusantara 2026 di Kota Pekalongan Pertemukan Pelaku UMKM dari Berbagai Daerah

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Ilustrasi Dokter Ortopedi. (Freepik/Harianmuria.com)

Viral Pengobatan Alternatif Ida Dayak, Ini Penanganan Patah Tulang Menurut Dokter Ortopedi

6 April 2023
665
Resto MVR Kudus: Destinasi Wisata Keluarga Terlengkap dengan Hotel, Waterboom, dan Outbond

Resto MVR Kudus: Destinasi Wisata Keluarga Terlengkap dengan Hotel, Waterboom, dan Outbond

28 Juni 2025
735

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya