• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Kamis, Agustus 13, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Kawanan Monyet Ekor Panjang Turun Gunung, Serbu Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Jateng

Basuki by Basuki
12 Agustus 2026
in Semarang, Berita Utama
65 4
Ratusan monyet ekor panjang turun ke lahan pertanian warga di sejumlah daerah Jateng saat kemarau 2026, merusak tanaman petani.

Ilustrasi: Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). (Dok. BKSDA)

529
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

SEMARANG, Harianmuria.com – Musim kemarau 2026 mulai memicu konflik antara manusia dan satwa liar di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali turun dari habitatnya dan memasuki lahan pertanian hingga kawasan permukiman warga.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan kawanan monyet selama musim kemarau.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi, dan Konservasi Sumber Daya Alam DLHK Jateng, Puji Harini, mengatakan berkurangnya ketersediaan makanan dan air di habitat alami menjadi salah satu faktor yang mendorong monyet mendekati lahan pertanian dan permukiman.

“Mereka kerap turun jika sumber pakan berkurang. Bisa juga karena habitat aslinya sudah tidak nyaman,” ujar Puji Harini.

Fenomena monyet turun gunung saat musim kemarau terutama berpotensi terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Slamet, Sindoro, Sumbing, hingga Muria.

Gangguan yang ditimbulkan umumnya berupa kerusakan tanaman pertanian. Selain menipisnya sumber air dan pakan alami, kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan turut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat satwa mencari sumber makanan ke luar kawasan hutan.

Di Kota Semarang, salah satu wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Gunungpati. Warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, melaporkan kawanan monyet yang diduga berasal dari kawasan Gunung Ungaran atau Goa Kreo masuk ke lahan pertanian hampir setiap hari.

Jumlah kawanan tersebut disebut mencapai sekitar 150 ekor. Tanaman pisang, mangga, pepaya, jambu, sirsak, hingga singkong menjadi sasaran.

“Pisang yang belum sempat dipanen habis dimakan, bahkan sejak masih berupa jantung,” keluh warga setempat.

Gangguan serupa sebelumnya terjadi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Kawanan monyet masuk ke area permukiman dan merusak sejumlah tanaman, seperti pisang, alpukat, nangka, rambutan, cabai, dan terong.

“Monyet-monyet itu merusak tanaman yang sudah berbuah. Yang paling banyak rusak alpukat dan nangka,” kata Ketua RT setempat.

Serangan dengan skala lebih luas juga dilaporkan terjadi di Desa Sidomukti dan Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Koloni monyet disebut merusak sekitar 10 hektare lahan pertanian yang tersebar di tujuh dusun.

Berbagai tanaman menjadi sasaran, mulai dari daun bawang, tomat, buncis, cabai, bunga mawar, hingga alpukat. Petani mengaku kesulitan menghalau kawanan monyet karena jumlahnya mencapai ratusan ekor dan satwa tersebut tidak mudah takut ketika diusir.

Ancaman monyet ekor panjang juga perlu diwaspadai di sejumlah daerah yang berada di sekitar kawasan pegunungan. Wilayah tersebut antara lain Magelang, Boyolali, Klaten, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Wonogiri, hingga daerah perbatasan seperti Sragen.

Di Sragen, kawanan monyet bahkan sempat masuk ke kompleks RSUD Tangen pada awal April 2026. Pihak rumah sakit memastikan keberadaan satwa tersebut tidak mengganggu pasien meski lokasi rumah sakit berdekatan dengan kawasan hutan.

Pola monyet turun ke area pertanian cenderung berulang ketika musim kemarau. Ketika persediaan air dan makanan di habitat alami berkurang, satwa tersebut mencari sumber alternatif di lahan warga.

Tekanan terhadap habitat juga dipengaruhi oleh tingginya populasi. Kondisi tersebut membuat kawanan monyet lebih mudah bergerak secara berkelompok untuk mencari sumber makanan baru.

DLHK Jawa Tengah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghadapi gangguan satwa liar tersebut.

Salah satu langkah yang disarankan adalah membuat embung kecil yang dapat menjadi sumber air sekaligus membantu menjaga ketersediaan pakan alami di sekitar habitat. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi dorongan satwa untuk keluar dari kawasan hutan dan mencari makanan di lahan pertanian warga.

Petani di sejumlah wilayah mengaku berbagai cara telah dilakukan untuk menghalau kawanan monyet, mulai dari membuat suara gaduh, menggunakan senapan angin, hingga memasang jaring.

Namun, cara tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif karena monyet telah terbiasa dengan upaya pengusiran dan kembali datang secara berkelompok.

Di beberapa daerah yang terdampak cukup parah, kerugian petani akibat serangan monyet disebut mencapai ratusan juta rupiah. Komoditas dengan nilai ekonomi tinggi, termasuk daun bawang dan berbagai jenis buah, menjadi salah satu tanaman yang mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau bukan hanya persoalan berkurangnya air bagi masyarakat. Bagi satwa liar yang hidup di sekitar kawasan pegunungan, menyusutnya sumber pakan dan air dapat mendorong perubahan pola pergerakan hingga mendekati wilayah manusia.

Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan hutan dan pegunungan Jawa Tengah perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Di sisi lain, upaya menjaga ketersediaan air dan pakan alami di habitat satwa menjadi bagian penting untuk menekan potensi konflik antara manusia dan monyet ekor panjang.

Jurnalis: Lingkarnews Network

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: berita barantin hari iniBerita JatengBerita Jateng Hari Iniberita makaka monyet ekor panjangekspor makaka monyet ekor panjang ke AS dan Chinakontroversi ekspor makaka monyet ekor panjangmonyet ekor panjang
SummarizeShare38SendShare
Previous Post

Baru Masuk China, Ekspor Durian Sulteng Langsung Tembus 7.344 Ton

Next Post

Ratusan Monyet Ekor Panjang Serbu Lahan Petani Gunungkidul, Tanaman Pangan hingga Gubuk Rusak

Basuki

Basuki

Berita Terkait

Kawanan monyet ekor panjang kembali menyerbu lahan pertanian warga Gunungkidul saat kemarau, merusak tanaman pangan dan gubuk petani.

Ratusan Monyet Ekor Panjang Serbu Lahan Petani Gunungkidul, Tanaman Pangan hingga Gubuk Rusak

by Basuki
12 Agustus 2026
524

Kawanan monyet ekor panjang kembali menyerbu lahan pertanian warga Gunungkidul saat kemarau, merusak tanaman pangan dan gubuk petani.

TKD Dipangkas, Taj Yasin Pastikan Gaji ASN Pemprov Jateng Masih Aman

TKD Dipangkas, Taj Yasin Pastikan Gaji ASN Pemprov Jateng Masih Aman

by ulfa puspa
5 Agustus 2026
525

SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memastikan masih mampu menggaji aparatur sipil negara (ASN) meskipun dana transfer ke daerah (TKD) pada APBN 2026 dipangkas. Wakil Gubernur Jateng, Taj...

PHK Karyawan PT Victoria Apparel Semarang Cuma Dapat Pesangon 0,5 Kali

PHK Karyawan PT Victoria Apparel Semarang Cuma Dapat Pesangon 0,5 Kali

by ulfa puspa
4 Agustus 2026
521

SEMARANG, Harianmuria.com – Ratusan karyawan pabrik garmen PT Victoria Apparel di kawasan industri Lamicitra, Kota Semarang yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) hanya menerima pesangon 0,5 kali. Jumlah...

Investor AS Tertarik Garap Proyek Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar di Jateng

Investor AS Tertarik Garap Proyek Pengolahan Sampah Jadi Bahan Bakar di Jateng

by Rosyid
3 Agustus 2026
520

SEMARANG, Harianmuria.com - Investor asal Amerika Serikat (AS) menyatakan minatnya untuk mengembangkan proyek pengolahan sampah menjadi bahan bakar (waste to fuel) di Jawa Tengah. Proyek tersebut direncanakan berlokasi...

Load More

BERITA UTAMA

DPRD Kudus Sidak Pembangunan Puskesmas Jekulo, Penerapan K3 Jadi Perhatian

DPRD Kudus Sidak Pembangunan Puskesmas Jekulo, Penerapan K3 Jadi Perhatian

13 Agustus 2026
515
Saat Plt Bupati Pati Asyik Ikut Lomba Makan Kerupuk, Demo Sound Horeg Tayu Nyaris Ricuh

Saat Plt Bupati Pati Asyik Ikut Lomba Makan Kerupuk, Demo Sound Horeg Tayu Nyaris Ricuh

13 Agustus 2026
525
Didemo soal Larangan Sound Horeg, Camat Tayu Pati: Saya Cabut

Didemo soal Larangan Sound Horeg, Camat Tayu Pati: Saya Cabut

12 Agustus 2026
521
Ratusan monyet ekor panjang turun ke lahan pertanian warga di sejumlah daerah Jateng saat kemarau 2026, merusak tanaman petani.

Kawanan Monyet Ekor Panjang Turun Gunung, Serbu Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Jateng

12 Agustus 2026
529

TRENDING HARI INI

  • Jalan Semarang-Purwodadi di Grobogan Diperbaiki, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

    Jalan Semarang-Purwodadi di Grobogan Diperbaiki, Polisi Siapkan Rekayasa Lalu Lintas

    149 shares
    Share 60 Tweet 37
  • Rektor Termuda Rian Pramana Hibahkan Seluruh Gaji untuk Dosen dan Tendik Universitas Gresik

    101 shares
    Share 40 Tweet 25
  • 80 Siswa Jadi Angkatan Perdana SNT 14 Jepara, MPLS Digelar di BBPMP Jateng

    129 shares
    Share 52 Tweet 32
  • Saat Plt Bupati Pati Asyik Ikut Lomba Makan Kerupuk, Demo Sound Horeg Tayu Nyaris Ricuh

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Skema Ganti Untung Ditolak, Pakuwon Pastikan Rumah Warga Gombel Diperbaiki

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Warga Binaan Rutan Blora Difasilitasi Pendidikan Kesetaraan Gratis hingga Dapat Ijazah

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Ubah Sampah Jadi BBM, Pemkot Semarang Jalin Kerjsama dengan TNI AD

    94 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Luaskan Pemanfaatan Program, BSI Maslahat Luncurkan Give 20k dan Goamal.org

Luaskan Pemanfaatan Program, BSI Maslahat Luncurkan Give 20k dan Goamal.org

27 April 2023
607
Menanam Pangan, Memulihkan Martabat: Ujian Nyata Asta Cita di Kemenimipas

Menanam Pangan, Memulihkan Martabat: Ujian Nyata Asta Cita di Kemenimipas

23 Juni 2026
528

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya