• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Minggu, Oktober 18, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Kawanan Monyet Ekor Panjang Turun Gunung, Serbu Ratusan Hektare Lahan Pertanian di Jateng

Basuki by Basuki
12 Agustus 2026
in Semarang, Berita Utama
71 4
Ratusan monyet ekor panjang turun ke lahan pertanian warga di sejumlah daerah Jateng saat kemarau 2026, merusak tanaman petani.

Ilustrasi: Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). (Dok. BKSDA)

577
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

SEMARANG, Harianmuria.com – Musim kemarau 2026 mulai memicu konflik antara manusia dan satwa liar di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Kawanan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali turun dari habitatnya dan memasuki lahan pertanian hingga kawasan permukiman warga.

Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah mengingatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan pegunungan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pergerakan kawanan monyet selama musim kemarau.

Kepala Bidang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, Rehabilitasi, dan Konservasi Sumber Daya Alam DLHK Jateng, Puji Harini, mengatakan berkurangnya ketersediaan makanan dan air di habitat alami menjadi salah satu faktor yang mendorong monyet mendekati lahan pertanian dan permukiman.

“Mereka kerap turun jika sumber pakan berkurang. Bisa juga karena habitat aslinya sudah tidak nyaman,” ujar Puji Harini.

Fenomena monyet turun gunung saat musim kemarau terutama berpotensi terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan di lereng Gunung Merapi, Merbabu, Lawu, Slamet, Sindoro, Sumbing, hingga Muria.

Gangguan yang ditimbulkan umumnya berupa kerusakan tanaman pertanian. Selain menipisnya sumber air dan pakan alami, kerusakan habitat akibat alih fungsi lahan turut disebut menjadi salah satu faktor yang membuat satwa mencari sumber makanan ke luar kawasan hutan.

Di Kota Semarang, salah satu wilayah yang terdampak berada di Kecamatan Gunungpati. Warga Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, melaporkan kawanan monyet yang diduga berasal dari kawasan Gunung Ungaran atau Goa Kreo masuk ke lahan pertanian hampir setiap hari.

Jumlah kawanan tersebut disebut mencapai sekitar 150 ekor. Tanaman pisang, mangga, pepaya, jambu, sirsak, hingga singkong menjadi sasaran.

“Pisang yang belum sempat dipanen habis dimakan, bahkan sejak masih berupa jantung,” keluh warga setempat.

Gangguan serupa sebelumnya terjadi di Desa Gogik, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Kawanan monyet masuk ke area permukiman dan merusak sejumlah tanaman, seperti pisang, alpukat, nangka, rambutan, cabai, dan terong.

“Monyet-monyet itu merusak tanaman yang sudah berbuah. Yang paling banyak rusak alpukat dan nangka,” kata Ketua RT setempat.

Serangan dengan skala lebih luas juga dilaporkan terjadi di Desa Sidomukti dan Desa Duren, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Koloni monyet disebut merusak sekitar 10 hektare lahan pertanian yang tersebar di tujuh dusun.

Berbagai tanaman menjadi sasaran, mulai dari daun bawang, tomat, buncis, cabai, bunga mawar, hingga alpukat. Petani mengaku kesulitan menghalau kawanan monyet karena jumlahnya mencapai ratusan ekor dan satwa tersebut tidak mudah takut ketika diusir.

Ancaman monyet ekor panjang juga perlu diwaspadai di sejumlah daerah yang berada di sekitar kawasan pegunungan. Wilayah tersebut antara lain Magelang, Boyolali, Klaten, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Wonogiri, hingga daerah perbatasan seperti Sragen.

Di Sragen, kawanan monyet bahkan sempat masuk ke kompleks RSUD Tangen pada awal April 2026. Pihak rumah sakit memastikan keberadaan satwa tersebut tidak mengganggu pasien meski lokasi rumah sakit berdekatan dengan kawasan hutan.

Pola monyet turun ke area pertanian cenderung berulang ketika musim kemarau. Ketika persediaan air dan makanan di habitat alami berkurang, satwa tersebut mencari sumber alternatif di lahan warga.

Tekanan terhadap habitat juga dipengaruhi oleh tingginya populasi. Kondisi tersebut membuat kawanan monyet lebih mudah bergerak secara berkelompok untuk mencari sumber makanan baru.

DLHK Jawa Tengah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghadapi gangguan satwa liar tersebut.

Salah satu langkah yang disarankan adalah membuat embung kecil yang dapat menjadi sumber air sekaligus membantu menjaga ketersediaan pakan alami di sekitar habitat. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi dorongan satwa untuk keluar dari kawasan hutan dan mencari makanan di lahan pertanian warga.

Petani di sejumlah wilayah mengaku berbagai cara telah dilakukan untuk menghalau kawanan monyet, mulai dari membuat suara gaduh, menggunakan senapan angin, hingga memasang jaring.

Namun, cara tersebut dinilai belum sepenuhnya efektif karena monyet telah terbiasa dengan upaya pengusiran dan kembali datang secara berkelompok.

Di beberapa daerah yang terdampak cukup parah, kerugian petani akibat serangan monyet disebut mencapai ratusan juta rupiah. Komoditas dengan nilai ekonomi tinggi, termasuk daun bawang dan berbagai jenis buah, menjadi salah satu tanaman yang mengalami kerusakan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemarau bukan hanya persoalan berkurangnya air bagi masyarakat. Bagi satwa liar yang hidup di sekitar kawasan pegunungan, menyusutnya sumber pakan dan air dapat mendorong perubahan pola pergerakan hingga mendekati wilayah manusia.

Karena itu, masyarakat di sekitar kawasan hutan dan pegunungan Jawa Tengah perlu meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Di sisi lain, upaya menjaga ketersediaan air dan pakan alami di habitat satwa menjadi bagian penting untuk menekan potensi konflik antara manusia dan monyet ekor panjang.

Jurnalis: Lingkarnews Network

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: berita barantin hari iniBerita JatengBerita Jateng Hari Iniberita makaka monyet ekor panjangekspor makaka monyet ekor panjang ke AS dan Chinakontroversi ekspor makaka monyet ekor panjangmonyet ekor panjang
SummarizeShare42SendShare
Previous Post

Baru Masuk China, Ekspor Durian Sulteng Langsung Tembus 7.344 Ton

Next Post

Ratusan Monyet Ekor Panjang Serbu Lahan Petani Gunungkidul, Tanaman Pangan hingga Gubuk Rusak

Basuki

Basuki

Berita Terkait

Wamendagri Usulkan Jateng Jadi Model Penanganan Tuberkulosis di Selurh Daerah

Wamendagri Usulkan Jateng Jadi Model Penanganan Tuberkulosis di Selurh Daerah

by ulfa puspa
14 Oktober 2026
516

DEMAK, Harianmuria.com – Wakil Menteri Dalam Negeri Ahmad Wiyagus mengusulkan Jawa Tengah sebagai model percontohan penanganan tuberkulosis untuk seluruh Indonesia. Rencana tersebut disampaikan saat meninjau Layanan Active Case...

Jateng Catat 1.778 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, 234 Terjadi di Sekolah

Jateng Catat 1.778 Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, 234 Terjadi di Sekolah

by ulfa puspa
13 Oktober 2026
520

SEMARANG, Harianmuria.com – Kekerasan terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai 1.778 kasus yang terlaporkan. Dari jumlah tersebut, 234 kasus terjadi di sekolah. Kasus kekerasan...

DPRD Jateng menerima audiensi Aliansi Perjuangan Pemekaran Kabupaten Brebes (APPKB) di Ruang Rapat Pimpinan Lantai I Gedung Berlian, Kota Semarang, Senin (12/10/2026). (Rizky Syahrul/Harianmuria.com)

Warga Menanti Sejak 1997, DPRD Jateng Kawal Pemekaran Brebes Selatan

by Redaksi
12 Oktober 2026
531

SEMARANG, Harianmuria.com – DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng) berkomitmen mengawal aspirasi pemekaran Brebes Selatan agar usulan pembentukan calon daerah otonom baru (CDOB) tidak kehilangan momentum di tengah penyusunan...

Percepat Pemekaran Brebes Selatan, DPRD Jateng Akan Temui DPR dan Mendagri

Percepat Pemekaran Brebes Selatan, DPRD Jateng Akan Temui DPR dan Mendagri

by Rosyid
12 Oktober 2026
559

SEMARANG, Harianmuria.com - DPRD Jawa Tengah berencana menemui Komisi II DPR RI serta Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk mengawal percepatan pemekaran Brebes Selatan menjadi Calon Daerah Otonom Baru...

Load More

BERITA UTAMA

Mulai 2027 Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, DPRD Blora Sebut Perlu Diikuti Persiapan Matang

Mulai 2027 Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, DPRD Blora Sebut Perlu Diikuti Persiapan Matang

17 Oktober 2026
552
Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
637
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
535
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
533

TRENDING HARI INI

  • Kawasan Sungai Kendal Padat Bangunan Rumah hingga Warung Bikin Normalisasi Terhambat

    Kawasan Sungai Kendal Padat Bangunan Rumah hingga Warung Bikin Normalisasi Terhambat

    179 shares
    Share 72 Tweet 45
  • Proyek Embung Kaliombo Rembang Capai 77 Persen, Ditarget Selesai Akhir 2026

    105 shares
    Share 42 Tweet 26
  • Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

    115 shares
    Share 46 Tweet 29
  • Mulai 2027 Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas, DPRD Blora Sebut Perlu Diikuti Persiapan Matang

    99 shares
    Share 40 Tweet 25
  • Dulu Tempuh 200 M untuk Dapat Air Bersih, Warga Kalikunal Kendal Kini Dibuatkan Sumur Bor

    97 shares
    Share 39 Tweet 24
  • ORADO Goes to Campus 2026 Dorong Penjaringan Atlet Domino di Perguruan Tinggi Gresik

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
  • Dua Kali Mangkir Pemeriksaan, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa KPK

    93 shares
    Share 37 Tweet 23
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Ilustrasi: puasa yang memberikan manfaat baik bagi kesehatan mental. (Freepik/Harianmuria.com)

6 Manfaat Puasa untuk Kesehatan Mental, Apa Saja?

15 November 2022
601
Gorengan khas Korea. (Freepik/Harianmuria.com)

Rekomendasi Gorengan Khas Korea yang Bisa Kamu Jadikan Menu Takjil

27 Februari 2023
1.4k

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya