DEMAK, Harianmuria.com – Bawang merah dan ubi jalar telah menjadi komoditas holtikultura utama Desa Kotakan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. Praktik pertanian bawang merah yang intensif mendorong petani Desa Kotakan untuk bergantung pada pupuk kimiawi dibandingkan bahan organik, yang kemudian dapat menurunkan kualitas struktur tanah dan meningkatkan risiko degradasi lahan pertanian.
Melalui Program SYNERA (Sinergi Inovasi Pertanian dan Lingkungan), Tim KKNT Inovasi IPB mengadirkan subprogram AQUORA dan PROTECTA yang bertujuan untuk mewujudkan ketahanan pangan serta pertanian berkelanjutan. Program SYNERA dilaksanakan oleh Abrar Yaafie, Essa Puji, Nyoman Kinarasassi, Izzatil Ishmah, Inayah Azizah, Ghanim Mukafih, Afifah Putri, dan Hiqmal Alkhadafi yang tergabung dalam tim KKNT Inovasi DEMAKKAB07.
Subprogram AQUORA (Aquaponic for Rural Advantage) berfokus pada pemanfaatan ruang terbuka sebagai tempat budidaya ikan lele dan hidroponik skala rumah tangga, salah satunya melalui teknik Aquaponik Budikdamber (Budidaya Ikan dalam Ember) yang tidak memerlukan lahan luas dan tidak berinteraksi langsung dengan tanah.
Tim DEMAKKAB07 memanfaatkan bibit ikan lele (5–12 cm) sebanyak 30 ekor dan benih tanaman pakcoy yang terpasang dalam satu sistem ember dengan sirkulasi air yang sama. Melalui subprogram ini, masyarakat Desa Kotakan dapat memanfaatkan pekarangan rumah untuk bertani sekaligus beternak dengan lebih efisien dan pertumbuhan yang lebih cepat.
Selain AQUORA, tim KKNT Inovasi DEMAKKAB07 menghadirkan sosialisasi pestisida nabati dan praktik emposan yang termasuk dalam subprogram PROTECTA (Protection of Agricultural Area) dengan tujuan untuk membasmi hama tanaman tikus dan ulat grayak.
Tim KKNT Inovasi DEMAKKAB07 memanfaatkan bahan dapur seperti bawang putih, serai, dan lada hitam yang mengandung senyawa kimia sebagai bahan dasar pestisida nabati. Bahan alami tersebut mengeluarkan senyawa kimia yang dapat bertahan dan tidak merusak kondisi tanah.
Tim DEMAKKAB07 menggunakan 25 siung bawang putih, 10 batang serai wangi, dan 2 sendok teh lada hitam untuk menghasilkan 2 larutan pestisida nabati sebanyak 1,5 liter. Aplikasi pestisida nabati yang telah dibuat dilakukan bersamaan dengan kegiatan emposan sawah untuk membasmi hama tikus. Kegiatan praktik melibatkan petani dan Kepala Desa Kotakan sebagai mitra utama dalam kegiatan KKNT Inovasi.

Penulis: Tim KKNT Inovasi DEMAKKAB07 IPB University











