KUDUS, Harianmuria.com – Kenaikan kurs dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah dan harga kedelai impor mulai dirasakan para produsen tahu di Kabupaten Kudus. Meski belum memicu lonjakan harga tahu secara signifikan, kondisi tersebut membuat pelaku usaha mulai bersiap melakukan penyesuaian apabila situasi terus berlanjut.
Salah satu produsen tahu di Kudus, Suwijiyanto (66), mengatakan usaha tahu yang telah dirintisnya sejak 1995 kini menghadapi tantangan baru akibat kenaikan harga kedelai impor seiring menguatnya dolar AS yang menembus kisaran Rp17.600.
Menurutnya, dampak kenaikan dolar terhadap usaha tahu belum terlalu besar karena harga kedelai masih berada di bawah batas tertinggi yang dinilai memberatkan produsen. Saat ini, harga kedelai berada di kisaran Rp10 ribu hingga hampir Rp11 ribu per kilogram.
“Kalau sekarang memang ada pengaruh, tapi masih aman. Kenaikan ini sebenarnya sudah terasa sejak bulan Ramadan lalu,” ujarnya, Sabtu, 23 Mei 2026.
Ia menjelaskan, ambang harga kedelai yang mulai berat bagi pelaku usaha berada di kisaran Rp12 ribu per kilogram. Selama harga belum menyentuh angka tersebut, produsen masih berupaya mempertahankan harga jual tahu agar tidak membebani konsumen.
Namun, menurut Suwijiyanto, kondisi usaha tahu saat ini tidak hanya dipengaruhi harga bahan baku. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai ikut berdampak terhadap penjualan tahu, terutama pada warung makan yang selama ini menjadi pelanggan tetap para produsen.
Ia menyebut sejumlah warung makan mengalami penurunan pembelian tahu karena sebagian masyarakat telah mendapatkan makanan dari program tersebut. Dampaknya, permintaan tahu dari para pedagang ikut berkurang.
“Warung itu termasuk konsumen tahu dari kami. Karena penjualan warung turun, pembelian tahu juga ikut menurun. Jadi tetap ada dampaknya walaupun sedikit,” katanya.
Meski menghadapi tantangan, pihaknya belum menaikkan harga jual tahu. Saat ini, harga tahu masih bertahan di angka Rp35 ribu per papan. Satu papan tahu berukuran sekitar 50 sentimeter dengan ketebalan dua sentimeter, sementara jumlah irisan menyesuaikan kebutuhan pembeli.
Dalam sehari, tempat usahanya memproduksi sekitar tiga hingga empat kuintal kedelai. Produksi masih berjalan normal karena stok kedelai impor dinilai aman dan distribusi belum mengalami kendala.
Sebagai langkah antisipasi, para produsen mulai mempertimbangkan kenaikan harga apabila harga kedelai terus merangkak naik. Namun, hingga kini mereka memilih bertahan demi menjaga daya beli masyarakat.
Suwijiyanto berharap pemerintah dapat memperkuat swasembada kedelai agar pelaku usaha kecil tidak terus bergantung pada bahan baku impor dan gejolak nilai tukar dolar.
Selain itu, ia juga berharap program MBG dapat dievaluasi agar lebih melibatkan pelaku UMKM lokal, termasuk produsen tahu dan pedagang kecil di daerah.
“Harapannya program itu bisa direvisi supaya lebih menyentuh UMKM yang ada, jadi usaha kecil juga tetap jalan,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid











