KUDUS, Harianmuria.com – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus meminta sekolah tidak menutupi kondisi bangunan rusak hanya demi menjaga nilai akreditasi. Sekolah diminta menyampaikan data sarana dan prasarana pendidikan secara jujur agar bantuan revitalisasi dapat diberikan tepat sasaran.
Kepala Disdikpora Kudus, Harjuna Widodo, menegaskan pendataan kondisi fasilitas pendidikan harus disampaikan sesuai keadaan di lapangan tanpa rekayasa.
Menurutnya, keterbukaan data menjadi dasar pemerintah dalam menentukan prioritas bantuan perbaikan sekolah.
“Tulis apa adanya, jangan dibuat-buat,” ujarnya, Jumat, 8 Mei 2026.
Ia mengungkapkan pihaknya masih menemukan sekolah yang cenderung memanipulasi laporan kondisi bangunan agar terlihat baik dalam dokumen penilaian.
Menurutnya, langkah tersebut justru bisa membuat sekolah kehilangan kesempatan memperoleh bantuan revitalisasi.
“Jangan takut dengan akreditasi, akhirnya jadi ditutup-tutupi,” katanya.
Harjuna mengatakan manipulasi data justru berdampak merugikan bagi sekolah sendiri. Ia menyebut ketika kondisi bangunan sebenarnya rusak namun dilaporkan dalam kondisi baik, pemerintah tidak akan memasukkan sekolah tersebut sebagai prioritas penerima bantuan.
“Gedung jelek dibagus-baguskan (datanya), giliran rusak bengok-bengok,” ujarnya.
Ia menjelaskan, validitas data menjadi acuan utama pemerintah dalam menyalurkan bantuan revitalisasi sarana dan prasarana pendidikan. Dengan data yang sesuai kondisi nyata, bantuan dapat disalurkan lebih efektif kepada sekolah yang benar-benar membutuhkan.
Selain itu, Disdikpora Kudus juga menerapkan pemerataan bantuan revitalisasi. Sekolah yang telah menerima bantuan dari pemerintah pusat tidak akan kembali memperoleh bantuan dari pemerintah daerah.
Kebijakan itu diterapkan agar distribusi anggaran perbaikan sekolah dapat menjangkau lebih banyak satuan pendidikan yang belum mendapatkan bantuan.
“Kalau sudah mendapat bantuan dari pusat, maka dari daerah tidak mendapat lagi. Ini supaya bantuan bisa lebih optimal,” pungkasnya.
Jurnalis: Ahmad Abror
Editor: Rosyid











