BLORA, Harianmuria.com – Nurkholis, pemilik SPPG Randublatung Pilang 2, Kabupaten Blora, buka suara terkait dugaan operasional dapur yang berjalan tanpa tenaga ahli gizi.
Ia menegaskan, persoalan tersebut bermula dari mundurnya salah satu tenaga SPPG sebagai ahli gizi bernama Lambang Aryanto secara mendadak.
“Mas Lambang itu mengundurkan diri secara mendadak,” ujar Nurkholis, Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan sejak awal operasional dapur berjalan normal tanpa kendala. Ia menyebut Lambang merupakan tenaga yang direkrut atas rekomendasinya sebagai mitra, sementara sistem penggajian sepenuhnya ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Yang kepala dapur dari BGN, sementara tenaga gizi dan akuntan itu usulan dari kami, tapi gajinya tetap dari BGN. Jadi mitra tidak terbebani,” jelasnya.
Menurut Nurkholis, selama bekerja Lambang telah menerima haknya, termasuk gaji operasional sekitar Rp5 juta per bulan dari BGN. Namun sebelum genap satu bulan bekerja karena sempat terpotong libur Ramadan dan Lebaran, Lambang disebut menyampaikan pengunduran diri melalui pesan WhatsApp.
“Tanggal 10 dia menyampaikan mau resign, tapi besoknya langsung tidak masuk. Tidak ada komunikasi lanjutan, ditelepon juga tidak diangkat,” ujarnya.
Ia menegaskan, secara prosedur pengunduran diri seharusnya dilakukan melalui surat resmi dan disertai masa transisi agar dapur memiliki waktu mencari pengganti.
Karena hingga kini belum ada surat pengunduran diri resmi dari yang bersangkutan, pihak dapur pun belum bisa secara administrasi mengeluarkan status Lambang dari sistem.
“Ini bukan sekadar internal dapur, tapi juga terkait administrasi dengan BGN. Jadi tidak bisa langsung diganti begitu saja,” tegasnya.
Meski demikian, Nurkholis mengaku telah menyiapkan tenaga gizi pengganti sejak akhir Maret. Namun proses penggantian belum dapat dilakukan secara administratif karena status Lambang masih tercatat dalam sistem.
Ia juga membantah adanya konflik internal sebagai penyebab mundurnya Lambang. Menurutnya, hubungan kerja selama ini berjalan baik.
“Kami justru kaget dengan adanya pemberitaan ini. Karena selama di dapur, tidak ada masalah,” katanya.
Terkait penggunaan tenaga gizi dari dapur lain, Nurkholis membenarkan hal tersebut. Namun ia menegaskan bahwa tenaga tersebut sebelumnya berperan sebagai pendamping Lambang.
“Karena Lambang mengundurkan diri tanpa kepastian. Jadi sementara ditunggu kepastian tersebut, dan pendampingan itu dilakukan sejak Lambang masih bekerja,” jelasnya.
Ia menegaskan saat ini telah mendapatkan informasi bahwa keinginan Lambang adalah mengundurkan diri, dan kepastian sudah ada melalui keluhan yang diberitakan.
“Dengan adanya pemberitaan itu, jadi kita bisa langsung menugaskan ahli gizi yang sebelumnya ditahan. Per hari ini ahli gizi sudah di lokasi,” ungkapnya.
Nurkholis menambahkan, Satuan Tugas (Satgas) MBG tingkat kecamatan telah meminta klarifikasi dan pihaknya telah menyampaikan kronologi lengkap beserta bukti komunikasi terakhir dengan yang bersangkutan.
Nurkholis berharap penjelasan ini dapat menjadi informasi pembanding bagi masyarakat serta meluruskan isu yang berkembang.
“Intinya, sampai sekarang belum ada pengunduran diri resmi. Jadi posisi ini memang masih menggantung,” pungkasnya.
Sebelumnya, Lambang Ariyanto sebagai mantan ahli gizi di SPPG Randublatung Pilang 2 menyatakan keberatan karena namanya masih tercantum dalam sistem BGN meski mengaku sudah tidak bekerja selama tiga minggu di dapur tersebut.
Ia menilai dapur tersebut masih menggunakan namanya sebagai tenaga ahli gizi dalam operasional.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











