KUDUS, Harianmuria.com – Kupatan merupakan tradisi masyarakat Jawa dalam merayakan lebaran ketupat pada hari ketujuh bulan Syawal dalam kalender Hijriyah. Setiap daerah biasanya memiliki tradisi kupatan yang berbeda-beda.
Di wilayah Kabupaten Kudus, terdapat empat desa yang tahun ini akan merayakan tradisi kupatan secara meriah. Empat tradisi kupatan tersebut tahun ini diprediksi akan ramai pengunjung.
Sub Koordinator Destinasi Wisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus, M. Aflah, menyebutkan empat tradisi kupatan yang diprediksi akan ramai dikunjungi wisatawan diantaranya yakni Parade Sewu Kupot di Desa Colo, Kecamatan Dawe.
Kemudian, ada Tradisi Kupatan Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo. Lalu ada Tradisi Kupatan di Sendang Jodo, Desa Purworejo, Kecamatan Bae serta Gebyar Kupatan dan Kirab di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo.
“Kami memprediksi ada empat tradisi kupatan yang akan ramai wisatawan tahun ini,” kata Aflah, Rabu, 25 Maret 2026.
Empat tradisi tersebut sudah rutin diagendakan setiap tahun pada saat lebaran ketupat. Tradisi Sewu Kupat biasanya akan dipusatkan di Makam Sunan Muria dan Taman Ria Desa Colo, di mana akan ada kirab beberapa gunungan ketupat.
Sementara untuk Tradisi Kupatan Bulusan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo berisi rangkaian upacara yang dilakukan di Punden Mbah Dudo. Prosesi utama dalam tradisi ini adalah kirab gunungan ketupat, hasil bumi, jajanan pasar, dan miniatur bulus. Kemudian, dilanjutkan dengan prosesi sakral memberi makan bulus sebagai simbol penghormatan terhadap alam sekitar.
Selanjutnya untuk tradisi kupatan di Sendang Jodo akan dimeriahkan dengan kirab yang melibatkan banyak peserta dan diharapkan dapat menarik perhatian kaum muda-mudi yang berharap mendapatkan jodoh melalui simbolisme yang ada dalam acara tersebut.
Sedangkan untuk Tradisi Kupatan di Desa Kesambi biasanya akan dimeriahkan dengan gunungan serta perahu yang bisa digunakan untuk berkeliling rawa.
Ia mengatakan, Disbudpar Kabupaten Kudus telah melakukan monitoring ke seluruh destinasi tradisi syawalan tersebut untuk memastikan keamanan dan kelancaran setiap acara. Monitoring yang dilakukan yakni terkait kesiapan panitia serta berkoordinasi dengan Polsek masing-masing kecamatan.
“Contohnya untuk tradisi kupatan di Desa Kesambi itu kan dilakukan di objek wisata air, saat kami lakukan monitoring ternyata panitia sudah menyiapkan pelampung untuk wisatawan. Lalu juga sudah melakukan antisipasi kebencanaan besama dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah),” paparnya.
Jurnalis: Nisa Hafizhotus Syarifa











