KUDUS, Harianmuria.com – Miftah Farid, guru TK Pertiwi Desa Kuwukan, Kecamatan Dawe, Kudus, kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Nasional
Miftah Farid, akrab disapa Fafa, meraih Juara I Nasional Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) 2025 berkat inovasi pembelajaran yang diberi nama Gerobak Pintar.
Gerobak Pintar merupakan media belajar interaktif yang mampu menstimulasi enam keterampilan literasi dasar pada anak usia dini: literasi baca tulis, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya.
Guru TK yang Kreatif dan Inspiratif
Fafa, dikenal sebagai guru yang konsisten menghadirkan media pembelajaran inovatif. Ia aktif berbagi kreativitasnya melalui akun Instagram @fafa_ahfar yang kini memiliki sekitar 265 ribu pengikut.
Prestasinya bukan hanya tahun ini. Pada 2024, Fafa juga meraih Juara I Guru Kreatif Nasional Askrindo PAUD Indonesia Award melalui inovasi Alat Permainan Edukatif (APE) berupa replika mesin ATM tabungan.
Meski mengajar di wilayah lereng Gunung Muria, semangatnya tidak pernah padam untuk terus berkarya dan bersaing dengan guru-guru dari wilayah perkotaan. Ia bahkan sering diundang menjadi narasumber di berbagai sekolah di Indonesia.
Dari Lulusan SMK hingga Lanjut S2
Fafa bercerita bahwa ketika pertama kali menjadi guru, ia hanya berbekal ijazah SMK. Baru-baru ini ia menyelesaikan pendidikan S1 dan kini bersiap melanjutkan studi S2.
“Saya tidak mengejar status atau gelar. Saya ikhlas mendidik anak-anak desa agar memiliki pola pikir maju dan tidak gaptek,” ujarnya.
Latar belakangnya sebagai lulusan SMK Elektronika ternyata menjadi bekal penting dalam menciptakan berbagai media pembelajaran kreatif.

Gerobak Pintar Dikembangkan 1 Tahun
Dalam inovasi Gerobak Pintar, anak-anak diajak belajar dengan metode role play. Melalui permainan peran, guru dapat memberikan stimulasi sesuai literasi yang ingin dikembangkan.
“Misalnya saat menstimulasi literasi budaya, guru memberi kalimat pemantik seperti: ‘Anak-anak, bagaimana caranya saat kita berbelanja? Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan?’. Guru berperan sebagai fasilitator selama anak bermain,” jelas Fafa.
Gerobak Pintar dikembangkan selama satu tahun sebelum lomba dan terus diperbarui menyesuaikan minat belajar anak. Fafa juga bermitra dengan orang tua murid dalam proses pengembangannya.
“Proses pembuatannya tidak hanya berdampak pada saya, tetapi juga pada anak dan lingkungan sekitar,” tambahnya.
Jurnalis: Lingkarnews Network
Editor: Basuki











