BLORA, Harianmuria.com – Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Blora, masuk wilayah kerja Pertamina EP Cepu Field dan mendapat program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pengembangan wisata desa.
Namun, progres proyek wisata Plumpung yang diharapkan menjadi motor ekonomi desa justru banyak dipertanyakan warga.
Fasilitas Wisata Terbengkalai
Puji atau Kuntring, warga yang terlibat dalam pengelolaan wisata Plumpung, menyampaikan sejumlah proyek sempat berjalan tiba-tiba berhenti tanpa pemberitahuan resmi.
“Waktu itu dikabarkan sudah ada vendor baru untuk melanjutkan proyek. Tapi setelah itu langsung berhenti. Tidak ada sosialisasi, tidak ada penjelasan,” kata Kuntring, Senin, 24 November 2025.
Pantauan lapangan menunjukkan sejumlah fasilitas seperti paving halaman, akses jalan, area parkir, flying fox, jembatan layang, dan area camping rusak tidak terawat. Rumput liar tumbuh tinggi,
Beberapa struktur berkarat, dan sebagian fasilitas bahkan dibangun swadaya warga – bukan dari program CSR.
Warga Soroti Minimnya Transparansi
Menurut warga, transparansi menjadi persoalan utama. Tidak pernah ada informasi mengenai nilai anggaran, jenis material, mekanisme penyaluran, maupun progres tahap demi tahap.
Pertemuan terkait pengembangan wisata seringkali hanya melibatkan kelompok tertentu, tidak mengundang masyarakat luas.
“Informasinya pembangunan desa wisata sampai 2028. Tapi kelanjutannya bagaimana ya belum tahu,” kata Kuntring.
Selain persoalan fasilitas mangkrak, warga menyoroti kondisi jalan poros desa yang rusak parah. Padahal, jalur tersebut merupakan akses vital untuk warga, wisatawan, hingga operasional kendaraan perusahaan.
“Kalau aksesnya saja rusak, bagaimana wisata mau hidup? Perusahaan juga lewat sini tiap hari,” ujarnya.
Program CSR Kurang Melibatkan Warga
Adit, warga lainnya, menyoroti pembentukan kelompok penerima manfaat program CSR yang dilakukan sepihak. Contohnya, proyek agrowisata alpukat dengan nilai cukup besar, namun pelibatan warga minim.
“Tanahnya milik warga, tapi kelompoknya orangnya Pak Lurah. Tidak dimusyawarahkan,” katanya.
Warga berharap pemerintah desa, Pertamina, dan vendor membuka dialog terbuka serta memperbaiki mekanisme keterlibatan masyarakat agar CSR benar-benar memberi manfaat.
Penjelasan Kepala Desa Nglobo
Kepala Desa Nglobo, Pudik Haryanto, menyatakan bahwa pengembangan wisata Plumpung merupakan program lima tahun yang kini memasuki tahun kedua, ditargetkan selesai pada 2028.
“Desa tidak memegang anggaran CSR secara langsung karena seluruh pengerjaan ditangani vendor, sementara desa hanya menyediakan tenaga kerja lokal,” ujarnya.
CSR Pertamina setiap tahun masuk berkisar Rp300–400 juta melalui pihak ketiga. Tahun depan, rencana pembangunan fasilitas seperti kolam anak, kolam terapi ikan, taman, tambahan toilet, serta pelatihan instruktur outbound akan dilanjutkan.
Pudik menambahkan, pemanfaatan air hangat sebagai ikon wisata Desa Nglobo dihentikan dua tahun lalu akibat kasus pencemaran limbah.
“Karena tidak memiliki tanah bengkok dan tidak memiliki PADes (Pendapatan Asli Desa), Desa Nglobo berharap sektor wisata dapat menjadi sumber pendapatan dalam 3–5 tahun ke depan,” imbuhnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki











