BLORA, Harianmuria.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Blora diberhentikan sementara menyusul insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswa.
SPPG Karangjati 1 Berhenti Sementara
Kasus dugaan keracunan tersebut membuat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangjati 1 berhenti beroperasi sementara. Implikasinya, seluruh penerima manfaat yang selama ini dilayani dapur tersebut tidak mendapatkan suplai MBG untuk sementara waktu.
Ketua Satgas MBG Blora sekaligus Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini, mengungkapkan hal itu dalam rapat koordinasi pada Kamis sore, 27 November 2025.
“Sementara off semua (penerima manfaat dari SPPG Karangjati 1), karena ada pemberhentian dari BGN (Badan Gizi Nasional),” jelasnya.
Baca juga: Ratusan Siswa SMPN 1 Blora Keracunan Diduga Usai Makan Menu MBG
Banyak Siswa Mengaku Trauma
Sri Setyorini mengatakan sudah menengok siswa yang dirawat di rumah sakit. Banyak di antara mereka masih trauma terhadap makanan MBG.
“Yang saya temui masih trauma. Program ini berhenti sampai trauma siswa hilang dan hasil lab terhadap menu MBG keluar,” ujarnya.
Baca juga: Ratusan Menu MBG di SMPN 1 Blora Ditarik setelah Ratusan Siswa Alami Diare
Total 122 Kasus, 3 Masih Rawat Inap
Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Blora, Nur Betsia Bertawati, melaporkan jumlah korban terduga keracunan MBG, baik di RS Dinas Kesehatan Tentara (DKT) maupun RSUD Blora, tercatat 122 kasus. Dengan rincian 117 kasus dinyatakan rawat jalan dan 5 kasus tercatat rawat inap..
“Saat ini yang masih menjalani rawat inap 2 orang di DKT, dan 1 orang di RSUD, saat ini sudah membaik, mudah-mudahan besok diperbolehkan pulang,” katanya.
Ia menambahkan bahwa obat yang diberikan disesuaikan dengan gejala, mulai dari mual, muntah, hingga diare.

Dinkesda Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
Dinkesda Blora telah melakukan serangkaian investigasi epidemiologi, meliputi kunjungan ke dapur SPPG, pemeriksaan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), dan meninjau penerapan standard operating procedure (SOP) dapur.
“Selain itu kami juga memeriksa kondisi bangunan dan peralatan yang digunakan, penyajian makanan hingga proses distribusi makanan ke penerima manfaat, ” jelasnya.
Menunggu Hasil Lab BLK Semarang
Nur Betsia menegaskan bahwa penyebab pasti keracunan belum dapat dipastikan sebelum hasil uji laboratorium keluar. Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel makanan, feses, muntahan, hingga air.
“Saat ini masih terduga keracunan. Semua sampel sudah kami kirim ke BLK Semarang. Estimasi hasil keluar sekitar satu minggu,” terangnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Basuki











