Kamis, Januari 8, 2026
  • Tim Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Kerjasama & Iklan
Harianmuria.com
  • Home
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jawa Barat
    • DIY
    • Jawa Timur
  • Seputar Jateng
    • Pati
    • Kudus
    • Jepara
    • Rembang
    • Demak
    • Semarang
    • Blora
    • Grobogan
    • Kendal
  • Artikel
    • Kesehatan
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Tips
    • Travelling
    • Silabus & RPP
    • Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • HMTV
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Harianmuria.com
  • Home
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jawa Barat
    • DIY
    • Jawa Timur
  • Seputar Jateng
    • Pati
    • Kudus
    • Jepara
    • Rembang
    • Demak
    • Semarang
    • Blora
    • Grobogan
    • Kendal
  • Artikel
    • Kesehatan
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Tips
    • Travelling
    • Silabus & RPP
    • Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • HMTV
  • Tim Redaksi
No Result
View All Result
Harianmuria.com
No Result
View All Result

Beranda - Kajian Agama - Suluk Maleman Edisi 166: Ibu Adalah Punjer Peradaban

Suluk Maleman Edisi 166: Ibu Adalah Punjer Peradaban

Basuki by Basuki
20 Oktober 2025 09:33
in Kajian Agama, Artikel
0 0
Suluk Maleman edisi 166 mengangkat tema "Sejarah Dimulai Dari Rumah" yang menyoroti peran ibu sebagai pusat peradaban dan pentingnya pendidikan dalam keluarga menghadapi tantangan kapitalisme.

Anis Sholeh Ba’asyin dan Dr Abdul Jalil dalam NgAllah Suluk Maleman “Sejarah Dimulai Dari Rumah” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Pati, Sabtu, 18 Oktober 2025. (Dok. Pribadi/Harianmuria.com)

Share on FacebookShare on WatsApp

PATI, Harianmuria.com – Suluk Maleman edisi ke-166 digelar pada Sabtu, 18 Oktober 2025, mengusung tema “Sejarah Dimulai Dari Rumah”. Kegiatan ngaji budaya tersebut memantik persoalan keberadaan sosok ibu sebagai pusat peradaban.

Bagi Anis Sholeh Ba’asyin, penggagas Suluk Maleman, hadis “surga di bawah telapak kaki Ibu” tak hanya untuk dilihat dari sisi seorang anak ke ibunya. Ia justru memiliki sudut pandang terkait bagaimana seorang ibu mempersiapkan surga bagi anaknya.

“Barangkali bisa juga, bagaimana ibu mendidik anak-anaknya agar dapat selamat di dunia dan akhirat. Cara ibu mendidik anak bisa jadi akan sangat berpengaruh ke anaknya kelak,” celetuk Anis membuka ruang kontemplasi dalam acara tersebut.

Ibu adalah Sekolah Pertama Anak

Anis menekankan bagaimana seorang perempuan dan ibu harus benar-benar terdidik, karena ibu merupakan ruang sekolah pertama bagi anak-anaknya.

“Ibu akan menciptakan peradaban. Mengambil dari masa lampau dan nilai-nilai yang diserap untuk diajarkan ke anak-anaknya. Maka ibu harus benar-benar terdidik untuk menciptakan generasi masa depan,” katanya.

Ia juga menyoroti syair Kahlil Gibran tentang anak merupakan anak panah yang dilepaskan. Penggalan sastra itu bukan mengajarkan bagaimana orang tua terpisah dari anak-anak namun sebaliknya.

“Anak panah sebelum diluncurkan tentu akan dipersiapkan dengan sedemikian rupa. Bagaimana arahnya, kekuatan hentakan dan lainnya. Persiapan sedemikian rupa itu agar anak punya nilai yang dasar sehingga mampu diaplikasikan saat dewasa,” imbuhnya.

Makna Emansipasi dan Tantangan Kapitalisme

Anis justru menyayangkan pemahaman emansipasi yang kerap disalahartikan. Emansipasi banyak dipahami tentang kebolehan istri bekerja hingga meninggalkan tugas utamanya dalam mendidik anak-anaknya.

“Emansipasi sebenarnya harus lebih kepada keterdidikan. Karena dengan pendidikan itu akan berpengaruh besar,” tambahnya.

Meski begitu, Anis menyadari saat ini ada sistem besar yang membuat hal itu harus terjadi. Yakni kapitalisme. Sistem itu memaksa kedua orang tua sama-sama sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Sistem kapitalisme, lanjut Anis, memaksa orang untuk hidup dengan standar hidup tertentu. Ironisnya standar itu didasarkan pada yang bersifat duniawi. Hal itu pulalah yang memaksa kedua orang tua bekerja bersama-sama agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.

“Anak yang kurang mendapat perhatian dari orang tua justru mendapatkannya dari gawai yang tentu banyak memiliki sisi negatif,” terangnya.

Peradaban Dimulai dari Rumah

Saat anak bermain dengan lingkungan tentu akan mudah diperhatikan dan dikontrol. Hal itu justru jauh berbeda dengan penggunaan gawai. Sistem pengawasan akan semakin sulit dan dengan nilai yang tidak lagi bisa terkontrol.

“Dulu orang tua bisa mengontrol bagaimana tindak laku, maupun dengan siapa saat anaknya bermain. Tapi sekarang tidak bisa. Karena bukan lagi anak keluar untuk menemukan nilai-nilai di lingkungan. Namun sekarang justru nilai luar yang masuk ke ruang keluarga tanpa terkontrol,” khawatir Anis.

Oleh karena itulah Anis menyebut peradaban harus dimulai dari rumah. Masa depan seharusnya dibentuk dari rumah.

“Ada situasi yang dapat direnungkan. Jika seorang anak tiba-tiba datang ke orang tuanya membawa uang hasil korupsi, lantas bagaimana sikap orang tua? Apakah menolak, menerima atau bahkan bangga? Sikap seperti inilah yang kemudian juga akan berdampak besar pada peradaban kita nantinya,” urainya.

Anis juga memberi contoh lainnya. Seorang istri yang mengatakan ketertarikannya pada hal bersifat duniawi seperti mobil atau rumah, akan menjadi godaan terbesar seorang suami untuk berperilaku korupsi nantinya.

“Maka tonggak pertama penjagaan harus dari rumah. Nilai-nilai harus dibangun dari rumah. Ibu membangun pintu surga, tapi bapak membuka pintu dunia,” ujar dia.

Anis juga mengingat pengajaran dari KH Abdullah Salam. Dimana selalu beranggapan perempuan harus terdidik untuk mendidik anaknya. Oleh karena itulah dia menyayangkan anggapan sekolah hanya untuk bekerja.

“Dulu itu profesi ibu rumah tangga justru yang paling mulia. Kenapa sekarang malah dianggap rendah?” sesalnya.

Budayawan asal Kudus, Dr Abdul Jalil menambahkan nilai yang diajarkan Al Ghozali pada 700 tahun lalu mengajarkan urutan prioritas dalam menjalani hidup. Yakni ilahi, agama, kecerdasan otak, baru kapital dan terakhir nilai keluarga.

“Tapi kenapa sekarang terbalik, kapital dan keluarga justru menjadi nomor empat dan lima. Sementara ilahi, agama dan kecerdasan justru menjadi belakang?” tuturnya.

Kapitalisme Menggeser Prioritas Hidup

Abdul Jalil menyebut sistem kapitalisme lah yang membuat fenomena itu terjadi. Dalam sistem itu memberi penegasan bahwa nilai itu adalah kapital. Sehingga menempatkan siapapun yang memiliki uang banyak yang menang.

“Maka saya bersepakat dengan Bib Anis, bahwa peradaban harus dimulai dari terkecil yakni keluarga. Penting juga menyamakan persepsi antar keluarga akan nilai apa yang dipakai dalam keluarga tersebut,” terangnya.

Menurut Abdul Jalil, lini tersebut juga harus merangkum keluarga inti, keluarga besar mau pun lingkungan pendidikan. Ini yang harus diperkuat, karena harus menghadapi tantangan dari lingkungan makro yang tidak sederhana.

Diskusi yang begitu mendalam membuat ribuan masyarakat yang menyaksikan secara langsung maupun lewat berbagai kanal media sosial itu terlarut dalam ngaji budaya Suluk Maleman. Penampilan musik dari Sampak GusUran membuat acara yang rutin digelar setiap bulan itu kian hangat.

Editor: Basuki

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Anis Sholeh Ba’asyinBerita PatiemansipasiIbu pusat peradabankapitalismengaji budayanilai keluargaPati Hari Inipendidikan ibuSuluk Maleman 166

Related Posts

Pelajari cara efektif menyusun peta proses bisnis untuk meningkatkan efisiensi, kejelasan peran, dan kinerja organisasi secara berkelanjutan.
Artikel

Cara Efektif Menyusun Peta Proses Bisnis

22 Desember 2025
Peta proses bisnis menjadi kunci efisiensi tata kelola organisasi dan instansi.
Artikel

Mengenal Peta Proses Bisnis: Kunci Efisiensi Tata Kelola Organisasi dan Instansi

22 Desember 2025
Refleksi mendalam Anis Sholeh Ba’asyin dalam Suluk Maleman edisi 168 tentang runtuhnya empat saka guru bangsa dan tantangan peradaban Indonesia hari ini.
Kajian Agama

Suluk Maleman Edisi 168: Merekonstruksi Empat Saka Guru Bangsa

22 Desember 2025
Pada Hari HAM Sedunia 10 Desember, nasib 400 warga Indonesia masih menggantung karena status tersangka yang tak kunjung disidangkan.
Artikel

Hari HAM Sedunia, 400 Orang Nasibnya Digantung

10 Desember 2025
Load More
Next Post
Warga Tunggulsari, Kendal, dirikan posko Aliansi Peduli Lingkungan untuk kawal pemeriksaan kades dan menolak tambang galian C.

Warga Tunggulsari Kendal Dirikan Posko, Kawal Pemeriksaan Kades dan Tolak Galian C

Berita Utama

BPBD Jepara sigap menangani berbagai bencana Desember 2025, mulai pohon tumbang, rumah rusak, hingga evakuasi warga dan hewan berbahaya.
Jepara

BPBD Jepara Gerak Cepat Tangani Serangkaian Kejadian Bencana Selama Desember 2025

15 Desember 2025
BPBD Jepara menyalurkan bantuan logistik kepada warga Desa Tunahan, Kecamatan Keling, yang terdampak angin kencang.
Jepara

BPBD Jepara Salurkan Bantuan Logistik untuk Warga Terdampak Angin Kencang di Tunahan

10 Desember 2025
BPBD Jepara menerima bantuan truk tangki 4.000 liter dari pemerintah pusat untuk memperkuat armada penanggulangan bencana, khususnya distribusi air bersih di wilayah rawan kekeringan.
Jepara

BPBD Jepara Terima Truk Tangki 4.000 Liter, Perkuat Armada Penanggulangan Bencana

10 Desember 2025
BPBD Jepara mengirim satu personel untuk membantu penanganan banjir di Sumatra Barat sebagai bentuk dukungan Pemprov Jateng terhadap percepatan pemulihan pascabencana.
Jepara

BPBD Jepara Tugaskan Satu Personel Bantu Penanganan Banjir di Sumatra Barat

9 Desember 2025
Harianmuria.com

Adalah media online yang menayangkan berita terbaru di Jawa Tengah. Berita yang kami sajikan padat, terpercaya, dan mencakup informasi terkini di wilayah Karesidenan Pati.

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Alamat Kantor
  • Hubungi Kami

© 2024 Harianmuria.com - PT. MEDIATAMA ANUGRAH PERS

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
    • Jabodetabek
    • Jawa Barat
    • DIY
    • Jawa Timur
  • Seputar Jateng
    • Pati
    • Kudus
    • Jepara
    • Rembang
    • Demak
    • Semarang
    • Blora
    • Grobogan
    • Kendal
  • Artikel
    • Kesehatan
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Tips
    • Travelling
    • Silabus & RPP
    • Opini
  • Hukum & Kriminal
  • Politik
  • Pendidikan
  • HMTV
  • Tim Redaksi

© 2024 Harianmuria.com - PT. MEDIATAMA ANUGRAH PERS