PATI, Harianmuria.com – Di Kabupaten Pati, tepatnya di Desa Muktiharjo, Kecamatan Kota, terdapat sebuah bangunan sejarah kuno yang masih dilestarikan sampai sekarang. Bangunan kuno yang dikenal warga dengan sebutan Pintu Gerbang Majapahit itu menjadi saksi sejarah peperangan antara putra Sunan Muria dan murid Sunan Ngerang.
Pintu Gerbang Majapahit berasal dari kayu jati yang usianya mencapai ratusan tahun. Ukiran-ukiran pewayangan dan kisah Kerajaan Majapahit, menghiasi bangunan yang sekarang sudah diakui menjadi benda cagar budaya.
Juru Kunci Gerbang Majapahit Budi Santoso (83) menceritakan, sejarah di balik adanya Pintu Gerbang Majapahit. Pada tahun 1479, Sunan Muria yang memiliki istri bernama Dewi Hapsari mempunyai anak bernama Raden Bambang Kebo Nyabrang. Namun ceritanya Ibu Raden Bambang meninggal dunia usai melahirkan. Oleh karena itu, Raden Bambang Kebo Nyabrang diasuh oleh kakeknya hingga dewasa.
“Gerbang Majapahit atau dikenal dengan Bajang Ratu, jadi tahun 1479 di kota Pati ke barat masih hutan belantara. Ada sebuah kisah Raden Bambang Kebo Nyabrang adalah anak Sunan Muria dengan ibu Dewi Hapsari. Pada suatu hari setelah Dewi Hapsari, menjadi istri Sunan Muria, setelah Sunan Muria pulang ke Gunung Muria lalu melahirkan seorang anak laki-laki yang bernama Raden Bambang Kebo Nyabrang,” terang Budi, Senin 6 Mei 2024.
Setelah dewasa, Raden Bambang Kebo Nyabrang ingin statusnya sebagai anak Sunan Muria diakui. Sehingga ia datang ke Gunung Muria. Namun, Sunan Muria belum mempercayai jika Raden Bambang Kebo Nyabrang adalah anaknya. Sunan Muria mau mengakui sebagai anaknya jika Raden Bambang Kebo Nyabrang bisa membawakan pintu gerbang Majapahit. Singkat cerita dia pergi mengambil pintu gerbang Majapahit.
“Setelah dewasa karena ibunya meninggal setelah melahirkan, datang ke Gunung Muria mengakui anaknya, tapi Sunan Muria belum percaya akhirnya percaya kalau Raden Kebo Nyabrang bisa membawa pintu Gerbang Majapahit yang namanya Bajang Ratu dari bekas Kerajaan Majapahit dalam waktu sehari. Harus sampai di Gunung Muria, lalu Bambang Kebo Nyabrang berangkat,” jelasnya.
Disisi lain, terdapat murid Sunan Ngerang bernama Raden Ronggo yang ingin mempersunting Roro Puji Wati atau Roro Puji Wat anak dari Sunan Negrang dengan syarat membawakan gerbang Majapahit. Lantas, Raden Ronggo pun berangkat mengambil pintu Majapahit tersebut.
“Lalu di sisi lain,murid Sunan Ngerang yang namanya Ronggo ingin memperistri Roro Puji Wati, Roro Puji Wati juga minta keinginan yang sama membawa pintu gerbang Majapahit, makanya ingin menjadi istrinya kamu harus bisa membawa pintu bajang ratu bekas kerajaan Majapahit yaitu di Trowulan dalam tempo satu hari,” jelas Budi.
Saat akan mengambil Pintu Gerbang Majapahit, Raden Ronggo didahului oleh Raden Bambang Kebo Nyabrang. Raden Ronggo pun langsung mengejarnya sampai di Kota Pati.
Keduanya, ketemu di daerah Pati yang sekarang dikenal dengan Dukuh Rendole Desa Muktiharjo. Mereka berperang untuk merebutkan Pintu Gerbang Majapahit.
“Raden Ronggo meminta pintu itu, tapi Raden Bambang tidak boleh, sehingga timbul peperangan. Di sini perang selama 35 hari tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Lalu Sunan Muria turun ke sini di situ ada piringan melihat ada kedua bocah yang perang,” terang dia.
Budi menerangkan, perang antara Raden Ronggo dengan Raden Bambang Kebo Nyabrang berlangsung selama 35 hari. Mengetahui hal tersebut, Sunan Muria lalu datang untuk melerai keduanya. Hingga kemudian Sunan Muria mengakui Raden Bambang Kebo Nyabrang sebagai anaknya. Sedangkan Raden Ronggo kembali menemui calon istrinya dengan membawa serpihan gerbang Majapahit.
“Terus ke sini, Sunan Muria minta kedua untuk berhenti berperang, wis le podo lerenno, wong sak loro kok podo bandole (sudah pada berhenti kalian, kedua anak ini kok sama bandole) berhenti karena pintu gerbang Majapahit tidak bisa dibawa ke Gunung Muria, pintu ini jaga, setelah dibilang jaga oleh Sunan Muria,Raden Kebo Nyabrang itu mati, maka dayangnya Raden Bambang, terus Raden Ronggo dikaksih katek dibawa ke Ngerang, karena putri butuhnya pintu lawang, terus akhirnya lari ke arah barat,” ungkap Budi. (Lingkar Network | Setyo Nugroho – Harianmuria.com)











