BLORA, Harianmuria.com – Cabang Dinas Wilayah IV Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah melakukan mediasi antara komite dan pihak sekolah SMA N1 Randublatung, Kabupaten Blora. Hal ini menyusul adanya miskomunikasi antara komite dengan pihak SMA N 1 Randublatung terkait anggaran revitalisasi sebesar Rp2,3 miliar yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Kemendikdasmen 2026.
“Dari kami menindaklanjuti informasi dari berita-berita yang beredar dan masuk ke kami (Cabdin Wilayah IV Pendidikan Provinsi). Karena persoalan ini sudah masuk ke Dinas Induk,” ungkap Faris Aulia Risa, Kasi SMA dan SLB Cabdin Wilayah IV, setelah melakukan mediasi di SMA N 1 Randublatung, Selasa, 21 Juli 2026.
Pada kesempatan itu, dirinya memberikan banyak catatan dan masukan agar kedua pihak dapat membuka komunikasi demi kemajuan sekolah. Harapannya tercapai kesepakatan yakni komite sekolah dapat menyelesaikan masa jabatan hingga selesai tanpa harus melakukan reorganisasi.
“Terkait revitalisasi ini bantuan dari pusat bukan APBD. Sehingga kami hanya monitoring dan evaluasi. Jadi semua yang mengajukan dari sekolah kami hanya merekomendasikan,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua Komite SMA N 1 Randublatung, Iksan Afandi, mengungkapkan kebuntuan komunikasi terjadi sejak tahun 2024. Sehingga seluruh kegiatan anggaran yang dilakukan oleh sekolah tidak diketahui oleh komite.
“Sejak tahun 2024 saya dilantik ketua komite, ini dua tahun (terakhir) untuk pertama kali ada rapat pembicaraan komite dengan pihak sekolah, atas undangan dari sekolahan atas inisiatif sekolahan. Kita mengucapkan terimakasih,” ujar Iksan.
Iksan juga mengungkapkan selama terjadi kebuntuan komunikasi, pihak komite tidak mengetahui anggaran yang masuk ke SMA N 1 Randublatung.
Selain itu, ia mengaku telah menarik diri dari panitia pembangunan dalam program bantuan revitalisasi dari pemerintah pusat. Pasalnya selama pembentukan panitia, ia tidak dilibatkan dan hanya dilakukan penunjukan dari pihak sekolah.
“Terkait Revitalisasi, komite tetap mendukung dan mensukseskan. Akan tetapi dukungan tidak harus di dalam pembangunan tersebut,” katanya.
Meskipun begitu, ia berharap bisa merampungkan masa jabatannya hingga akhir, dengan syarat pihak sekolah harus satu tujuan dengan komite untuk membuka ruang dialog. Pasalnya selama ini ia mengaku tidak dilibatkan pembahasan apapun termasuk bantuan revitalisasi.
“Dengan visi memajukan SMA negeri 1 Randublatung saya minta terbuka dalam semua hal. Bapak kepala sekolah disaksikan Cabdin berjanji memperbaiki semuanya,” katanya.
Dengan demikian, kebuntuan komunikasi yang selama ini terjadi antara komite dan sekolah sudah terselesaikan. Sehingga dirinya bersama pihak sekolah berkomitmen untuk membuka ruang diskusi bersama.
“Mulai hari ini kita akan jalin komunikasi dengan baik. Kita sepakat menjalin komunikasi yang lebih terbuka dalam segala hal,” katanya.
Ia menegaskan tidak berniat menjadi pesaing pihak sekolah. Namun ia berkeinginan memajukan SMA N 1 Randublatung. Terlebih ia sendiri merupakan alumni dari sekolah tersebut.
“Kita tidak pernah mempertanyakan ke pihak sekolah. Selama 2 tahun kita hanya datang bila ada undangan. Kalau kita mempertanyakan A sampai Z kok kayaknya kurang etis,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA N 1 Randublatung, Harmoko mengakui adanya miskomunikasi dengan pihak komite. Ia berjanji akan memperbaiki komunikasi tersebut dengan maksimal dan selama tiga bulan siap melakukan koordinasi dengan komite sekolah.
“Saya disini (sebagai kepala sekolah) masih baru, jadi saya baru mau memperbaiki semua sistem yang dievaluasi dari komite sekolah kami,” ujarnya.
Ia menegaskan, dari pertemuan tersebut tidak ada perombakan panitia pembangunan dari program revitalisasi. Namun ia meminta agar komite tetap mengawal pembangunan SMA N 1 Randublatung hingga selesai.
“Sehingga kita berjalan sesuai perencanaan, walaupun sesuai yang dikatakan Pak Iksan, mengawal bukan berarti di dalam,” katanya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Sekar











