KUDUS, Harianmuria.com – Sekitar empat tahun terakhir, Kabupaten Kudus berhasil mencatatkan nol kasus rabies. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) tetap menyediakan vaksinasi rabies gratis untuk hewan kesayangan.
Vaksinasi kali ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Rabies Sedunia atau World Rabies Day bagi 150 hewan kesayangan. Layanan dipusatkan di Puskeswan Besito, Desa Besito, Kecamatan Gebog dan digelar pada Senin dan Selasa, 5-6 Oktober 2026.
Kepala Bidang Peternakan Dispertan Kudus, Arin Nikmah mengatakan vaksinasi gratis disediakan untuk hewan kesayangan seperti kucing, anjing, maupun kera.
“Pada tanggal 5 dan 6 Oktober 2026, kita dalam rangka Hari Rabies Sedunia menyelenggarakan fasilitasi vaksinasi rabies gratis dengan kuota 150 ekor untuk hewan kesayangan,” kata Arin, Minggu, 4 Oktober 2026.
Pendaftaran dibuka melalui tautan yang telah disediakan Dispertan Kudus dan masyarakat tidak dipungut biaya untuk mendapatkan layanan tersebut.
Menurut Arin, pemilihan Puskeswan Besito sebagai lokasi vaksinasi sekaligus untuk mengenalkan fasilitas kesehatan hewan milik pemerintah kepada masyarakat.
“Sekaligus juga mengenalkan kepada masyarakat berkaitan dengan lokasi Puskeswan yang kita miliki, supaya lebih familiar juga ke masyarakat,” bebernya.
Ia menyebutkan, hewan yang akan divaksin minimal berusia empat bulan dan dalam kondisi sehat. Hewan tidak sedang bunting atau hamil maupun menyusui. Pemilik juga dianjurkan telah memberikan obat cacing dan kutu sebelumnya. Kemudian vaksinasi dapat kembali diberikan apabila jarak dengan vaksinasi sebelumnya telah lebih dari enam bulan.
Arin menegaskan vaksinasi bukan sekadar perlindungan bagi hewan, tetapi juga bagian dari pencegahan penyakit yang dapat mengancam manusia.
“Vaksin itu penting karena sebagai upaya mitigasi atau pencegahan. Rabies itu termasuk salah satu penyakit yang bisa menyerang manusia juga, termasuk zoonosis,” jelasnya.
Terlebih, hewan kesayangan memiliki intensitas interaksi cukup tinggi dengan pemilik dan orang lain di lingkungan sekitar. Karena itu, ia menekankan pencegahan lebih penting dilakukan sebelum muncul kasus.
“Sebagai langkah upaya supaya tidak sampai kena penyakit rabies. Karena rabies itu ancamannya bisa sampai ke kematian,” imbuhnya.
Arin menyebut Kudus pernah menemukan anjing dengan gejala rabies sekitar empat hingga lima tahun lalu. Setelah diperiksa, anjing tersebut dinyatakan positif dan kemudian dimusnahkan. Namun, kasus tersebut tidak sampai menular kepada manusia.
Sejak saat itu, tidak ditemukan kembali kasus rabies di Kudus. Ia berharap kondisi saat ini dapat dipertahankan.
“Sepele sepertinya, tapi itu bisa membantu kita untuk mencegah,” pungkas Arin.
Jurnalis: Lingkar Network/Fahtur Rohman
Editor: Sekar











