• Peta Situs
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kabar Hari Ini
Jumat, Oktober 16, 2026
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Rembang
    • Grobogan
    • Pati
    • Jepara
    • Kendal
    • Demak
    • Kudus
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
No Result
View All Result
harianmuria
No Result
View All Result

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

ulfa puspa by ulfa puspa
30 September 2026
in Artikel
72 5
ILUSTRASI: Proses otomasi pembuatan robot. (magnific)

ILUSTRASI: Proses otomasi pembuatan robot. (magnific)

591
VIEWS
Tanya ChatGPTShare to FacebookWhatsAppTelegram

Harianmuria.com – Muncul paradoks yang besar dengan munculya budaya digital. Niat awalnya manusia menciptakan mesin pintar agar bisa membantu mengatasi problem hidupnya sehingga kehidupan lebih mudah dan nyaman dijalani. Tetapi perlahan-lahan mesin berbalik mengendalikan bagaimana manusia berpikir dan berperilaku. Manusia membuat algoritma – diambil dari nama Al-Khawarizmi – untuk membantu menganalisis berbagai masalah untuk menetapkan keputusan, tetapi pada urutannya tanpa disadari berbagai keputusan itu diserahkan kembali kepada algoritma yang selalu memantau, melayani dan memberikan rekomendasi tentang apa yang mestinya kita lakukan. Pendeknya, manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran, tetapi lama-lama kecerdasan buatan itu yang menjadi sandaran menggantikan kinerja otak dan pikiran kita. Di titik inilah muncul figur baru yang disebut algo sapiens, menggeser posisi homo sapiens.

Algo sapiens bukanlah manusia yang berubah menjadi robot. Dia tetap manusia yang memiliki tubuh biologis, emosi, keinginan, agama, keluarga dan kehidupan sosial. Tetapi metode dan kebiasaan berpikirnya berubah, dikendalikan oleh algoritma. Semakin banyak keputusan dalam hidupnya dibentuk oleh sistem algoritmik: apa yang dibaca, apa yang ditonton, barang apa yang dibeli, berita apa yang dipercayai, bahkan apa yang dianggap penting. Meskipun hidupnya dikendalikan dari luar, algo sapiens tetap merasa memiliki kebebasan karena tidak melihat rantai pengikatnya tidak terlihat. Algoritma bekerja tidak seperti polisi yang mengatur lalu lintas dengan peluitnya.

Algo Sapiens

Selama ribuan tahun manusia membangun peradaban berdasarkan pikiran dan pilihan bebasnya. Kebebasan bukan berarti manusia selalu memperoleh apa yang diinginkannya, tetapi mereka memiliki ruang untuk menentukan pilihannya. Tetapi sekarang ini teknologi digital hadir  memperkenalkan jenis kekuasaan baru yang terlihat sosoknya, namun sangat impressif dan efektif pengaruhnya. Coba bandingkan, kekuasaan lama bekerja dengan perintah: “Lakukan ini atau itu !” Teknologi digital hadir dengan bujuk rayu yang jauh lebih halus: “Saya tahu apa yang Anda inginkan dan saya punya saran apa yang sebaiknya Anda lakukan”. Kemudian sistem mengatur pilihan yang muncul di depan kita.

Di sinilah pemikiran Shoshana Zuboff menjadi penting kita perhatikan. Dalam The Age of Surveillance Capitalism (2018), Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat diekstraksi menjadi data perilaku (behavioral data), kemudian diproses menjadi prediksi tentang apa yang akan dilakukan seseorang sekarang, sebentar lagi, atau di masa depan. Prediksi tersebut kemudian memiliki nilai ekonomi dalam apa yang ia sebut sebagai behavioral futures markets. Dengan demikian, manusia bukan hanya pengguna teknologi, melainkan juga menjadi sumber bahan baku algoritma dan teknologi digital.

Kita menghasilkan data ketika mencari sesuatu di Google, menggunakan media sosial, bergerak dengan telepon pintar, berbelanja secara daring, menonton video, berbicara dengan perangkat digital, bahkan ketika kita berhenti pada sebuah gambar beberapa detik lebih lama daripada gambar lainnya. Aktivitas sehari-hari menghasilkan tambang data. Semakin banyak data yang tersedia, semakin akurat sistem membaca pola perilaku kita.

Pada tahap pertama, algoritma hanya membaca pikiran dan emosi kita. Ia mencatat apa yang kita sukai. Lalu tahap berikutnya algoritma mulai memprediksi apa yang akan kita lakukan. Pada tahap ketiga algoritma pelan-pelan akan membentuk perilaku kita. Di sinilah salah satu titik paling tajam dalam analisis Zuboff. Persaingan untuk menghasilkan prediksi yang semakin akurat mendorong sistem bukan hanya mengumpulkan lebih banyak data, tetapi juga melakukan intervensi terhadap perilaku agar perilaku tersebut semakin dapat diprediksi dan diarahkan.

Dengan demikian , menurut Zuboff, terjadi perubahan paradigma: surveillance → prediction → intervention → behavioral modification. Bermula dari pengawasan, berujung padapengendalian perilaku. Inilah yang membuat era algoritma berbeda dari sekedar era komputer.

Ancaman Terhadap Pikiran

Franklin Foer dalam bukunya World Without Mind (2017)membawa persoalan ini ke wilayah yang lebih dalam.  Foer tidak hanya mengkhawatirkan tergerusnya ruang privasi, melainkan terancamnya otonomi pikiran manusia. Menurut Foer, perusahaan teknologi besar telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan berpikir. Algoritma dapat mendorong manusia menuju konformitas, mempersempit pengalaman informasi, dan mengikis ruang bagi kontemplasi pribadi serta pikiran yang otonom. Seseorang mungkin secara fisik bebas pergi ke mana saja, memilih belanja membeli barang apa saja, masuk restauran sesuai pilihannya. Tetapi betulkah semua itu keluar dari pilihan bebasnya ataukah sudah terkondisikan oleh rekomendasi algoritma? Jika seluruh pikirannya dibentuk oleh sistem rekomendasi yang disajikan algoritma, seberapa bebas sesungguhnya pilihan tersebut

Misalnya, seseorang membuka internet dengan niat mencari informasi. Dia merasa sedang memilih sesuai dengan seleranya. Tetapi algoritma telah menentukan dan menyodorkan urutan informasi yang muncul. Di lain kesempatan dia memilih video. Tetapi sistem telah mempelajari  jenis video apa yang cocok dengan seleranya. Atau dia merasa menemukan sebuah gagasan baru. Tetapi gagasan itu mungkin telah dipilihkan untuknya berdasarkan ribuan jejak perilaku sebelumnya. Jadi, seseorang memang tidak kehilangan kemampuan memilih. Tapi yang terjadi adalah kehilangan kesadaran tentang siapa yang membentuk dan menyediakan lanskap medan pilihannya.

Penjara Tanpa Jeruji

Jadi, algo sapiens juga menampilkan bentuk kekuasaan dan penjara baru yang berbeda dari penjara klasik yang memiliki tembok yang dijaga oleh polisi. Kekuasaan algoritmik tidak selalu memerlukan tembok dan menebarkan ancaman, melainkan cukup mengatur lingkungan pilihan. Kita masih dapat memilih, tetapi pilihan-pilihan yang tersedia telah disusun. Kita masih dapat membaca, tetapi bacaan apa yang muncul pertama sudah dipilihkan berdasarkan sistem rekomendasi. Dengan demikian, bentuk kekuasaan baru ini tidak selalu menggunakan kata perintah,cukup menyediakan obyek atau informasi yang cocok dan kita butuhkan berdasarkan rekam jejak yang telah dipelajari oleh sistim algoritma.

Masyarakat Yang Cemas

Meskipun teknologi supercanggih telah membantu kebutuhan hidup masyarakat moderen, kecemasan manusia tidak berarti hilang. Perasaan senang, kecewa, cemas, jatuh cinta, bahagia adalah sifat bawaan manusiawi yang tidak bisa digantikan oleh mesin secanggih apapun.  Dalam The Anxious Society, Han Byung membaca zaman kita ini sebagai zaman yang diliputi kecemasan: takut gagal, tertinggal, tersingkir, kehilangan masa depan, dan kehilangan kemampuan mengendalikan kehidupan sendiri. Kecemasan semacam itu dapat menghancurkan solidaritas dan membuat manusia semakin terisolasi. Merasa sepi dalam keramaian.

Jika gagasan Han ditempatkan berdampingan dengan Zuboff dan Foer, kita mendapatkan sebuah rangkaian yang menarik. Zuboff menjelaskan bagaimana manusia selalub dipantau dan diawasi. Foer menjelaskan bagaimana pikiran manusia terancam kehilangan otonomi. Han Byung-chul menjelaskan kondisi eksistensial manusia yang semakin cemas dan kesepian. Ketiganya bertemu pada satu pertanyaan: Apa yang terjadi ketika algo sapiens semakin kehilangan kemampuan mengendalikan hidupnya sendiri dan tidak jelas memandang makna dan tujuan hidupnya?

Saat ini kita memang semakin mudah memperoleh informasi melalui teknologi digital, tetapi semakin sulit membedakan informasi yang betul-betul kita cari dan informasi yang hadir membanjiri dan mengurung kita yang disediakan oleh algoritma. Semua ini awalnya tentu dirasakan sebagai kemudahan, keasyikan dan kenyamanan yang kemudiaan menjadi kebiasaan dan ketergantungan. Bahayanya, kebiasaan ini akan memperlemah dan mendegradasi kapasitas kita sebagai homo sapiens. Daya ingatnya tidak terlatih. Daya analisisnya jadi tumpul. Manusia perlahan kehilangan pengalaman berharga dari salah memilih dan belajar dari kesalahan. 

Manusia menjadi manusia karena mampu bertanya, pernah salah, lupa, dan berjuang mencari jawaban serta bertanggungjawab atas pilihannya. Ketika proses berpikir dan mencari telah didelegasikan kepada sistem mesin cerdas, siapa sebenarnya subyek atau agensi yang bertanggungjawab secara moral?  Kecerdasan buatan mungkin memiliki intelligence yang semakin tinggi. Tetapi kecerdasan bukanlah kebijaksanaan. Secanggih apapun teknologi dia tak akan pernah bertanya tentang makna dan tujuan hidup. Algoritma bekerja berdasarkan rekam jejak masa lalu yang membentuk pola lalu menjadi referensi untuk memprediksi masa depan. Sedangkan manusia memiliki kemampuan untuk memutus pola tersebut. Manusia mengenal konsep pertobatan. Ketika manusia kehilangan kemampuan untuk merenung, meragukan, membayangkan, berempati, berharap, dan memilih hidup baru secara sadar, yang hilang bukan sekadar privasi, tetapi esensi kemanusiaan itu sendiri.

Penulis: Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari harianmuria.com
Tags: Artikelkecerdasan artifisialteknologi informasiteknologi modern
SummarizeShare42SendShare
Previous Post

3 Bulan Dilanda Kekeringan, Air Sumur Warga Plumbungan Pati Berubah Asin

Next Post

Algo Sapiens: Ketika Manusia Dikendalikan Mesin

ulfa puspa

ulfa puspa

Berita Terkait

Tata Cara Salat Istisqa dan Bacaan Doanya

Tata Cara Salat Istisqa dan Bacaan Doanya

by ulfa puspa
8 September 2026
621

Harianmuria.com – Musim kemarau berdampak menyusutnya sumber air bersih sehingga masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk konsumsi maupun aktivitas harian. Kemarau juga mengakibatkan vegetasi mudak kering sehingga rawan...

Waspada Kejahatan Siber, 399 Pelajar di Kudus Dibekali Pengetahuan AI

Waspada Kejahatan Siber, 399 Pelajar di Kudus Dibekali Pengetahuan AI

by Sekar Sari
7 September 2026
533

KUDUS, Harianmuria.com - Sebanyak 399 siswa SMK Negeri 1 Kudus mengikuti Pelatihan Paham AI (Artificial Intelligence) yang digelar Polres Kudus, Senin, 7 September 2026. Kegiatan ini menjadi upaya...

Wujudkan Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKNT IPB Hadir dengan Program SYNERA

Wujudkan Ketahanan Pangan dan Pertanian Berkelanjutan, Mahasiswa KKNT IPB Hadir dengan Program SYNERA

by ulfa puspa
29 Juli 2026
620

DEMAK, Harianmuria.com - Bawang merah dan ubi jalar telah menjadi komoditas holtikultura utama Desa Kotakan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak. Praktik pertanian bawang merah yang intensif mendorong petani Desa...

Jejak Sejarah dan Makna Laku Spiritual 1 Suro di Surakarta

Jejak Sejarah dan Makna Laku Spiritual 1 Suro di Surakarta

by ulfa puspa
16 Juni 2026
787

Harianmuria.com – Malam Satu Suro yang bertepatan dengan malam 1 Muharram dalam kalender Hijriah, kerap dijadikan momentum yang penuh nuansa spiritual dan sakral bagi masyarakat Jawa. Tradisi perayaan...

Load More

BERITA UTAMA

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

Investor Jepang Ingin Bangun Pabrik Biometan di Blora, Bupati: Lirik Potensi Limbah Pertanian

16 Oktober 2026
524
Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

15 Oktober 2026
526
RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

RSU Permata Tambah 10 Unit ICU Baru, Bupati Blora: Utamakan Keselamatan Pasien

14 Oktober 2026
530
Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

Rembang Bisa Hemat Rp300 M Jika Gaji PPPK Dibayar Pusat, Bupati: Tapi TKD Harus Tetap

13 Oktober 2026
545

TRENDING HARI INI

  • SPPG di Kendal Wajib Ambil Telur dari Peternak Lokal dengan Harga Rp26 Ribu

    Masih Ada SPPG Tak Serap Telur Lokal, Peternak Kendal Minta BGN Tindak Tegas

    208 shares
    Share 83 Tweet 52
  • Kemarau Panjang, Warga Sambongrejo Blora Mulai Krisis Air Bersih

    100 shares
    Share 40 Tweet 25
  • DPU Semarang Keruk 33 Sungai Hingga Benahi Drainase Jelang Musim Hujan

    98 shares
    Share 39 Tweet 25
  • KPK Tangkap Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo: Diduga Suap BPK dan Pengadaan Barang Jasa

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Gubernur Jateng Tanggapi Kabar Bupati Klaten Terjaring OTT KPK

    96 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Didanai APBN Rp400 Juta, Pemkab Kudus Buka 5 Kelas Pelatihan Kerja

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
  • Festival Literasi Blora 2026 Digelar 4 Hari, Bupati Dorong Budaya Baca hingga Desa

    95 shares
    Share 38 Tweet 24
Harian Muria

Harian Muria Merupakan Media Online Tersertifikasi Dewan Pers Dengan Nomer 1287/DP-VERIFIKASI/K/X/2024

Penerbit :
PT. Mediatama Anugrah Pers
SK. Kemenkumham RI Nomor : AHU-0008754.AH.01.01.TAHUN 2023

PILIHAN EDITOR

Kronologi Dugaan Keracunan MBG di Gembong Pati, Pihak Sekolah Sebut Ada Keterlambatan

Kronologi Dugaan Keracunan MBG di Gembong Pati, Pihak Sekolah Sebut Ada Keterlambatan

9 September 2026
572
Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga aktif menekan kasus DBD lewat Program Cendana Emas dengan Grebeg Jentik dan edukasi 3M Plus.

Cendana Emas: Strategi Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga Tekan Kasus DBD

26 Juli 2025
655

IKUTI SOSMED KAMI

  • Peta Situs
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Daerah
    • Blora
    • Demak
    • Grobogan
    • Jepara
    • Kendal
    • Kudus
    • Pati
    • Rembang
    • Semarang
  • Artikel
    • Biografi
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Lifestyle
    • Parenting
    • Silabus & RPP
    • Tips
    • Travelling
  • Box Redaksi
  • Kerjasama & Iklan

© 2026 Harian Muria - Portal Berita Muria Raya dan Sekitarnya