JAKARTA, Harianmuria.com – Sebanyak 69 finalis dari sembilan negara berkompetisi dalam Country-to-Country Capture the Flag (C2C-CTF) 2026 di Bali.
Mereka merupakan peserta yang lolos dari proses seleksi yang diikuti 712 peserta asal 38 negara. Kompetisi keamanan siber internasional ini diselenggarakan Universitas Indonesia (UI) melalui Fakultas Teknik (FTUI) bersama Universitas Udayana.
C2C-CTF 2026 berlangsung di Padma Resort Legian, Bali, pada 11-13 Agustus 2026. Kompetisi tersebut menjadi arena untuk menguji kemampuan keamanan siber sekaligus mempertemukan peserta dalam kolaborasi lintas negara.
Berbeda dari kompetisi yang mempertemukan perwakilan negara atau universitas secara langsung, C2C-CTF menggabungkan peserta dari berbagai universitas dan negara ke dalam tim multinasional.
Format tersebut membuat peserta harus bekerja sama, berkomunikasi, dan menyelesaikan tantangan secara kolektif. Kolaborasi ini dirancang untuk membangun sinergi lintas negara dalam menghadapi ancaman digital yang semakin kompleks.
Pada pertandingan utama 12 Agustus 2026, para finalis menghadapi 29 tantangan dengan tingkat kesulitan mudah, menengah, hingga sulit.
Tantangan tersebut mencakup tujuh kategori, yakni Web, Pwn, Crypto, Reverse, Forensics, Blockchain, dan Misc. Materi kompetisi dirancang untuk menguji kemampuan analisis teknis serta daya adaptasi peserta ketika bekerja di bawah tekanan.
Ketua Panitia C2C-CTF 2026 I Gde Dharma Nugraha mengatakan, persiapan kompetisi telah dilakukan sejak pertengahan 2025.
Menurut Dharma, C2C-CTF tidak hanya ditujukan untuk menemukan talenta terbaik di bidang keamanan siber, tetapi juga menjadi wadah pertukaran pengetahuan dan pengembangan jejaring akademik internasional.
Gubernur Bali Wayan Koster secara resmi membuka C2C-CTF 2026 dengan pemukulan gong. Pembukaan turut diisi sambutan dari sejumlah tokoh nasional dan internasional.
Akademisi Keio University Satoru Tezuka menekankan pentingnya kerja sama global dalam menghadapi ancaman keamanan siber yang tidak mengenal batas negara.
“Keamanan siber tidak mengenal batas negara. Kita rentan terhadap serangan dari belahan dunia mana pun. Oleh karena itu, kolaborasi antaruniversitas terkemuka sangatlah penting,” kata Satoru.
Rektor UI Heri Hermansyah mengatakan keamanan siber kini berkaitan langsung dengan layanan publik, aktivitas ekonomi, komunikasi, hingga ketahanan institusi.
“Harapannya, partisipan dalam kompetisi ini dapat menguji pengetahuan mereka sekaligus menjadi bagian dari lahirnya generasi profesional siber yang tangguh,” kata Heri.
Dukungan pemerintah disampaikan Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Alexander Sabar yang hadir mewakili Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid.
Alexander menyoroti kesenjangan antara peningkatan ancaman siber dan kapasitas sumber daya manusia nasional. Menurutnya, kompetisi keamanan siber dapat membantu membentuk lulusan yang adaptif dan tangguh dalam menghadapi tekanan.
“Kompetisi seperti ini bukan sekadar lomba, melainkan cara membentuk lulusan dengan pola pikir adaptif dan kemampuan tangguh di bawah tekanan,” kata Alexander.
Selain kompetisi utama, rangkaian C2C-CTF 2026 mencakup lokakarya teknis, focus group discussion (FGD), serta kegiatan pengembangan kapasitas bertajuk “Amazing Trace”.
FGD menjadi forum untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi akademik dan riset sekaligus memperluas jejaring kepakaran di bidang keamanan digital.
Dalam babak grand final, tim METWO meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati tim PTR-CAT, sedangkan Team 7 meraih peringkat ketiga.
Mahasiswa UI Evandita Wiratama Putra turut berlaga sebagai anggota Team 7. Komposisi multinasional dalam tim-tim pemenang mencerminkan semangat kolaborasi lintas batas yang menjadi bagian penting dari C2C-CTF.
Penyelenggaraan C2C-CTF 2026 didukung International Cyber Security Center of Excellence (INCS-CoE), Universitas Udayana, Keio University, PT Spentera, Hitachi, PT Pertamina, PT Telkom, CompTIA, Huawei, DAMRI, Biznet, CSIRT.ID, dan idCARE.UI.
Melalui kompetisi tersebut, UI berupaya memperkuat ekosistem keamanan siber melalui pendidikan, pengembangan talenta, riset, dan kolaborasi internasional.
C2C-CTF 2026 sekaligus menjadi bagian dari kontribusi UI dalam membangun ketahanan digital Indonesia di tengah ancaman siber global yang semakin kompleks.
(Hms/Harianmuria.com)







