BLORA, Harianmuria.com – Serangan hama tikus di Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora, semakin meluas. Dari 25 desa, sebanyak 22 desa dilaporkan terdampak. Hama pengerat itu tidak hanya merusak tanaman padi, tetapi juga jagung, tebu, timun, tomat, hingga cabai.
Meluasnya serangan membuat sejumlah petani memilih membiarkan lahannya tidak ditanami. Mereka khawatir tanaman yang sudah dibudidayakan kembali rusak sebelum menghasilkan panen.
Bahkan, tiga desa yang sebelumnya relatif aman, yakni Dringo, Gunungan, dan Kajengan, kini mulai ditemukan serangan tikus.
Petani Desa Karanganyar, Saifuddin, mengatakan gangguan tersebut sudah dirasakan sejak akhir 2024. Namun, dalam perkembangannya, jumlah tikus semakin banyak hingga menyebabkan tanaman gagal dipanen.
“Sekarang tidak ada tanaman. Tahun lalu ada yang menanam, tetapi habis. Tebu tidak bisa panen, padi juga begitu,” ujar Saifudin, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut Saifuddin, kerusakan terjadi sejak tanaman masih berada pada fase awal pertumbuhan. Pada padi, tikus menggigiti batang hingga tanaman roboh. Sementara pada jagung, serangan berlangsung sejak tanaman masih muda dan ketika berbuah hanya menyisakan bonggol.
Tanaman tebu pun tak luput dari serangan. Bagian bawah batang digerogoti hingga menyebabkan tanaman tumbang.
Saifudin mengatakan beragam metode pengendalian telah dicoba petani, tetapi belum mampu menghentikan serangan secara menyeluruh.
“Berbagai upaya sudah kami lakukan. Mulai racun tikus, gropyokan, pagar plastik, berjaga malam, hingga membuat rumah burung hantu. Namun, hasilnya belum maksimal,” ungkapnya.
Kondisi tersebut turut memengaruhi perekonomian warga. Sejumlah petani mulai meninggalkan aktivitas pertanian dan beralih menjadi kuli pasir maupun buruh kasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menurut Saifuddin, perantauan juga menjadi pilihan bagi sebagian warga, termasuk anak muda lulusan SMK. Mereka memilih bekerja di Sumatera dan Kalimantan, terutama di sektor pertambangan yang dianggap menawarkan penghasilan lebih baik.
“Sudah dua tahun ada tanduran tapi tidak panen. Tidak menutup modal awal, diganggu tikus, belum lagi modal pupuk,” tambahnya.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan dan Perikanan (DP4) Blora Ngaliman membenarkan tingginya populasi tikus di wilayah Todanan. Ia menyebut kondisi musim hujan yang mendukung aktivitas bercocok tanam turut membuat ketersediaan makanan bagi tikus terjaga.
“Musim hujan kemarin bagus untuk menanam. Sehingga tikus beranak terus karena tersedia pangan,” jelasnya.
Pemkab Blora, lanjut Ngaliman, telah melakukan upaya pengendalian bersama kelompok tani di wilayah terdampak. Langkah yang dilakukan antara lain pemberantasan hama secara bersama-sama serta penyediaan pestisida.
Untuk penanganan jangka panjang, pihaknya juga mendorong pengembangan rumah burung hantu sebagai salah satu metode pengendalian populasi tikus secara alami.
“Selain itu, rumah burung hantu dikembangkan sebagai pengendalian jangka panjang,” singkatnya.
Koordinator Penyuluh Pertanian Todanan, Heri, menambahkan bahwa serangan besar-besaran tersebut diduga berkaitan dengan perpindahan tikus dari kawasan hutan menuju lahan pertanian.
Ia menduga berkurangnya sumber makanan di kawasan hutan mendorong tikus mencari sumber pangan baru di persawahan. Saat kemarau, hewan tersebut juga cenderung berkumpul di lokasi yang memiliki sumber air.
“Jagung habis dari hutan kelihatannya mereka migrasi ke sawah. Itu yang membuat serangannya masif,” ujarnya.
Jurnalis: Eko Wicaksono
Editor: Rosyid











