SEMARANG, Harianmuria.com – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) menyiapkan koridor baru Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng yang menghubungkan Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung. Koridor Gelangmanggung (Magelang–Temanggung) ditargetkan mulai melayani masyarakat pada Agustus 2027.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengatakan persiapan koridor tersebut telah memasuki tahap kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota yang menjadi wilayah layanan.
Menurutnya, Pemprov Jateng telah menyelesaikan nota kesepakatan atau Memorandum of Understanding (MoU) serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan pemerintah daerah terkait.
Untuk tahap awal, sebanyak 14 armada disiapkan melayani koridor Gelangmanggung. Pemerintah provinsi juga berencana melibatkan pengusaha angkutan lokal, terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengemudi.
“Polanya nanti scraping. Jadi di sana ada berapa angkutan trayek, kemudian pengusaha-pengusaha, kita rangkul. Paling tidak ya sopir-sopirnya akan merupakan tenaga kerja yang awalnya ada dan bersedia ikut,” katanya saat ditemui di Kantor Gubernur Jateng baru-baru ini.
Djatmiko menyebut jumlah halte atau shelter yang akan digunakan pada koridor tersebut belum ditetapkan. Pemprov masih mematangkan pola pemberhentian seiring persiapan operasional layanan baru.
Menurutnya, jumlah titik pemberhentian nantinya diperkirakan cukup banyak. Halte dan terminal juga akan diarahkan menjadi titik perpindahan penumpang dari satu moda ke moda lainnya.
“Tetapi saya yakin banyak nanti pemberhentiannya. Karena kami juga minta agar titik-titik halte, terminal itu, menjadi titik pertemuan antar moda transportasi,” terangnya.
Konsep layanan Trans Jateng pada koridor tersebut akan menggunakan sistem transportasi yang saling terhubung. BRT Trans Jateng berperan melayani perjalanan dalam skala subregional, sedangkan angkutan kota dan angkutan perdesaan disiapkan untuk menghubungkan penumpang dari halte atau terminal menuju wilayah tujuan.
“Jadi kami ingin terintegrasi. Di mana angkutan kota atau perdesaan, fungsinya seperti feeder. Tujuannya, menghidupkan kembali angkutan kota atau pedesaan yang selama iniz memang agak mulai surut,” jelasnya.
Skema tersebut diharapkan tidak hanya mempermudah mobilitas masyarakat, tetapi juga menghidupkan kembali angkutan umum lokal yang selama ini mengalami penurunan pengguna.
Pemprov Jateng menilai integrasi antarmoda dan konektivitas antar-koridor menjadi bagian penting dalam memperluas cakupan layanan Trans Jateng. Dengan jaringan yang semakin terhubung, masyarakat diharapkan memiliki alternatif perjalanan yang lebih mudah sehingga ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat berkurang.
Selain memperluas jaringan, Pemprov Jateng mempertahankan tarif khusus bagi kelompok masyarakat tertentu. Pelajar, mahasiswa, buruh, veteran, dan lansia dikenakan tarif Rp1.000.
Besaran tersebut merupakan penurunan dari tarif sebelumnya Rp2.000. Ketentuan tarif tersebut mengacu pada Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 100.3.3.1/124 tertanggal 30 April 2025 tentang Tarif Angkutan Aglomerasi Perkotaan Trans Jateng.
Saat ini, layanan Trans Jateng telah mencakup tujuh koridor dengan total 115 armada bus. Jaringannya tersebar di empat wilayah pengembangan, yakni Kedungsepur, Solo Raya, Banyumas Raya, serta Purworejo-Magelang.
Jurnalis: Rizky Syahrul Al-Fath
Editor: Rosyid











